
Chalinda begitu terkejut ketika mendengar percakapan antara kedua orangtuanya. Langkah kedua kaki perempuan itu seketika terhenti dan mendengarkan percakapan ayah serta ibunya dari balik lemari.
Hati Chalinda merasa begitu hancur, kedua orang tua yang seakan menerima dirinya itu justru membencinya di belakang.
Rasa takut dalam diri perempuan itu semakin menggila, apalagi setelah mendengar percakapan tersebut. Chalinda begitu takut jika nantinya dirinya akan dikeluarkan dari rumah karena perbuatan yang sama sekali tidak ingin perempuan itu lakukan.
Ingin rasanya Chalinda kembali lagi saja ke kamar daripada nanti mendapat semprotan amarah dari kedua orangtuanya yang mungkin akan terjadi pada saat makan siang, namun di sisi lain perutnya terasa lapar karena belum ada sedikitpun makanan yang masuk ke dalamnya.
"Pa, Ma, apa makan siangnya sudah siap?" tanya Chalinda, usai beberapa langkah keluar dari persembunyiannya.
Juna dan Liya tentu saja segera menghentikan percakapan mereka berdua. Terlihat keduanya begitu terkejut saat melihat kehadiran Chalinda yang berada tidak jauh dari mereka berdua.
Beberapa kali Juna dan Liya saling melempar pandangan. Chalinda bisa merasakannya dengan jelas apa yang sedang mereka rasakan.
Chalinda berjalan perlahan ke arah kedua orang tuanya. Perempuan itu lantas duduk di salah satu dari dua kursi yang masih kosong.
Nampak di atas meja sudah terhidang beberapa menu makanan yang semuanya Chalinda sukai.
Satu piring ayam goreng, satu piring sayuran mentah sebagai lalapan, satu piring kecil sambal yang begitu menggoda selera dan satu panci kecil berisi sayur sop dengan campuran daging.
Kelihatannya begitu lezat dan Chalinda ingin segera menyantapnya.
Masing-masing sudah memiliki piring kosongnya yang berada di dekat tempat duduk mereka. Usai Liya mengambilkan nasi untuk Juna dan dirinya sendiri, kini giliran Chalinda yang akan mengambil satu centong nasi yang masih terus mengeluarkan asap.
Sau centong saja sudah cukup bagi Chalinda, perempuan itu memang tidak terlalu banyak setiap kali menyantap makanan.
Namun suatu hal yang sama sekali tidak Chalinda inginkan terjadi. Saat dirinya hendak mengambil sayur sop dari dalam panci kecil, Chalinda melihat ada bawang goreng yang tersebar di dalam sayur sop itu.
Seketika perut Chalinda terasa begitu mual. Seperti ada banyak makanan dalam perutnya yang ingin segera dikeluarkan lewat mulut.
Chalinda menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
HUEEKKK!!!
Suara itu mungkin saja mengganggu Liya ataupun Juna yang hendak menyantap makan siang. Tapi Chalinda tidak memperdulikan hal tersebut.
Chalinda segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari menuju kamar mandi terdekat.
Tidak ada apapun yang keluar dari mulut Chalinda. Hanya angin dan angin, namun Chalinda merasa lega setelahnya.
"Kamu kenapa, Cha?" tanya Liya, yang tiba-tiba sudah berada di belakang Chalinda.
Chalinda menoleh dan menggelengkan kepalanya saja. Rasanya tidak ingin membuka mulut terlebih dahulu, mual dalam perutnya masih ada.
Usai menuntaskan semuanya, Chalinda langsung masuk ke dalam kamar meninggalkan Juna dan Liya yang mungkin hendak menyantap makan siang.
Di dalam kamar, Chalinda segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Rasanya begitu lemas karena tidak ada sedikitpun asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya.
Tapi untuk menyantap makanan pun Chalinda tidak bisa. Apa yang harus Chalinda lakukan?
Beberapa menit Chalinda terus merebahkan dirinya, sesekali kedua tangannya mengusap perut untuk meredakan rasa mual yang masih sedikit terasa.
TOK ... TOK ... TOK ....
Chalinda menoleh ke arah pintu kamarnya tanpa beranjak. Lagipula pintu kamar tidak pernah dikunci oleh Chalinda.
Tidak lain itu adalah Liya, perempuan itu melangkah mendekat ke arah Chalinda tanpa menutup kembali pintu kamarnya.
"Cha, kamu itu seperti Ibu dulu," ucapnya sembari melangkah mendekat dan meletakkan piring di tangannya di atas meja belajar.
Liya mulai mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang tempat tidur Chalinda, sementara itu Chalinda mulai beranjak dari tidurnya.
"Maksud Ibu?" tanya Chalinda, sembari melihat ke arah Liya.
Nampak wanita itu tersenyum ke arah Chalinda. Tidak terlihat sedikitpun kebencian dalam raut wajahnya, meskipun Chalinda merasa jika ibunya itu membenci dirinya berdasarkan percakapan yang sudah dia dengar.
"Iya begitulah, Cha. Saat Ibu hamil kamu tujuh belas tahun yang lalu, Ibu juga merasakan hal itu sehingga Ibu langsung paham dengan apa yang kamu rasakan. Kamu tidak bisa mencium aroma bawang goreng, kan? Meskipun biasanya kamu sangat menyukainya?" jelas Liya.
Chalinda menganggukkan kepala. "Iya, Bu. Entahlah, rasanya perut ini langsung mual saja saat mencium aroma bawang goreng."
"Kita sama, Cha. Ibu juga dulu begitu. Maaf ya, Ibu nggak tahu kalau kamu juga seperti Ibu. Besok-besok Ibu nggak akan masak pakai bawang goreng lagi," ucap Liya.
"Oh iya, ini Ibu bawakan buah. Walaupun kamu nggak makan nasi, kamu harus tetap makan, Cha, biar kamu dan kandungan kamu kuat," lanjut Liya, sembari mengambil piring yang tadi diletakkan di atas meja belajar.
"Lihat, ini semua buah kesukaan kamu, kan? Ada pepaya, bengkuang, mangga, jambu air, nanas, dan pir. Nih, dimakan, dihabiskan," lanjutnya kembali.
Chalinda menerima piring berisi buah-buahan yang sudah dipotong tersebut, lengkap dengan sedikit gula di pinggir piringnya dan sebuah garpu untuk menyantap potongan buah tersebut.
Pertama kali, Chalinda mengambil buah pir. Rasanya buah itu terlihat sangat berair, pasti sangat menyegarkan.
"Dari mana Ibu dapatkan buah sebanyak ini? Perasaan Ibu hanya menyimpan satu jenis buah saja biasanya," tanya Chalinda, penasaran.
Liya nampak terkekeh sebelum menjawab pertanyaan anak perempuan tunggalnya. Tangan kanan wanita itu lantas berada pada lengan kiri Chalinda.
"Kebetulan sekali, mungkin ini adalah rezeki untuk kamu juga, Cha. Tadi pas kamu ke kamar, Ibu keluar sebentar, eh malah lihat ada tukang buah. Ya sudah Ibu beli ini semua buat kamu," jawab Liya, tersenyum simpul.
Chalinda menganggukkan kepalanya. "Terima kasih, Bu."
Liya turut menganggukkan kepala dengan perlahan. "Sama-sama, Nak, tetap semangat."
Wanita itu mendekat ke arah tubuh Chalinda, memeluk tubuh gadis berusia tujuh belas tahun itu.
Chalinda juga mendengar dengan jelas suara isak tangis yang tertahan.
Sebelum melepaskan pelukannya, Liya terlebih dahulu mengusap kedua pipi dan matanya yang basah. Liya tidak ingin jika kesedihannya terlihat langsung oleh putri satu-satunya yang dia punya.
"Dihabiskan ya, Nak," ucap Liya, suaranya terdengar bergetar.
Chalinda hanya terdiam dengan sepotong buah pir yang masih ada di dalam mulutnya. Perempuan itu dibuat bingung dengan apa yang sudah dia rasakan.
Beberapa menit lalu Chalinda merasa benci dengan ayah dan ibunya yang sudah berbicara buruk di belakang Chalinda, sekarang justru Chalinda merasakan kasih sayang yang amat mendalam, apalagi saat ibunya memeluk tubuh Chalinda.
"Bu," panggil Chalinda, suaranya lirih, tapi berhasil membuat Liya yang hendak beranjak kembali mendudukkan tubuhnya.
"Ada apa, Nak?" tanyanya, tersenyum.
"Ibu nggak benci sama Chalinda, kan?"
***