MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Reaksi Liya



Tangis Chalinda kembali pecah. Gadis itu segera menghamburkan diri ke arah ibunya.


Tangis Chalinda semakin menjadi kala berada dalam pelukan Liya. Sementara itu Liya hanya bisa terdiam menanti Chalinda merasa tenang.


Hal ini sudah biasa Liya hadapi. Anak gadisnya itu akan menangis dengan keras saat merasa sedih atau ada yang tidak sesuai dengan dirinya. Namun setelah dia tenang, dia akan menceritakan sendiri apa yang menjadi permasalahannya tanpa ditanya.


Liya mengusap punggung Chalinda. Membiarkan salah satu bahunya basah karena air mata dari tangisan Chalinda yang begitu banyak.


Hingga akhirnya sekitar sepuluh menit sudah berlalu. Chalinda sudah tidak lagi menangis histeris seperti beberapa menit yang lalu.


Gadis itu sudah mulai tenang dengan perlahan. Hanya saja masih terdengar suara sesenggukan dari tangisannya.


Dalam beberapa menit kemudian, Chalinda sudah bisa melepaskan pelukannya pada tubuh Liya.


Gadis itu lantas mengambil ponselnya yang dia lempar ke atas ranjang tempat tidurnya. Chalinda menyalakan ponsel tersebut dan mulai memperlihatkannya kepada Liya.


Sementara itu, dengan segera Liya melihat apa alasan yang membuat Chalinda sampai menangis histeris.


Mulai dari unggahan sebuah akun sosial media yang mengaku sebagai Chalinda dan membaca tanggapan dari beberapa rekan Chalinda di aplikasi perepsanan.


Semuanya dibaca dengan begitu teliti oleh Liya. Tidak perlu Chalinda, bahkan Liya yang membacanya juga merasa begitu emosi.


Nafas perempuan itu bahkan sudah begitu berat sebelum selesai membaca semua tanggapan dari teman-teman Chalinda yang ada dalam grup kelas.


"Jadi, Bu Erina telah menyekap kamu di ruang musik?" tanya Liya.


Tatapan mata perempuan itu tajam melihat ke arah Chalinda. Air mukanya begitu serius dalam mengajak Chalinda berbicara.


Melihat hal demikian, Chalinda hanya mampu menganggukkan kepalanya saja. Sejujurnya, Chalinda merasa begitu takut jika sudah melihat ibunya marah.


Namun semuanya sudah terjadi. Chalinda juga tidak bisa menyembunyikan kenapa alasannya menangis dengan begitu histeris kepada Liya sementara perempuan itu melihatnya secara langsung.


"Ini nggak bisa dibiarkan, Cha. Erina itu sudah keterlaluan. Bisa-bisanya dia menyekap kamu!" ujar Liya, suaranya begitu tegas.


Chalinda hanya diam saja sembari menundukkan kepala. Ada sedikit rasa penyesalan dalam dirinya karena sudah menceritakan apa yang terjadi kepada ibunya. Mungkin seharusnya, lebih baik Chalinda menyimpannya sendiri hingga dia merasa sudah menemukan waktu yang tepat.


Kini semuanya sudah dalam kondisi panas. Teman-teman Chalinda sedang mencoba menebak apakah rumor itu benar atau tidak, sementara Chalinda sedang mencurigai seseorang yang berada di balik akun palsu tersebut dan Liya diselimuti amarah usai mengetahui anak gadisnya diperlakukan dengan begitu kejam.


"Erina itu yang bagaimana, Cha? Biar besok Ibu laporkan kepada kepala sekolah agar dia tidak lagi kurang ajar terhadap kamu," ujar Liya, air mukanya begitu menyeramkan.


"Nggak usah, Bu. Nggak perlu seperti itu. Lagipula aku juga sudah memaafkan Bu Erina. Dia tidak sepenuhnya salah," ujar Chalinda, memohon kepada ibunya.


"Tidak salah bagaimana, Cha? Jelas dia sudah melakukan kekerasan dengan menyekap kamu di ruang musik. Untung aja ada Artha yang datang. Kalau nggak, bisa jadi kamu masih di sekolah dan belum kembali. Kamu bisa disakiti lebih parah lagi sama perempuan itu. Kamu kok nggak sampai mikir ke situ sih, Cha?"


Chalinda menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Iya, Bu. Chalinda tahu bagaimana jadinya jika Pak Artha nggak bukain pintu ruang musik itu. Tapi dengan Ibu melaporkannya ke kepala sekolah justru itu juga akan membuat citra Chalinda di sekolah semakin buruk."


"Malah seharusnya si Erina itu harus dilaporkan ke pihak berwajib, Cha. Kamu kenapa malah jadi belain dia, sih?" ujar Liya, suaranya terdengar begitu kesal dengan sikap Chalinda yang terkesan telah membela Erina.


"Bukan begitu, Bu. Chalinda nggak lagi belain Bu Erina. Justru Chalinda sedang belain diri Chalinda sendiri. Bayangkan kalau misalkan Ibu melaporkannya ke kepala sekolah tentang kasus Bu Erina yang menyekap aku di ruang musik. Terus karena itu, akhirnya Bu Erina mengatakan kepada seluruh warga sekolah atau bahkan publik secara langsung jika aku sedang mengandung anak dari Pak Artha. Di sini bukan Bu Erina yang dirugikan, Bu. Tapi pihak sekolah, aku dan tentu saja Pak Artha," ujar Chalinda, berusaha untuk memberikan kejelasan.


"Kalau sudah begitu, artinya Chalinda sudah benar-benar nggak punya masa depan lagi, Bu. Chalinda sudah nggak bisa lanjut sekolah karena sudah mengandung dan Pak Artha juga dikeluarkan dari pekerjaannya sebagai guru di sekolah karena sudah menghamili muridnya sendiri. Aku nggak mau kalau itu sampai terjadi, Bu. Itu seperti sebuah mimpi buruk yang terus coba Chalinda hindari. Hingga sekarang pun Chalinda sedang berusaha agar mimpi buruk itu tidak menjadi kenyataan. Chalinda harap, saat Chalinda sedang mencegah mimpi buruk itu agar tidak menjadi nyata, Ibu juga mendukungnya. Jangan justru mencoba untuk membuat mimpi buruk itu menjadi senyata mungkin," lanjut Chalinda.


Di akhir kalimat, suara gadis itu terdengar begitu lirih. Pada saat itu pula air mata dari kedua ujung netranya kembali menetes. Chalinda benar-benar menyerah jika mimpi buruk itu sampai menjadi kenyataan.


Liya tidak mengatakan apapun lagi. Perempuan itu hanya memeluk tubuh anak gadisnya dengan begitu erat.


Anak gadis itu sudah tumbuh menjadi seorang anak yang begitu pintar. Pikirannya tidak hanya bekerja untuk hari ini saja, tapi dia sudah bisa memikirkan hari-hari ke depan.


"Maafkan Ibu ya, Cha," ujar Liya, lirih kemudian mengecup puncak kepala Chalinda.


Mendengar hal tersebut, Chalinda kembali meneteskan air matanya. Chalinda menyadari sebuah fakta bahwa yang bisa dia andalkan saat ini hanyalah keluarga, karena dengan teman pun Chalinda masih belum bisa mempercayai mereka seratus persen.


***


Langkah kedua kaki Chalinda kini begitu ragu untuk berangkat ke sekolah. Rasanya Chalinda benar-benar tidak siap jika harus bertemu dengan orang-orang yang telah membicarakannya di grup semalam.


Dengan sengaja, Chalinda memperlambat gerakan kedua kakinya. Gadis itu tidak ingin cepat sampai di sekolah. Dengan begitu, dia tidak akan banyak mendengar percakapan dari teman-temannya yang sedang membicarakan dirinya. Mengingat topik yang sedang begitu hangat sekarang adalah mengenai rumor Chalinda yang sedang hamil.


SET!


"Cha, lu beneran hamil?!" ucap seseorang yang baru saja mengusap perut Chalinda.


Pada saat itu pula, beberapa teman-temannya yang sedari tadi hanya duduk di kursi masing-masing mulai beranjak dan mengerumuni Chalinda.


"Hah, serius lu beneran hamil, Cha?!"


"Tapi nggak sama Pak Artha, kan?! Kalau iya aku bener-bener nggak terima, Cha! Dia kan calon suami aku di masa depan!"