My Lost Love

My Lost Love
Episode 9



Tok…tok…


“Permisi Pak”


Aku mengetuk dan membuka pintu ruangan Pak Anto dengan perlahan. Jam menunjukkan pukul 4 sore.


“Iya Vinca, silahkan masuk."


Pak Anto mempersilahkan aku masuk.


“Duduk”


“Baik Pak”


“Sudah siap berkas-berkas nya?


“Ini pak, silahkan di periksa terlebih dahulu.”


Pak Anto membaca dengan seksama. Sesekali dia menjelaskan kembali apa yang tertulis dalam berkas.


“OK Vinca, ini saya kira cukup membantu untuk peninjauan kantor cabang Bandung oleh Pak Arga."


Pak Anto membereskan berkas-berkas yang aku beri tadi dan mengembalikan nya padaku.


“Pak, berkas ini untuk bapak. Saya tadi meng copy tiga rangkap. Satu untuk Pak Arga, Bapak dan saya."


“Baik, terima kasih. Kamu langsung ke ruangan Pak Arga ya, sudah hampir jam 5, waktu pulang kantor.


“Baik Pak. Saya permisi ya”


“Ok Vinca, silahkan”


Dan aku mengarah ke pintu keluar ruangan Pak Anto dan menuju ruangan Pak Arga.


Sedikit gugup aku berjalan menuju ruangan Pak Arga. Ku hela nafas pelan untuk menghilangkan gugup ku.


Tok…Tok


Ku ketuk pintu ruangan Pak Arga. Dan terdengar suara mempersilahkan masuk dari dalam.


“Permisi Pak, saya mau menyerahkan berkas-berkas yang dibutuhkan untuk esok hari."


Kata ku kepada Pak Arga dengan nada sopan.


“Oh iya Bu Vinca, silahkan duduk, sebentar saya selesaikan pembicaraan telepon saya dulu."


Terlihat Pak Arga sedang memegang ponselnya, lalu menaruh ke telinga beliau. Terdengar Pak Arga serius bicara


dengan seseorang di ujung sana. Dan kemudian Pak Arga menyudahi pembicaraan via ponsel nya tersebut.


“Maaf ya bu Vinca harus menunggu.”


“Nda apa Pak” jawab ku sambil tersenyum kecil.


“Mmm iya pak, ini berkas-berkas nya."  Aku menyerahkan berkas yang ada di tangan ku ke Pak Arga.


“OK, sebentar saya pelajari dulu ya. Mmm bu Vinca tunggu sebentar ya selagi saya mempelajarinya."


“Baik Pak” jawabku singkat.


Kulihat sekilas Pak Arga mulai membaca berkas dari ku itu. Tampak raut wajahnya serius. Seperti tidak ingin ada yang terlewat sedikit pun dari isi dalam berkas itu.


Ku coba mengalihkan pandangan ku ke ruangan Pak Arga. Hmm aroma parfume yang tercium oleh ku. Parfume yang biasa tercium bila Pak Arga ada di sekitar. Seperti ketika di mall, aku mencium wangi yang sama.


Huft….paan sih Vinc….ku buyarkan akan ingatan ku tentang wangi parfume itu. Ku perhatikan ruangan yang tertata rapih dengan nuansa abu-abu putih. Ku mencoba menoleh ke arah jendela kantor. Terlihat pemandangan rumah, gedung dan lain-lain dari atas jendela gedung ini. Kantor perusahaan tempat kami bekerja ini ada di lantai 7. Sejenak kunikmati pemandangan itu. Dengan langit biru terhampar terlihat nyaman di hati ku. Sejenak berkurang gugup ku berhadapan dengan Pak Arga.


“Bu Vinca” Pak Arga memanggil nama ku membuyarkan lamunan ku akan pemandangan luar jendela tadi.


“Iiiyaa Pak….”


“Besok bu Vinca ya yang akan menemani kunjungan kerja ke kantor cabang Bandung.


“Iya batul Pak.


“Bu Vinca berangkat dengan apa ke Bandung? Pak Arga bertanya kepadaku


“Naik Travel Pak, kebetulan Travel yang akan saya pesan, pool nya di Bandung dekat dengan kantor cabang. Jelasku kepada Pak Arga.


“Oh ok. Besok saya sudah sampaikan ke kantor cabang Bandung akan tiba pukul 10 . Kira-kira bisa terkejar kah


keberangkatan bu Vinca bila dengan Travel? Pak Arga bertanya memastikan.


“Insyaa Alloh bisa Pak, saya akan pesan keberangkatan pagi sekali.


“Wah jam berapa pagi sekali bu? Pak Arga bertanya sambil tersenyum kecil


“Iya ya itu pagi sekali yaa. Kembali dia tersenyum mendekati tertawa.


“Hehehe iya pak” Aku pun ikut tersenyum lebar.


“Ok bu Vinca, besok hati-hati di jalan ya.Mmm, berkas-berkas ini saya akan bawa. Boleh saya minta no telpon bu Vinca untuk besok kita saling cek keberadaan bila saya sudah sampai di kantor cabang.


Pak Arga memegang ponselnya dan mulai mengetuk layar nya.


“Iiya pak silahkan ini nomor hp saya”


Kemudian aku menyebutkan no ponsel ku di iikuti pengulangan penyebutan nomor itu oleh pak Arga.


Aku teringat bahwa tidak membawa ponsel ketika menghadap Pak Anto juga saat ini dengan Pak Arga.


“Pak…maaf, ponsel saya tidak terbawa oleh saya, di taruh di meja, saya ambil dulu ya, biar bisa simpan nomor bapak juga. Aku bertanya ragu kepada Pak Arga.


“Tidak usah Bu Vinca, nanti saya miss called aja.” Jawab Pak Arga sambil masih melihat ke layar ponselnya.


“Baik Pak” jawabku.


“Baik bu Vinca, sementara sudah selesai. Terima kasih, insyaa Allooh sampai besok ya”


“Baik Pak, saya permisi” ku berdiri dari duduk hendak membalikkan badan menuju pintu keluar.


“Bu Vinca….” Tiba-tiba Pak Arga memanggil nama ku


“iiyaa Pak…”jawabku sambil membalikkan badan


“Salam untuk Vanno” Pak Arga menyeringai lebar se akan menggodaku untuk mengingat menyampaikan salam nya kepada Vanno


“Heeeee…..insyaa Allooh Pak, mudah-mudahan saya ingat yaa” sambil ku menyeringai dan memutar bola mataku.


“Hahaha…..ok Bu Vinca” Terlihat Pak Arga tertawa lepas setelah melihat ekspresi ku terakhir tadi.


“Permisi ya Pak….” Pamitku padanya


“Assalamualaiku bu Vinca” tiba-tiba Pak Arga memberi salam padaku


“Eh…..iiyaa, wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh”jawab ku terbata


*****


“Hufftt”


Ku duduk kembali di bangku kerja dengan menghela nafas pelan.


Jam menunjukkan pukul 5. Ku bereskan meja kerja ku. Mulai merapihkan berkas-berkas yang tadi di bawa ke dalam file carrier. Ku ambil ponselku di laci meja kerja. Dan kudapati ada panggilan tidak terjawab. Ku lihat tidak ada nama. Ku cek kembali ternyata ada pesan masuk. Tertulis “ini nomor saya, Arga”. Ternyata itu nomor ponsel Pak Arga. Segera ku menambahkan ke dalam daftar kontak ponsel. Ah hampir lupa, gumam ku sendiri. Pesan travel, bisa tidak sampai di Bandung tepat waktu besok.


“Vinca sudah selesai semua? Tiba-tiba Kiki menyapaku.


“Sudah Ki, tinggal besok berangkat. Jawabku ke Kiki sambil mencari nomor telepon travel.


“Mau bareng turun nda? Tanya Kiki mengajak untuk turun ke lobby untuk pulang.


“Duluan deh Ki, ini gua mau pesan travel dulu, takut lupa kalau nanti-nanti.


“Ya deh Vinc, gua duluan ya, besok hati-hati ya di jalan, jangan nakal,hahaha.


Lagi-lagi Kiki berpesan seperti itu kepadaku sambil tertawa lebar.


“Aman Ki…Pangeran luh aman sama gua” Jawabku dengan canda kepada Kiki.


“Byee Vinca…”


Dan aku hanya melambaikan tangan saja kepada Kiki.


“Vinc, gua duluan juga ya berarti. July sudah bersiap keluar dari kubikel nya.


“Iya July, hati-hati di jalan ya” Jawabku


“Ok , bye Vinc”


“Bye July”


“Gua juga duluan ya Vinc, besok hati-hati di jalan ya, semoga lancar urusan kerja disana”


Fendi berpamitan pulang kepadaku.


“Aamiin Fend, bye”


“Bye Vinc….eh…vinc…satu lagi…jangan nakal ya sama Pak Manajer, hahahaa. Fendi berpesan padaku sambil tertawa terbahak dan berlari kecil menjauhi ku menuju lift turun.


Aku hanya tertawa mendengar nya dan melanjutkan menelepon Travel.