MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Pusat Perhatian



Sesaat setelah suara itu terdengar keras, semua mata tertuju ke arah bangku Chalinda dan Daphnie yang ada di baris ketiga dan kolom kedua.


Tidak hanya para teman sekelas Chalinda saja, tapi guru yang sedang mengajar juga menghentikan aktivitasnya menulis di papan tulis. Dia melangkah mendekat ke arah Chalinda.


"Apa kamu baik-baik saja, Cha?" tanya guru tersebut.


Chalinda sedang menahan bau yang terus menerus menyeruak masuk ke dalam indra penciumannya dan membuat perutnya terasa eneg.


Tanpa menjawab pertanyaan dari guru tersebut, Chalinda segera berlari keluar dari dalam kelas.


Sebisa mungkin Chalinda ingin segera sampai di toilet perempuan dekat dengan kelasnya. Semua isi dalam perutnya seakan sudah berada di ujung tenggorokan dan bersiap untuk keluar, apalagi rasa mual dalam perutnya semakin kuat.


"Sebentar, Bu," ucap Daphnie sembari beranjak dari kursinya.


Guru tersebut menganggukkan kepala. Merasa mengerti jika Chalinda pasti membutuhkan seseorang untuk membantunya dalam hal ini.


Pandangan mata guru perempuan tersebut melihat ke arah Daphnie dan Chalinda yang tengah keluar dari ruang kelas sembari berlari. Dia merasakan adanya keanehan pada Chalinda, apalagi setelah indra penciumannya juga mencium aroma bawang goreng yang terasa begitu menusuk.


Guru perempuan itu menjadi sedikit bernostalgia saat dirinya sedang hamil beberapa tahun yang lalu. Dia juga selalu merasa mual kala mencium aroma bawang goreng, padahal sebelumnya dia sangat menyukai bawang goreng dan suka menyantapnya begitu saja tanpa dicampur dengan apapun.


'Ah tidak, mana mungkin Chalinda mengandung. Dia sedang pusing saja, mungkin lambungnya juga bermasalah sehingga dia merasa mual dan kebetulan juga ada aroma bawang goreng dari tetangga yang sedang memasak di sebelah.' Guru tersebut mencoba untuk tetap berpikir positif.


***


HUEEKKK!!! HUEKKK!!!


Chalinda mencoba untuk memuntahkan semuanya, meskipun sudah tidak ada lagi karena dia belum menyantap banyak makanan hari ini.


Air kran dinyalakan dan Chalinda membasuh mulut serta mukanya. Terasa di bagian tengkuk lehernya seseorang memijat bagian tersebut sedari tadi.


Dengan pandangan mata yang buram karena pusing dan juga mata yang berair, Chalinda melihat Daphnie di belakangnya.


"Apa kamu baik-baik saja, Cha?" tanya Daphnie.


Chalinda menggelengkan kepala karena memang perempuan itu merasa dirinya tidak baik-baik saja.


Tubuhnya terasa begitu lemas, seakan tidak ada tenaga lagi bahkan hanya sekedar untuk berdiri.


Chalinda tidak perduli lagi dengan lantai toilet yang kotor dan akan mengenai seragamnya. Perempuan itu mendudukkan tubuhnya di atas lantai toilet yang kering, bersandar pada tembok dengan harapan tenaganya akan kembali pulih dalam waktu sesaat.


Melihat hal tersebut, Daphnie berusaha untuk membangkitkan tubuh Chalinda.


"Cha, jangan di sini, lebih baik kita ke UKS lagi aja yuk," ajak Daphnie.


Namun lagi-lagi, Daphnie hanya mendapatkan gelengan kepala dari Chalinda.


Wajah Chalinda terlihat begitu pucat, kepalanya bersandar lemas pada dinding toilet, tubuhnya terduduk dan seakan pasrah begitu saja, sementara salah satu tangannya digunakan untuk menyangga tubuh dan tangan yang lain tampak berada di bawah perut sembari sesekali mengusapnya.


"Apa perutnya masih sakit?" tanya Daphnie mencoba untuk menebak apa yang dirasakan oleh Chalinda.


Tidak lagi gelengan kepala, sekarang Chalinda menganggukkan kepalanya dengan kedua mata yang terpejam.


"Ayo kita ke UKS saja, di sini kotor, sebentar lagi juga banyak murid yang keluar karena sebentar lagi sudah saatnya bel pulang berbunyi. Aku nggak mau kalau nantinya kamu malah jadi tontonan mereka, Cha. Ayo, aku antar kamu ke sana, pelan-pelan aja. Mau ya?" tawar Daphnie sekali lagi.


Kali ini Chalinda menganggukkan kepalanya. Apa yang dikatakan Daphnie benar, dirinya harus segera berpindah ke UKS sebelum semakin banyak murid yang melihatnya.


Daphnie melingkarkan tangan kanan Chalinda pada lehernya. Dengan tekad dan kepercayaan diri yang kuat, Daphnie mulai mengajak Chalinda untuk beranjak dari lantai toilet sekolah.


Terasa tubuh Chalinda yang lemas begitu berat meskipun hanya tangan kanannya saja yang melingkar pada leher Daphnie. Meskipun begitu, Daphnie terus berusaha untuk tetap kuat dan membawa Chalinda ke UKS.


Bel pulang sekolah berbunyi kala Daphnie dan Chalinda baru sampai di tengah perjalanan menuju UKS. Bahkan pintu ruangannya pun belum terlihat.


Banyak sekali murid yang berebut untuk segera keluar dari sekolah dan merasakan kebebasan di siang hari mereka yang sudah menjelang sore.


Murid-murid yang berjalan cepat dan banyak yang menyalip langkah Daphnie serta Chalinda itu membuat langkah keduanya sedikit terganggu.


"Kenapa dia, Kak?" tanya seorang murid perempuan dengan tas punggung berwarna hitam yang cukup besar menggantung di kedua bahunya.


"Sakit, mau aku bawa ke UKS," jawab Daphnie dengan segera.


"Oh, kenapa Kakak nggak panggil anggota PMR aja buat bawain tandu dari pada dituntun begitu? Apalagi Kakaknya yang sakit udah pucat banget loh. Sebentar ya, Kakak tunggu di sini, biar aku ke ruang UKS manggil anggota PMR sekalian minta bawa tandu."


Murid perempuan itu berlalu begitu saja meninggalkan Daphnie dan Chalinda.


Daphnie menoleh ke arah Chalinda. Benar yang dikatakan perempuan itu, wajah Chalinda terlihat begitu pucat, sorot matanya semakin menghilang saja.


Melihat hal tersebut daripada Chalinda harus tidak sadarkan diri saat sedang berdiri, Daphnie berinisiatif untuk mendudukkan Chalinda di atas bangku panjang yang memang tersedia di depan ruang kelas.


"Duduk di sana dulu yuk, Cha, sambil nunggu tandunya," ucap Daphnie sembari menuntun Chalinda untuk melangkah ke arah bangku panjang tersebut.


Langkah kaki Chalinda terseok-seok berjalan mengikuti arahan dari Daphnie. Perempuan itu sudah merasa begitu lemas dan bahkan sudah pasrah jika harus tidak sadar di sini sekarang juga. Chalinda merasa tenaganya semakin habis saja, meskipun baru dibawa melangkah beberapa menit.


Saat tubuhnya terduduk di bangku panjang, dengan segera Chalinda menyandarkan tubuhnya di atas bahu Daphnie.


"Chalinda, Daphnie, kok kalian di sini?" tanya Martha.


"Iya, tadi awalnya kita di toilet. Aku suruh Chalinda buat ke UKS, pas dipertengahan jalan ada murid yang nyaranin buat nunggu di sini. Dia lagi manggil anggota PMR sekalian bawa tandu buat ngangkat Chalinda," jelas Daphnie.


"Oh, yaudah deh. Ini aku bawain tas kamu sama Chalinda. Dia udah pergi dari tadi apa barusan?" Martha turut duduk di sebelah Chalinda.


"Udah dari tadi, mungkin anggota PMR lagi siapin tandunya dulu," ucap Daphnie sembari melihat ke arah koridor yang dilalui untuk menuju UKS.


Selang lima menit kemudian, tandu datang dengan dua orang petugas PMR. Keduanya adalah murid laki-laki kelas 11.


Dengan segera tubuh Chalinda dipindahkan ke atas tandu, kedua siswa itu mengangkat tandu tersebut dan berjalan menuju UKS dengan koridor yang sudah mulai sepi.


"Kasihan banget sih Chalinda. Sebenarnya dia sakit apa?" tanya Martha sembari menyusul langkah petugas PMR yang membawa Chalinda.


"Kayaknya sih lambung, Tha," jawab Daphnie segera.