
09.00
Waktu di layar ponsel ku menunjukkan pukul 9 tepat. Ku menanti giliran untuk turun dari travel yang ku naiki. Ternyata hari ini banyak juga penumpang yang mengikuti keberangkatan pagi tadi. Ku melihat ke sekitar
pool travel dan menepi ke pinggiran parkiran yang sepi. Ku buka kembali ponsel ku dan mengarah kan jemari ku ke aplikasi pencarian. Ku cari kafe kopi terdekat dan ternyata ada beberapa meter saja dari pool ini. Ku pikir masih ada waktu untuk sarapan dan minum kopi sebelum jadwal kunjungan ke kantor cabang sesuaiyang di tentukan.
Dan aku pun masih menunggu telepon dari pak Arga untuk pemberitahuan dari beliau apakah sudah tiba atau belum di kantor cabang. Ku langkah kan kaki ku menuju kafe yang di arahkan aplikasi pencarian tadi.
Udara Bandung sejuk terasa menerpa kulit wajah ku. Ku hirup sejenak udara yang terasa bebas polusi ini.
Tak berapa lama aku sudah sampai di kafe tersebut dan ternyata sudah buka. Segera ku melangkah masuk ke dalam dan menuju counter pesanan. Ku pesan secangkir latte dan sepiring egg sausage with vegetables.
Ku menuju meja yang ada di sudut kafe dekat dengan jendela. Sambil menunggu pesanan datang, ku
buka lagi layar ponsel ku. Belum ada tanda telepon atau message dari Pak Arga. Apa aku coba menelopon nya ya. Bertanya ku kepada diri sendiri. Ah mungkin nanti saja sekitar pukul 09.30, aku selesaikan dulu sarapan baru menghubungi pak Arga. Batin ku kembali.
Tak berapa lama datang pesanan ku tadi. Ku mulai dengan menyeruput latte secara perlahan dan kemudian mulai menikmati pesanan makanan yang sudah terhidang. Ku palingkan sebentar wajah ku ke arah luar jendela.
Terlihat ada mobil sedan hitam masuk ke parkiran depan kafe. Aku merasa kenal dengan mobil tersebut.
Ku pandangi terus mobil itu untuk melihat siapa yang keluar dari dalam nya. Dan ternyata benar, Pak Arga!
Ku masih dengan posisi menguyah makanan dan terus menatap sosok pak Arga. Denganstyle yang bisa membuat ku menganga dan berdecak melihat nya masih ku pandangi dia. Ku lihat dia menggerakkan jemari nya ke layar ponsel dan tak berapa lama menaruh ponsel ke arah kuping.
Tring…..tring…..
Ku terkejut dengan bunyi nada dering ponsel ku dan memalingkan pandangan ku dari pak Arga. Ku lihat nama Pak Arga di layar ponselku. Oh dia ternyata menelepon ku. Segera ku angkat telepon ku dan menjawab panggilan tersebut.
“Assalamu’alaikum…” Ku memulai salam menjawab panggilan itu
“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh…..Bu Vinca, saya Arga, ibu sudah sampai dimana?
Pak Arga bertanya padaku
“Mmm…sudah sampai di Bandung Pak." Jawab ku
“Oh iya…sudah langsung ke kantor cabang kah? Tanya Pak Arga dan ku lihat beliau melangkah masuk ke dalam kafe.
“Belum Pak….saya masih di kafe Pak." Jawab ku kembali
“Oh ok…di kafe mana bu?" Tanya Pak Arga lagi
“Di Kafe Rindang Pak." Jawab ku krmbali
Pak Arga memberhentikan langkah nya setelah melewati pintu masuk. Dan masih dengan ponsel di kupingnya beliau menengok arah meja-meja kafe. Ketika matanya mengarah ke meja ku, ku coba lambaikan tangan penuh ragu ke arah nya. Pak Arga tersenyum dan langsung menarik ponsel dari kuping nya dan mematikan panggilan.
Ku lihat beliau mengarah ke counter pesanan. Ku seruput perlahan latte ku untuk menghilangkan grogi yang mulai terasa. Ku lanjutkan memakan sarapan ku.
“Assalamu’alaikum bu Vinca” Sapa Pak Arga yang sudah ada berada di depan ku
“Wa’alaikumsalam Pak” Jawabku dengan memberi senyum
“Boleh saya duduk di sini ya” Pak Arga menunjukkan bangku kosong di depan ku
“Silahkan Pak” aku mempersilahkan Par Arga untuk duduk di bangku itu.
“Jam berapa sampai tadi bu?" Pak Arga bertanya tanpa melihat padaku sambil menaruh ponsel nya di meja.
“Jam 9 Pak." Aku melihat ke arah pak Arga dan kemudian menunduk wajah ke arah makanan ku
“Naik travel jam berapa bu?" Kembali pak Arga bertanya dan kali ini aku merasa dia melihat ke arah ku.
“Jam 5 pagi pak” Jawab ku sambil kembali melihat wajah Pak Arga.
“Terima kasih “ Pak Arga berucap kepada pelayan yang mengantarkan pesanannya.
Ku lihat Pak Arga memesan secangkir espresso dan croissant. Ku lanjutkan lagi memakan sarapanku yang sudah hampir habis. Pak Arga mulai menyeruput esspreso nya perlahan. Di lanjutkan dengan croissant nya.
“Bu Vinca….mau pesan lagi kah sarapan nya? Pak Arga bertanya sambil melihat ke arah piring ku yang sudah kosong.
“Sudah full Pak ini” kataku sambil mengusap perutku
Dan kemudian terjadilah pandangan terindah bagi ku pagi ini. Pak Arga tertawa lebar. Dan aku pun terpana di buat nya.
“Ok bu Vinca, saya selesaikan dulu sarapan saya ya” ucapan Pak Arga membuyarkan keterpanaan ku.
“I..iiya pak” jawab ku terbata
Ku seruput kembali latte dari cangkir ku untuk menghilangkan grogi ku kembali. Ku raih ponsel ku untuk melihat apakah ada pesan penting. Ku lihat ada notifikasi pesan dan dari Pak Anto.
“Pagi Vinca. Kamu sudah sampai di Bandung kah?
“Sudah Pak Alhamdulillah. Dan sudah bertemu dengan pak Arga juga.
“Alhamdulillah. Selamat bekerja ya Vinca. Bantu Pak Arga sebaik mungkin, Terima kasih”
“Baik pak, Insyaa Allooh.
**********
09.45 WIB
“Bu Vinca, sepertinya kita harus menuju kantor cabang sekarang."
Pak Arga berkata dan bersiap meninggalkan meja kami.
“Baik Pak". Jawabku serta ikut membereskan barang-barang bawaanku
Kami melangkah keluar di dahului Pak Arga dan ku mengikuti nya dari belakang.
Nit…nit….
Suara alarm mobil berbunyi tanda membuka pintu mobil.’
“Silahkan Bu Vinca naik ke mobil saya, kita barengan ke kantor cabang nya".
Pak Arga mempersilahkan aku masuk ke dalam mobilnya sambil tersenyum .
“I..iiyaa Pak. Jawabku terbata
Dan mobil pak Arga pun melaju keluar dari parkiran menuju kantor cabang yang jaraknya hanya terhitung 10 menit bila di lihat dari aplikasi peta. Dan benar kami pun sudah tiba di kantor cabang tersebut. Kami berdua turun dari mobil Pak Arga dan membawa berkas-berkas keperluan kami masing-masing.
“Pak, mau saya bawakan tas kerja nya?"
Tiba-tiba aku mencoba menawarkan diri untuk membawakan tas kerja Pak Arga.
“Oh nda usah Bu Vinca, bisa kok saya bawa sendiri, terima kasih."
Jawab Pak Arga dengan senyuman nya kembali
Oh senyuman itu sudah berapa kali ku melihat nya sedari tadi. Aku sedikit terpana.
“Ayo Bu Vinca, kita masuk ke dalam” Pak Arga berkata kembali menyadarkan keterpanaan ku.
“I..iiyaa Pak." JAwabku kembali terbata dan berjalan mengikuti Pak Arga masuk ke dalam kantor.