MY TEACHER GOT ME PREGNANT

MY TEACHER GOT ME PREGNANT
Kunjungan Kedua



Chalinda menganggukkan kepala. "Mereka berdua orang tua Pak Artha, Bu?"


Sembari merapikan lemari yang ada di samping kanan ranjang Chalinda, Liya tersenyum. "Iya, mereka berdua orang tua dia. Ramah banget, ya, Cha. Nih, mereka juga bawain kamu buah-buahan banyak banget."


Kedua tangan Liya terangkat dengan sebuah plastik putih menggantung pada keduanya. Chalinda dapat melihat dengan jelas buah-buahan yang ada di dalam kantong resek berwarna putih sedikit transparan itu.


"I--iya, Bu, baik banget," ujar Chalinda, kedua sudut bibirnya terangkat walau terlihat sedikit terpaksa.


Sebenarnya Chalinda merasa sedikit aneh dengan kedua orang tua walikelasnya itu. Pasalnya tidak ada sedikitpun raut wajah dari keduanya yang diturunkan ke Artha.


Apalagi Chalinda masih merasa sakit hati karena perkataan Ayah Artha tadi. Tapi sepertinya Liya tidak menyadari ketidakmiripan kedua orang tua itu dengan Artha. Liya juga memiliki kesan pertama yang baik dengan mereka.


Itulah mengapa Chalinda memilih untuk menyimpannya sendiri, membiarkan kebingungan dan perkataan buruk mereka tetap Chalinda simpan dalam hati.


Mungkin saja hanya Chalinda yang tidak menyadari hal tersebut, atau mungkin juga karena Chalinda hanya melihatnya sepintas, tidak memandangnya dengan detail.


"Ayo kita makan malam dulu, Cha."


Liya mulai membuka salah satu bungkusan plastik yang dibawa oleh Juna beberapa menit yang lalu, lantas dengan menggunakan sendok bebek Liya menyuapkannya kepada Chalinda.


Terlebih dahulu Chalinda ingin melihat isi dari bungkusan makanan tersebut. Tentu saja untuk memastikan bahwa makanan tersebut tidak mengandung sedikitpun bawang goreng.


Dalam satu bungkus berisi nasi yang lumayan banyak, sayur tempe yang dikecap dan lauknya telur goreng. Makanan yang benar-benar tidak mengundang selera makan bagi Chalinda.


Tapi meskipun tidak ingin menyantapnya, Chalinda tetap membuka mulut untuk menerima suapan dari Liya.


Sedari pagi tubuhnya belum dimasukkan sedikitpun makanan, Chalinda merasa khawatir dengan janin dalam kandungannya. Meskipun calon bayi itu tercipta dari sebuah perbuatan yang buruk, tapi dia tidak bersalah.


Satu suapan hingga tiga suapan berhasil masuk ke dalam mulut Chalinda. Tentu saja Chalinda menyantapnya dengan begitu perlahan. Untuk satu kali suapan, Chalinda bisa menghabiskan waktu kurang lebih dua menit untuk sekedar mengunyahnya.


Pada suapan ke empat, Chalinda mengarahkan kedua tangannya yang terbuka ke arah Liya. Menginstruksikan kepada Liya untuk tidak lagi menyuapkan makanan kepadanya.


"Sudah, Bu," ucap Chalinda, menolak suapan yang keempat.


"Udah kenyang?" tanya Liya.


Chalinda menggelengkan kepala. "Sudah nggak pengen, kalau dipaksa takut jika mual. Ini juga udah lumayan mual, sih, Chalinda nggak mau kalau harus keluar lagi makanannya."


Liya hanya menganggukkan kepala. Perempuan itu lantas duduk di kursi plastik dekat dengan ranjang tempat Chalinda berbaring.


Masih menggunakan sendok plastik yang sama seperti yang digunakan untuk menyuapkannya kepada Chalinda, Liya mulai menyantap dan menghabiskan sisa nasi yang tidak habis dimakan putri tunggalnya.


Sementara itu Chalinda merebahkan tubuhnya di atas ranjang usai meneguk air mineral dari dalam gelas menggunakan sedotan kecil.


Rasanya perutnya kembali mual dan Chalinda hendak berbaring barangkali rasa mualnya akan reda.


"Ayah mana, Bu?" tanya Chalinda, sembari terus berbaring.


"Lagi nganterin orangtuanya Artha dulu, Cha. Nanti juga kalau udah selesai pasti ke sini, kok, ayah kamu sama Artha kan juga belum makan malam," ujar Liya, menjelaskan.


Chalinda tidak mengatakan apapun, perempuan itu menutup kedua matanya untuk terpejam dalam malam yang kian gelap.


KLEK!


"Mana makanan untuk aku dan Artha, Bu. Aku sudah lapar banget," ujar Juna, sembari melangkah menuju sofa.


Liya yang belum selesai menghabiskan sisa makanan Chalinda harus menundanya terlebih dahulu. Makanan itu diletakkan di permukaan lemari sementara dirinya menyiapkan makan malam untuk Juna dan Artha.


Dari ranjang tempat tidur, Chalinda hanya bisa memperhatikan tiga orang yang sedang menunggui dirinya yang sakit.


"Chalinda udah makan?" tanya Juna, pandangan matanya melihat ke arah Liya, kemudian ke arah Chalinda.


"Udah, kok. Tapi cuma makan tiga suap aja, disuapin lagi nggak mau," jelas Liya, sembari melangkah kembali ke lemari untuk mengambil dua gelas air mineral.


"Lah kenapa nggak mau?" tanya Juna.


"Iya, katanya udah nggak pengin, takut perutnya malah mual lagi," jelas Liya.


"Loh, seharusnya kalau lagi sakit tuh makan yang banyak, Cha," ucap Juna, kali ini pandangan mata laki-laki itu melihat ke arah putrinya yang terbaring di atas ranjang rumah sakit.


"Biar kamu tuh kuat, apalagi kamu lagi ada isi, kan. Kamu jangan egois, kamu harus makan biar janin kamu juga dapat nutrisi. Kalau nggak dari kamu, dari siapa lagi janin itu mendapatkannya?" lanjut Juna.


"Iya, nanti kalau udah enakan Chalinda makan lebih banyak kok, Yah," ujar Chalinda, suaranya begitu lemah.


"Nggak papa, Yah, mungkin Chalinda nggak cocok sama makanannya. Lagipula kalau dipaksakan takut jadi mual, nantinya keluar lagi makanannya kan percuma. Nggak papa sedikit juga asal makan, ada makanan yang masuk ke dalam tubuh," ujar Artha, membela Chalinda.


Hati Chalinda dibuat berdebar kali ini dengan pembelaan dari Artha. Entah kenapa ada sedikit rasa hormat dalam dirinya untuk guru tersebut, meskipun sebelumnya rasa hormat itu sudah benar-benar hilang.


Usai menyantap makan malam, semuanya sibuk dengan ponsel masing-masing. Chalinda sendiri memilih untuk beristirahat setelah menjalani hari yang begitu melelahkan.


Rasanya tubuh gadis itu terasa lebih lelah dua kali daripada biasanya. Seakan pada siang harinya Chalinda telah melakukan pekerjaan berat seperti berlari, angkat beban, dan sebagainya. Padahal jika diingat kembali, siang tadi yang Chalinda lakukan adalah berbaring di UKS atau duduk di ruang kelas.


***


Chalinda sepertinya bangun lebih siang daripada yang lain. Saat membuka mata, Chalinda tidak menemukan siapapun di dalam kamarnya.


Namun saat menoleh ke arah kanan, Chalinda melihat ada segelas teh yang ditutup. Chalinda meraihnya karena kebetulan tenggorokannya juga terasa begitu kering.


Rasanya begitu segar saat teh manis itu menyentuh dan mengalir pada kerongkongannya. Chalinda bahkan bisa merasakan aliran tersebut.


Teh manis itu sudah tidak lagi panas, banyak uap yang terperangkap di dalamnya membuat penutup gelas juga basah.


Hal itu bisa Chalinda simpulkan bahwa orang-orang di dalam ruangan yang sedari tadi malam menungguinya sudah pergi lama jika teh tersebut dibuat dengan air yang mendidih.


Selain teh, Chalinda juga menemukan satu buah pir lengkap dengan pisau kecil untuk mengupasnya terletak di atas sebuah piring kecil. Namun Chalinda merasa tidak ingin menyantap apapun bahkan buah sekalipun pagi itu.


KLEK!


"Eh, Chalinda, kamu udah bangun?"