MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Bukan Sebenarnya



Chalinda melihat ke arah pintu masuk ruangan, di sana seorang wanita melangkah masuk ke dalam kamar inap Chalinda smbari membawa sebuah bungkusan plastik berwarna putih.


Isi dalam plastik tersebut tidak bisa Chalinda intip karena memang warna plastiknya terlalu pekat.


Dari atas ranjang tempat tidurnya, Chalinda menganggukkan kepala.


"Kenapa Ibu sudah ada di sini? Kemana Ibuku?" tanya Chalinda, sembari menyapukan pandang ke seluruh ruangan.


"Iya, Ibu, Ayah dan Artha sedang pulang terlebih dahulu. Aku menggantikan mereka," jawabnya, sembari tersenyum ramah.


"Apa Ibu di sini sendirian?" tanya Chalinda.


"Seperti yang kamu lihat, Cha. Tidak ada seorangpun di dalam ruangan ini selain aku dan kamu," jawabnya.


"Ayah nggak ikut?" tanya Chalinda.


"Ayah Artha harus berangkat bekerja. Dia adalah seorang wakil kepala sekolah. Maklum saja, pekerjaan dia memang membutuhkannya lebih banyak," jawabnya dengan begitu tenang.


Sedari tadi, Ibu Artha itu mengeluarkan isi dari dalam plastik putih yang dibawanya. Beberapa dipisahkan dari yang lain.


Chalinda kali ini bisa melihat dengan jelas apa saja yang ada dalam bungkusan itu. Beberapa sepertinya adalah bungkusan makanan karena dibungkus menggunakan kertas minyak dan sebuah karet.


Sementara yang lainnya, Chalinda melihat beberapa gelas air mineral, buah-buahan beraneka jenis dan beberapa makanan ringan seperti keripik kentang kemasan.


"Kamu mau sarapan sekarang, Cha?" tanyanya.


Chalinda belum ingin menyantap makanan pagi ini. Membayangkan nasi putih dengan lauk rendang sekalipun Chalinda merasa perutnya langsung mual.


Kepala perempuan itu menggeleng. Chalinda kemudian kembali mengambil segelas teh hangat dan mulai menyesapnya kembali.


"Eh, mau kemana, Cha?" tanya Ibu Artha saat melihat Chalinda mulai menurunkan kedua kakinya dari atas ranjang.


"Pengin jalan-jalan keluar sebentar, Chalinda merasa bosan di sini terus dari tadi malam," jawab Chalinda, sembari berusaha untuk berdiri.


"Biar Ibu bantu, pakai kursi roda, ya? Sebentar Ibu ambilkan dulu," ujarnya.


Belum juga Chalinda sempat menolak untuk tidak perlu mengambil kursi roda, tapi Ibu Artha sudah berlalu meninggalkan ruangan rawat Chalinda menginap.


Sembari menunggu Ibu Artha datang dengan kursi rodanya, Chalinda berusaha untuk berdiri.


Akhirnya Chalinda berhasil berdiri tanpa berpegangan pada ranjang rumah sakit, meskipun kedua lututnya bergetar seperti tidak mampu menopang berat badan Chalinda.


Chalinda berusaha untuk berjalan perlahan, kali ini kedua tangannya turut membantu langkah kedua kakinya.


Gadis itu benar-benar merasakan tubuhnya yang terasa begitu lemas. Padahal jika hanya duduk di atas ranjang saja, Chalinda tidak merasakan apapun. Tapi entah kenapa saat berjalan meskipun baru beberapa langkah saja, Chalinda sudah merasa begitu lelah.


"Eh, eh, eh, Chalinda ... kan udah Ibu bilang tunggu sebentar," ujar Ibu Artha, datang mendekat dengan kursi roda yang sudah dia ambil.


"Nggak papa kok, Bu. Chalinda masih bisa jalan, lagipula nggak bagus juga kan kalau cuma diam nggak gerak," ujar Chalinda, berpura-pura tetap terlihat kuat.


"Iya, tapikan kamu belum pulih banget, Cha. Masih kerasa lemas, kan?" tanya Ibu Artha.


Dengan menggunakan kursi roda dari rumah sakit tersebut, Chalinda akhirnya berhasil keluar dari ruangan dengan bantuan Ibu Artha yang mendorong kursi rodanya.


Seketika Chalinda merasa bersalah karena sudah berpikir buruk tentang orang tua Artha tadi malam. Ternyata jika sudah kenal semakin dekat, Chalinda bisa merasakan kebaikan dan keramahannya, terutama Ibu Artha.


Sepanjang koridor rumah sakit, wanita itu dengan sabar mendorong kursi dengan beban seorang gadis berusia tujuh belas tahun yang mau tidak mau harus menjadi menantunya.


Chalinda sendiri sebenarnya merasa tidak enak dengan Ibu Artha. Wanita itu tidak seharusnya membantu dirinya untuk mendorong kursi roda dan menemaninya keluar dari ruangan hanya untuk sekedar penyegaran diri.


Terbesit rasa ingin kembali lagi ke ruangan agar Ibu Artha tidak perlu mendorong kursi roda itu lagi, namun jarak mereka sudah lebih dekat dengan taman.


Dua menit kemudian, Chalinda akhirnya sampai di taman bermain. Biasanya pada jam besuk, taman itu penuh dengan anak-anak ataupun orang-orang yang hendak dan telah menjenguk kerabatnya. Namun pagi ini, yang ada sepertinya hanya keluarga dari pasien saja.


Kursi roda itu berhenti di depan sebuah pancuran yang dibawahnya ada kolam ikan. Berpuluh-puluh ikan koi dari mulai ukuran kecil hingga besar ada di dalam kolam tersebut. Berenang ke sana ke mari entah apa yang mereka cari.


Mengedarkan pandangan ke seluruh taman rasanya begitu menyegarkan. Tumbuhan hijau ada di sekeliling taman bermain tersebut. Meskipun letaknya ada di dalam rumah sakit, namun Chalinda benar-benar relaks dan seakan tidak sadar jika dirinya ada di dalam rumah sakit tersebut.


Rasanya seperti Chalinda sedang berada di sebuah taman kota yang sepi dengan beberapa pengunjung saja. Tenang, ditambah lagi dengan semilir angin sepoi-sepoi yang menyejukkan.


"Kamu mau dimana, Cha?" tanya Ibu Artha, dengan kedua tangan yang masih ada pada kursi roda, bersiap untuk mendorongnya lagi jika Chalinda ingin ke sesuatu tempat yang lain.


"Di sini saja, Bu. Adem banget, Chalinda suka," ujar Chalinda, sembari memejamkan kedua matanya.


Gadis itu menikmati suasana yang ada dalam taman rumah sakit itu. Hembusan angin pagi yang dingin menerpa wajahnya terasa begitu segar.


"Kamu mengingatkan aku dengan anak gadis Ibu," ujar Ibu Artha yang kini sudah duduk di bangku taman bersebelahan dengan kursi roda Chalinda.


Chalinda menoleh ke arah Ibu Artha, wajahnya terlihat bersedih, dengan pandangan mata yang kosong menatap ke depan.


"Apa Pak Artha punya saudara perempuan?" tanya Chalinda.


Seketika Ibu Artha menoleh ke arah Chalinda. Wanita itu juga menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ti--tidak, Cha. Lupakan saja."


"Ada apa, Bu? Apa yang terjadi dengan saudara Pak Artha? Kalau bisa ceritakan saja kepadaku, Bu," ujar Chalinda, memaksa ingin tahu dengan apa maksud dari kalimat yang diucapkan wanita tersebut.


"Lupakan saja, Cha. Tidak ada apapun. Artha juga tidak punya saudara perempuan. Dia anak kami satu-satunya," jelas Ibu Artha.


"Lalu kenapa tadi Ibu bilang jika aku membuat Ibu teringat anak gadis Ibu? Anak gadis yang mana?" tanya Chalinda, penasaran.


"Anak gadis ... dulu Ibu sempat bertemu dengan anak gadis dan merawatnya beberapa hari, Cha. Sudahlah, lupakan saja," ujarnya.


"Tidak, Bu. Aku yakin Ibu pasti berbohong," ujar Chalinda begitu saja.


"Kok kamu berani menuduh Ibu begitu, Cha? Tega kamu, ya," ujarnya, tampak kesal.


"Ibu bukan orang tua asli Pak Artha, kan?" tanya Chalinda begitu saja, menghiraukan kalimat yang dikatakan oleh Ibu Artha barusan.


Wanita itu terdiam, membuat Chalinda semakin yakin dengan pemikirannya. Entah kenapa Chalinda bisa seberani ini. Mungkin jika Liya ada di dekatnya juga, Chalinda akan memilih terus memendam rasa penasarannya terus menerus.


"Kamu ini sembarang ya, Cha. Mana mungkin Artha bukan anak kami. Dia itu anak laki-laki kami satu-satunya."