MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Kehadiran Ibu



"Cha, ayolah. Kamu nggak usah terlalu memperdulikan orang lain. Sekarang yang terpenting adalah diri kamu sendiri. Aku tahu betul kok kamu ini bagaimana. Kamu kan selalu pengin belajar, belajar dan belajar. Bahkan dulu kamu sampai nggak rela ke toilet di tengah jam pelajaran sekolah, biar kamu nggak ketinggalan pelajaran beberapa menit saja."


"Please, Cha. Mana jiwa ambisimu yang dulu? Jangan kaya gini dong. Walaupun aku juga sebenarnya pengin dapat nilai lebih tinggi dari kamu, tapi itu hanya acuan aku aja. Selama dua tahun ini kamu selalu menjadi alasan aku untuk terus belajar dan berusaha karena aku pengin dapat nilai sama atau kalau bisa lebih tinggi daripada kamu. Tapi bukan berarti aku membencimu karena aku belum bisa melakukan itu, aku justru semakin bersemangat."


"Kalau begini ceritanya ... bisa-bisa aku nggak semangat lagi buat belajar, Cha, karena nggak ada kamu yang bikin aku semangat. Orang yang jadi acuan aku buat belajar dan dapat nilai tinggi juga nggak semangat."


"Coba deh kamu jangan terlalu memikirkan bagaimana perasaan orang lain. Kamu pikirkan dulu bagaimana perasaan diri kamu sendiri. Aku tahu kamu ini orangnya baik, perduli dan nggak enakan. Tapi jangan sampai karena keperdulian kamu terhadap orang lain, kamu sampai tidak perduli dengan dirimu sendiri."


"Kamu boleh jadi baik dan perduli kaya gitu, tapi pastikan dulu kalau kamu juga udah kaya gitu ke diri kamu sendiri. Kalau belum, itu sama saja kamu nggak adil ke diri kamu sendiri. Kamu menyakiti perasaan hatimu sendiri untuk membuat perasaan orang lain senang. Itu nggak sehat, Cha."


Martha terus berbicara panjang lebar tanpa memberikan waktu untuk Chalinda sedikit mengungkapkan pendapatnya. Namun semakin mendengar pernyataan dari Martha, Chalinda juga semakin mengerti.


Semua yang dikatakan oleh Martha benar dan sekarang Chalinda juga merasakannya. Namun entah mengapa masih ada saja perasaan tidak enak hati yang menyelimuti diri Chalinda dan membuat perempuan itu menomorduakan perasaannya sendiri.


"Udah, yuk. Nanti malah keburu pelajaran di mulai," pungkas Martha, sembari beranjak dari duduknya.


Chalinda melihat ke arah Martha yang sudah berdiri. Gadis itu tersenyum dan melihat ke arah Martha.


"Makasih ya, Tha," ujar Chalinda, sembari bangkit dari duduknya.


"Iya, santai aja. Kan emang teman baik ya harus saling mendukung," ujar Martha, juga sembari tersenyum simpul.


Chalinda yang merasa tidak asing dengan perkataan seperti itu seketika teringat dengan perkataan Daphnie yang kurang lebih sama.


Salah satu dari dua sahabat Chalinda yang justru menghancurkan Chalinda dari belakang. Benar-benar Chalinda tidak bisa menerimanya.


"Eh, kalian dicariin kemana-mana ternyata ada di sini," ujar murid perempuan teman kelas Chalinda dan Martha yang datang dengan nafas yang tidak beraturan dan peluh yang mengalir pada pelipisnya.


"Ada apa emangnya?" tanya Martha, sembari mengernyitkan dahi.


Sementara itu, murid perempuan tersebut nampak sedang mengatur nafasnya untuk selanjutnya mengatakan apa yang hendak dia katakan.


"Hhh ... hhhh, itu loh, ibunya Chalinda ada di ruang kepala sekolah, hhhh ... hhhh ...," ujarnya dengan nafas yang masih ngos-ngosan.


Chalinda yang mendengar hal tersebut begitu terkejut. Kedua matanya terbelalak dan seketika teringat dengan bagimana sore tadi dirinya menangis meraung dalam pelukan Liya karena postingan akun palsu yang kini sudah ketahuan siapa dalang di belakangnya.


Tanpa mengatakan apapun, Chalinda meninggalkan Martha dan salah satu temannya itu. Langkah kedua kaki gadis itu berlari dengan cepat dengan tujuan yang tidak lain adalah ruang kepala sekolah.


Gadis itu terus berlari menuju ruang kepala sekolah. Segala bayangan-bayangan kejadian buruk yang mungkin akan terjadi terus terbayang dalam pikiran Chalinda sepanjang berlari.


Sampai di ruang kepala sekolah, Chalinda menghentikan langkah kedua kakinya di depan ruangan dengan pintu yang terbuka.


Pandangan mata Chalinda sudah melihat dengan jelas adanya Liya, kepala sekolah, guru BK, Erina dan Artha yang duduk di atas sofa dalam ruang kepala sekolah tersebut.


Kedatangan Chalinda membuat semua orang yang ada dalam ruang kepala sekolah itu segera melihat ke arah pintu ruangan tersebut.


Beberapa menit kemudian, Martha dan salah satu teman kelas Chalinda yang lain juga sampai di depan ruang kepala sekolah.


Mereka yang ada dalam ruang kepala sekolah dan luar ruangan saling memandang selama beberapa detik.


"Bu, Ibu ngapain di sini?" tanya Chalinda, sembari menatap ke arah Liya yang nampak menundukkan kepala.


"Ayo, masuk dulu Cha. Kalian kembali ke kelas ya," ujar kepala sekolah yang beranjak dan mendekat ke arah Chalinda.


Chalinda merasakan sebuah tangan yang menepuk pundaknya dua kali.


"Semangat, Cha. Kamu pasti bisa lewati semua ini," ujar Martha sembari berbisik.


Chalinda hanya mengangguk tipis dan beberapa detik kemudian perempuan itu mulai melangkahkan kedua kakinya dengan perlahan masuk ke dalam ruang kepala sekolah.


Pintu ruangan tersebut ditutup dengan begitu rapat dan ruangan kepala sekolah dalam keadaan yang begitu hening, tidak ada satupun yang berbicara.


Kepala sekolah kembali duduk di tempatnya yang semula, sementara itu Chalinda duduk di antara ibunya dan guru BK.


Chalinda benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang sedang coba dilakukan oleh ibunya di sekolah. Padahal sebelumnya, Chalinda sudah mengatakan jika mendatangi Erina di sekolah hanya akan membuat masalah makin rumit dan bahkan berpotensi bisa mengungkapkan fakta yang sebenarnya bahwa Chalinda sedang mengandung anak dari Artha, seorang guru yang digandrungi murid seantero sekolah karena ketampanannya.


"Sudah, semuanya sudah duduk di sini. Saya harap segala permasalahan dapat diselesaikan dengan cara yang sebaik-baiknya. Sekarang otot bukanlah simbol bahwa kita ini kuat. Otot bisa dikalahkan dengan otak, daya pikir. Sekarang, coba saya ingin tahu apa tujuan Ibu Liya datang ke sini? Coba ceritakan yang sejujurnya tanpa ada emosi," ujar kepala sekolah yang kemudian melihat ke arah Liya dengan tenang.


Liya nampak menghela nafasnya. Dan pada saat itu pula Chalinda merasa curiga jika sebelumnya Liya sudah terlebih dahulu menemui Erina. Saat menoleh dan melihat ke arah Erina pun, tampak penampilannya sedikit kusut dan air mukanya begitu kesal melihat ke arah ibu dari Chalinda.


"Jadi gini, Pak. Saya sebagai orang tua dari Chalinda tentu nggak terima dong kalau nama baik anak saya dicemarkan, apalagi sebelumnya anak saya diancam dan disekap lebih dulu di ruang musik. Artha tahu tentang hal ini dan bahkan Artha juga yang udah ngebebasin Chalinda. Saya takut kalau Chalinda selanjutnya akan mendapatkan perlakuan buruk," ujar Liya, berusaha untuk menjelaskan secara lengkap namun singkat.


"Siapa yang menyebarkan cerita di media sosial? Itu bohong. Jatuhnya anda sudah memfitnah saya, Bu!"