
Setelah menyelesaikan transaksi, kami pun segera menuju food court yang ada di mall tersebut. Ketika sampai di lantai food court langsung menuju ke counter makanan yang biasa kami beli. Ketika sedang menunggu antrian pesanan, tiba-tiba Vanno keluar dari antrian seperti mau menghampiri seseorang. Ku perhatikan arah Vanno kemana, ternyata dia menghampiri seorang pria. Sedikit terhalang untuk melihat siapa pria itu. Vanno
pun menoleh ke arah ku dan terlihat lah wajah pria tersebut. Pak Arga!
Seketika aku ingat akan janji ku kepada Pak Arga untuk menyampaikan salam nya untuk
Vanno. Duh gue lupa sampaikan salam dia buat si Vanno lagi, batin ku sambil memajukan langkah antrian pesanan makan.
“Mba Sekar….ini ada kawan lama Vanno, Arga, kata nya kenal sama Mba." Vanno menghampiri ku bersama Pak Arga.
“Pak….” Sapaku dengan tersenyum malu karena mengingat lupa nya aku menyampaikan salam Par Arga untuk Vanno.
“Bu Vinca….Assalamua’alaikum…” Sapa pak Arga sambil tersenyum.
“Pak?” Vanno melihat ku bergantian ke Pak Arga.
“Vann…Mba minta maaf. Mba kelupaan menyampaikan pesan Pak Arga ke kamu. Pak Arga manajer di divisi Mba kerja. Pernah kami mengobrol ternyata Pak Arga kenal kamu. Tapi ya itu, mba lupa sampaikan ke
kamu. Ku mencoba jelaskan kepada Vanno dengan mimik muka bersalah.
“Tidak masalah bu Vinca….toh ternyata di takdirkan bertemu disini ya Vann”
Pak Arga menjawab penjelasan ku sembari menepuk bahu Vanno
“Oh kalian satu kantor, wah dunia memang kecil yaa…tapi alhamdulillah…bisa ketemu lagi sama elo Ga”
Vanno berkata kepada Pak Arga
“Iya…” Pak Arga menjawab singkat sambil tersenyum
“Makan siang bareng yuk Ga, kita ngobrol sebentar. Apa lo masih ada acara lagi? Vanno mengajak Pak Arga bergabung untuk makan siang bersama.
“Boleh Vann, gue ngga ada acara lagi, mau langsung ke rumah bapak di Kelapa Kuning" Jawab Pak Arga
“Oh iya ya, bapak apa kabar Ga?" Vanno bertanya pada Pak Arga kabar bapaknya.
“Baik, Alhamdulillah Vann. Kembali Pak Arga menjawab sambil mengurai senyum.
“Ah syukur alhamdulillah. Semoga beliau sehat-sehat selalu ya,aamiin.
“Aamiin”
“Pak Arga, Vanno pada mau pesan apa? Ku menyela perbincangan mereka.
“Saya ikut aja yang mana, suka semua menu disini kok bu Vinca. Jawab Pak Arga kepadaku.
“Aku yang biasa ya Mba. Jawab Vanno
“Ok..” pendek saja ku menjawab mereka
“Mba, aku cari meja sebentar ya. Ga, bentar gua cari meja dulu. Bergegas Vanno berjalan meninggalkan aku dan Pak Arga menanti pesanan makanan di siapkan.
Duh Vanno tinggalin gue sama Pak Arga lagi, kan bingung mau ngobrol apa. Berkata ku dalam hati.Tapi terlihat oleh ku Pak Arga sedang sibuk melihat layar ponselnya. Ah, aman, kembali ku berkata dalam hati. Sekilas ku lihat Pak Arga mengenakan kaos berkerah warna biru langit dengan celana berbahan katun warna cream. Bersepatu keds dan sisiran rambut yang rapih. Dan yang ngga akan di lupakan oleh ku, wangi parfum nya yang
khas.
“Bu Vinca…itu pesanan kita sepertinya sudah jadi deh” tiba-tiba Pak Arga berkata kepadaku yang terlihat melamun.
“Eh..ii iya pak…” Jawab ku sedikit gagap
Ponsel ku berbunyi ketika hendak mengambil baki pesanan makanan, ternyata Vanno.
“Iya Vann….oh dekat escalator, ok mba tahu, kita kesana ya”
Segera ku mengambil baki pesanan sambil ku menoleh ke pak Arga.
“Pak..maaf boleh bawa baki yang ini, biar yang satu itu saya bawa." Pinta ku kepada Pak Arga
“Iya bu Vinca, mari saya bawakan” Pak Arga mengambil baki yang pertama dari genggaman ku.
“Ayo pak kita ke arah escalator kiri itu, Vanno sudah dapat tempat duduk disana”
Ku berkata ke Pak Arga dan melangkah menuju Vanno berada.
Pak Arga hanya mengangguk menimpali perkataan ku tadi. Kemudian kami pun berjalan menuju VAnno dan terlihat dia melambai-lambai kepada kami memberitahu bahwa tempat duduk nya ada disitu.
Kemudian kami duduk dan mulai menikmati makanan pesanan masing-masing. Vanno dan Pak Arga terlibat perbincangan ringan sambil menikmati makan siang. Obrolan mereka seperti mengejar cerita-cerita
yang tertinggal di antara mereka. Dari cerita A,B dan seterusnya. Aku hanya terdiam saja mencoba sibuk menghabisi makan siang ku. Ketika makan siang ku sudah habis dan ku perhatikan mereka pun demikian.
Mereka masih asik dengan obrolan mereka, maka aku pun permisi untuk ke toilet.
“Vanno…Mba ke toilet dulu ya…Pak Arga maaf permisi dulu ya….”
VAnno dan Pak Arga mengangguk bersamaan dan aku pun berlalu.
“Wah ngga nyangka bisa ketemu lagi disini." Vanno berkata kepada ku
“Iya Vann, sudah lama sekali kita tidak bertemu. Oh iya …elo sudah berkeluarga Vann? Tanyaku kepada Vanno.
“Doain Ga…insya Alloh sebentar lagi. Baru saja beli cincin untuk melamar dia, makanya gua ajak Mba Sekar, eh, Vinca untuk bantu pilih." Vanno menjawab pertanyaan ku tadi.
Wah, alhamdulillah, selamat ya Vann, semoga lancar sampai pernikahan ya." Kata ku
“Aamiin. Mmm kalau elo gimana Ga? Vanno balik bertanya padaku
“Belum Ga, doakan ketemu jodoh secepatnya ya, biar cepat nyusul kamu” Jawabku sekenanya.
“Aamiin. Semoga segera ya Ga. Pacar tapi ada kan?” VAnno bertanya selidik kepadaku.
“Ngga Vann, gua ngga mau pacaran, langsung aja nikah lah, kan lebih asik, langsung sah ngapain2, hahaha” Jawabku kepada Vanno sambil tertawa.
“Alhamdulillah…iiyaa begitu juga lebih asik….kayak mba Vinca aja luh Ga, dia juga ngga mau pacaran tuh” Tiba-tiba Vanno menjawab dengan menyebut nama Bu Vinca.
“Sorry Vann…Bu Vinca belum menikah? Tanya ku ragu kepada VAnno.
“Mmm…sebetulnya….tapi lo ngga usah tanya-tanya dia ya Ga di kantor…..dia bercerai Ga dengan suami nya. Sejak itu ya masih sendiri lah, masih tunggu yang mau langsung melamar dia” jelas Vanno pelan kepadaku.
“Oh ..ok….Vann…” jawab ku
“Ya gitu deh Ga, Mba Vinca tuh baik, cuma Allooh masih kasih kehendak lain sama dia." Vanno berkata dengan tatapan sendu.
Sempat down lama juga setelah perceraian nya. Tapi, alhamdulillah akhirnya bisa dilewati. Kembali Vanno menjelaskan masih dengan tatapan sendu nya.
“Oh ok Vann…mmm…sudah berapa lama cerai nya Vann? Tanyaku sedikit penasaran
“Kurang lebih 2 tahun ya seingat ku” Vanno menjawab singkat
Dari kejauhan ku lihat bu Vinca kembali dari toilet dan segera ku hentikan pertanyaan-pertanyaan kepada Vanno tentang bu Vinca.
********
“Sudah mba? Vanno bertanya kepada ku setelah kembali dari toilet
“Sudah Vann” jawab ku kepada Vanno
“Mba… bentar ya.. sekarang Vanno yang mau ke toilet. Ga, titip bentar mba gua ya."
Cepat-cepat Vanno berlalu tanpa memberi kesempatan aku dan Pak Arga bicara.
Ku coba duduk senyaman mungkin di bangku meja makan yang kami tempati.
Ku ambil telepon selular ku dan mencoba melihat apakah ada message atau apa pun untuk mengisi waktu ku menunggu Vanno kembali. Karena sungguh tak ada bahan untuk berbicara dengan Pak Arga.
“Bu Vinca….waktu itu…bahu nya tidak apa-apa kan?” Tiba-tiba Pak Arga bertanya kejadian beberapa waktu lalu di
kantor.
“Tidak apa pak, sempat pegal dikit, tapi sudah ok sekarang” Jawabku ambil tersenyum.
“Oh ya Alhamdulillah, maaf ya bu sekali lagi” Pak Arga memberikan muka meminta maaf seperti merasa bersalah sekali.
“Ah Pak…ngga apa-apa kok…namanya juga ngga sengaja kan” jawabku tetap dengan senyuman
Dan kemudian Pak Arga tersenyum lebar menandakan bahwa beliau lega karena tidak terjadi apa-apa dengan ku. Senyum nya membuat bulu kuduk ku berdiri. Tiidaakk…hati ku berteriak. Kenapa senyum nya itu membuat dag dig dug hati ini. Ku coba membalas senyum itu dengan seksama.
“Aku kembali….” Tiba-tiba Vanno sudah ada di antara kami.
“Kamu sudah selesai belum nih ngobrol nya sama Pak Arga? Tanya ku kepada Vanno.
“Kalau belum, mba duluan aja pulang ya,kamu lanjutin dulu temu kangen nya. Kata ku pada Vanno sambil menyeringai.
“Sudah kok mba, lain kali kita lanjut ya Ga. Bagi no telepon luh dong Ga” JAwab Vanno kepadaku di sambung
bertanya kepada Pak Arga.
Mereka pun bertukar no telepon sambil masih berbincang sedikit-sedikit.
Ok Ga, gua sama Mba Vinca lanjut pulang dulu ya, terima kasih ya buat ngobrol-ngobrol nya tadi."
Mereka pun berjabat tangan berpamitan.
“Sama-sama ya Vann, senang banget gua Vann. Call or message me ya Vann. And…semoga lancar acara lamarannya” Pak Arga kembali berkata pada Vanno
“Aamiin …Terima kasih Ga, see you”
“Bu Vinca…sampai jumpa di kantor hari senin ya” Pak Arga berpamitan kepadaku
“Ii…ii..ya pak” Jawabku tergagap sambil menganggukkan kepala ku padanya.