
"Tidak, Pak. Aku dan ibuku benar dalam hal ini. Aku ada buktinya, aku melihat sendiri bagaimana Bu Erina ini bekerja sama dengan Daphnie. Bu Erina menambahkan nilai-nilai dalam beberapa mata pelajaran untuk membayar Daphnie yang sudah bercerita tentang hal tersebut, sama persis dengan apa yang ada dalam unggahan akun sosial media palsu tersebut," ujar Chalinda, tetap membela hak kebenarannya.
"Iya, Chalinda. Iya kalau seperti itu menurut kamu. Tapi tidak ada bukti di sini dan kamu nggak bisa kalau cuma ngomong doang tanpa ada bukti nyata, Cha. Saya juga nggak bisa percaya dengan kamu begitu saja kalau nggak ada buktinya," ujar kepala sekolah dengan begitu tegas.
"Tapi, Pak--"
"Gini aja, Chalinda," potong kepala sekolah dengan segera.
Laki-laki itu lantas melanjutkan kembali perkataannya, "Saya beri waktu kamu selama dua hari. Jika kamu berhasil menemukan buktinya dan membawa ke hadapan saya dan semua orang yang ada di sini, saya akan memberikan konsekuensi yang setimpal kepada Bu Erina. Tapi jika tidak ... maaf, dengan sangat terpaksa Bapak akan mengeluarkan kamu dari sekolah."
"Ta--tapi, Pak ... boleh saya meminta keringanan untuk hukuman yang akan saya terima?" ujar Chalinda dengan sedikit memohon.
Namun sayangnya kepala sekolah justru mengangkat kedua tangannya di depan dada dengan posisi terbuka dan mnegarah ke Chalinda. "Sayangnya tidak, Cha. Kami juga sudah sangat ketar-ketir untuk tetap menyembunyikan kamu dalam sekolah ini. Murid yang hamil karena orang lain saja tidak bisa ditolerir, apalagi ini oleh guru, bahkan walikelasnya sendiri."
"Itu kan bukan salah saya, Pak!" bantah Chalinda sembari beranjak dari duduknya, perempuan itu tidak lagi dapat menahan emosi yang meluap dalam diri.
"Maaf, Cha. Tapi kamu sudah mengandung anak dia," ujar kepala sekolah, suaranya begitu tenang dan lembut, tidak ingin membuat emosi dalam diri Chalinda semakin meluap.
Masih dengan posisi berdiri, Chalinda melihat ke arah Artha yang segera menundukkan kepala.
Chalinda menganggukkan kepalanya seraya tetap melihat ke arah Artha. Gadis itu sudah tidak bisa lagi menahan air mata yang akan segera keluar dari ujung kedua netranya.
Tanpa bersuara dan mengatakan apapun lagi, Chalinda segera melangkahkan kedua kakinya menjauh dan keluar dari ruang kepala sekolah.
Satu langkah kakinya keluar dari ruangan tersebut, air matanya segera tumpah membasahi kedua pipinya dan mengalir bebas begitu saja.
Chalinda yang tidak ingin kembali ke kelas itu memutuskan untuk menuju halaman belakang sekolah yang sepi itu untuk menenangkan dirinya.
Segala rencana masa depan yang sudah terekam dalam memori pikirannya segera terputar begitu saja, membuat Chalinda semakin merasa sedih karena masa depannya sudah hancur begitu saja.
Semua itu karena Artha dan bayi yang ada dalam kandungannya. Lagi-lagi kedua tangan Chalinda memukul-mukul perutnya sendiri sembari meraung menangis.
Seseorang yang mendengarnya segera mendekat ke halaman belakang dan menemui Chalinda di sana. Seseorang itu tidak lain adalah ibu penjaga salah satu kantin yang ada dalam sekolah tersebut.
"Eh, eh, kenapa, Nak? Kenapa menangis seperti itu?" ujarnya sembari memegangi kedua tangan Chalinda agar tidak lagi memukuli perutnya sendiri.
Namun Chalinda sudah tidak lagi perduli dengan apapun yang ada di sekitarnya. Chalinda terperosok dalam ke jurang kesedihan dalam hidupnya. Keinginan Chalinda juga sudah kuat dan begitu bulat untuk meniadakan janin yang ada dalam kandungannya.
Yang Chalinda inginkan sekarang hanyalah menjadi remaja biasa yang melakukan kegiatan sehari-harinya dengan normal. Belajar, bermain, menikmati masa muda dengan penuh kesenangan.
Dalam pikiran Chalinda saat ini, semua itu bisa dilakukan hanya dengan cara meniadakan calon bayi manusia dalam rahimnya itu. Hanya itu satu-satunya cara agar Chalinda bisa kembali diterima oleh dunia.
Tubuh Chalinda meliuk dan bergerak dengan cepat membuat ibu penjaga kantin itu kesulitan dalam menenangkan Chalinda. Apalagi tangisan perempuan itu juga semakin keras begitu juga dengan pukulan kedua tangannya pada perutnya sendiri.
"Istighfar, Nak. Nggak boleh seperti ini, ya," ujar ibu penjaga kantin itu tetap berusaha untuk menenangkan Chalinda.
Namun hasilnya nihil dan perjuangannya sia-sia saja. Chalinda tetap melakukan hal yang ingin dia lakukan.
"Chalinda, Cha ... jangan ya, Nak. Dosa kamu Cha kalau sampai bunuh dia. Ibu nggak mau kamu jadi jahat kaya gini, Cha," ujar Liya yang entah sejak kapan perempuan itu tahu dan datang ke halaman belakang sekolah.
Perkataan ibunya itu bak sebuah sihir yang langsung membuat seseorang mau menuruti segala perkataanya. Chalinda berhenti meraung meskipun masih saja menangis. Gadis itu lantas jatuh ke pelukan ibunya.
Kedua tangan Chalinda tidak lagi memukuli perutnya sendiri, meskipun tangisannya masih jelas terdengar begitu menyedihkan.
Sementara itu dalam pandangan mata Chalinda yang sedikit buram karena air mata terus saja mengalir, gadis itu melihat ibu kantin yang pergi setelah ibunya datang.
"Tapi ini bukan salah Chalinda, Bu ... Ibu percaya sama Chalinda kan kalau Chalinda nggak salah?" ujar Chalinda di sela isak tangisnya.
Liya menganggukkan kepala. "Iya, iya, Chalinda. Nggak ada yang salah tentang kamu, Nak."
"Ini anak Pak Artha, kalau anak ini mati ya dia yang berdosa. Dan Chalinda mau dia mati sekarang juga, Bu. Chalinda udah lelah, Chalinda udah nggak kuat, Chalinda nggak mau lagi hidup kaya gini. Menutupi sesuatu dari dunia itu nggak enak, Bu. Lebih baik Chalinda mengorbankan dia aja biar hidup Chalinda bisa normal lagi," ujar Chalinda sembari melihat ke arah ibunya.
Tentu saja Liya merasa terkejut bukan main saat mendengar kalimat tersebut diucapkan oleh anak gadisnya. Liya tidak ingin jika anaknya menjadi seorang pembunuh.
"Tidak, Cha. Meskipun ini bukan salah kamu, kamu tetap tidak bisa melakukan hal tersebut. Bayi yang ada dalam kandungan kamu itu tidak bersalah, Nak, dia juga tidak ingin terlahir sebagai anak kamu dan Artha. Nak, hidup itu berputar, kamu sedang dalam posisi terendah sekarang, namun tidak mustahil juga jika nanti kamu akan kembali berada di posisi teratas," jelas Liya.
"Tapi, Bu. Ini sudah sangat meresahkan dan tidak bisa dibiarkan. Kalau gitu aku bakal minta Artha langsung buat menggugurkan janin ini," ujar Chalinda.
"Nak, plis, jangan bertindak ceroboh seperti itu," ujar Liya, memohon agar Chalinda tidak membiarkan bayinya.
"Bagaimanapun juga bayi itu tidak salah, kamu juga tidak salah, kamu yang sabar, kamu pasti bisa," ujar Liya, perempuan itu lantas memeluk kembali anak gadisnya.
"Nggak bisa, Bu. Chalinda udah nggak kuat, udah nggak tahan sama semua ini. Chalinda harus mengakhirinya saat ini juga."