
Part 32
Ku tatap pintu lift yang ada di depan ku. Tatapan dengan pikiran dan hati yang resah. Setelah menyaksikan tour office Pak Arga dan Bu Diska tadi, perasaan ku mejadi tidak menentu. Melihat betapa serasinya bu Diska dan Pak
Arga tadi. Si tampan dan si cantik, lagi kata hati ku berkata. Mereka berdua pemimpin, betapa makin sempurna bila mereka menjadi pasangan.
Argh…untuk apa juga aku berpikir dan merasa gusar seperti ini. Siapa tahu saja bu Diska sudah menikah, kan aku belum tahu juga. Tapi bila belum pun, mungkin saja bu Diska sudah punya calon pendamping. Jika ternyata bu
Diska masih lajang, pak Arga pun masih lajang, jadi ngga apa-apa juga kan kalau mereka menjadi pasangan.
Ku hela kasar nafas ku. Sungguh tak ingin aku berpikiran dan berperasaan menduga-duga seperti ini. Apa manfaat nya juga aku meresahkan hal seperti itu. Pak Arga bukan siapa-siapa nya aku. Dan begitu sebalik nya. Buat apa ada rasa ini? Aku cemburu kah?
Argh…. ku hela nafas panjang kali ini, untuk membuang rasa yang tak jelas ini.
Ting
Pintu lift terbuka dan kulihat penunjuk tujuan sudah di lantai dasar. Ku berjalan keluar dari dalam lift dengan langkah gontai dan sedikit menundukkan kepala. Ketika ku mengangkat kepala ku, terlihat sosok Pak Arga dan Bu Diska dekat pintu utama gedung kantor. Ku pelan kan langkah ku dan tak terasa dahi ku mengeryit melihat mereka. Tatapan ku tak lepas kepada mereka.
Ku melihat mereka saling bericara satu dengan lain nya, sesekali mereka tersenyum dan tertawa bersama. Akrab sekali mereka terlihat oleh ku. Kembali ku hela kasar nafas ku. Selang kemudian mereka berjalan keluar
melalui pintu utama gedung. Ada sebuah mobil tipe SUV berhenti di depan lobby gedung kantor. Pak Arga membuka kan pintu mobil itu di ikuti Bu Diska kemudian masuk ke dalam mobil. Pak Arga menutup kembali pintu mobil tersebut setelah bu Diska masuk ke dalam mobil. Lalu Pak Arga berjalan ke balik mobil tersebut. Dan terlihat samar Pak Arga masuk juga ke dalam mobil dimana bu Diska duduk di bagian penumpang.
Aku semakin mengeryitkan dahi melihat hal itu dan terus menatap mobil itu sampai menghilang dari pandangan ku. Tak kusadari langkah ku terhenti dan pikiran-pikiran tadi kembali berkecamuk dalam benak. Kesekian kali nya aku menghela nafas panjang berusaha menghilangkan semua hal itu.
“Viiinnccc….ayo cyin…ngapain berhenti?”
Sapaan, ajakan dan pertanyaan Kiki tadi menyadarkan ku dari diam ku.
“Eh iya Ki…”
Jawab ku dengan nada lemah kepada Kiki.
Ku mulai melangkah kan kaki kembali. Sekarang adalah waktu makan siang dan seperti biasa kami ber empat pergi bersama untuk itu. July dan Kiki yang tadi ada di belakang ku mulai berjalan mendahului ku. Langkah ku
masih pelan dan dengan usaha menghilangkan rasa resah dan gundah yang tak tentu.
“Lihat apa Vinc tadi?”
Ku dengar suara Fandi bertanya padaku. Dan ternyata dia sudah ada di samping ku.
“Hah…maksud lo apaan Fand?”
Aku balik bertanya pada Fandi memastikan maksud pertanyaan nya.
“Abis lihat Pak Arga ya tadi sama Bu Diska?”
Fandi masih kembali bertanya padaku. Seperti nya dia memperhatikan sikap ku dari tadi.
Aku pun kembali balik bertanya kepada Fandi untuk menutupi kebenaran yang Fandi lihat dari ku.
“Dari tadi di lift lo dah bengong aja. Kayak ada yang di pikirin gitu. Gua dah perhatiin dari tadi di kantor. Setelah tour office tadi, lo banyak bengong dan nunduk dengan tatapan kosong ke kertas kerjaan. Sorry ya gua jadi lihatin lo.”
Fandi mulai berkata panjang lebar tentang apa yang dia maksud.
“Sok tahu”
Jawab ku pendek dan masih berusaha menutupi bahwa apa yang dikatakan Fandi itu benar semua.
“Waktu di lift, gua ada di samping kiri belakang lo, jadi gua bisa lihat sedikit lah raut muka lo gimana. Sampai tadi lo lihat Pak Arga dan Bu Diska naik mobil sama-sama, muka lo tuh ngga seperti biasa nya. Ceria nya hilang.”
Fandi masih dengan pemaparan tentang hasil pengamatan nya terhadap ku sedari tadi.
“Ah perasaan lo aja Fand”
Jawab ku malas akan semua kebenaran pemaparan Fandi itu.
“Jangan pikirin atau berprasangka apa-apa. Ngga baik Vinc. Mereka kan sama-sama rekan kerja juga. Seperti kita lah, cuma mereka rekan sesama boss. Dah jangan manyun. Kiki sama July dah jauh tuh jalan nya. “
Fandi menasehati ku untuk berhenti berwajah muram. Fandi melihat itu dari raut muka ku yang tak seperti biasanya. Dan aku membenarkan semua perkataan Fandi itu. Ku mencoba mencerna perkataan Fandi terakhir tadi. Ku lihat Fandi mempercepat langkah nya meninggal kan ku, menyusul July dan Kiki yang sudah jauh di depan.
Ada benar nya perkataan tersebut. Ya, mereka sesama rekan kerja, tentu bisa menjadi akrab layak nya kami berempat. Kalau pun ke akrab an Pak Arga dan Bu Diska lebih dari itu pun kenapa juga harus ku gusar, toh aku
pun bukan siapa-siapa nya Pak Arga. Sungguh tak beralasan muram ku ini.
Ku padangi ketiga kawan kerja ku itu sudah semakin menjauh. Ku mencoba tersenyum sekedar menertawai muram ku ini. Lalu ku percepat langkah untuk mengejar kawan-kawan ku tersebut.
*******************
Ketika ku sampai di depan rumah, ku melihat mobil sedan hitam terpakir. Dan aku tahu mobil ini. Aku memandang ke dalam rumah dan menghela nafas. Ada apa dia ke rumah Ibu lagi? Janjian sama Vanno lagi? Aku kembali bertanya-tanya dalam hati. Kenapa dia sudah ada di rumah jam seperti ini? Bila keluar sesuai jadwal kantor, belum tentu sudah sampai juga.
Sedikit malas ku melangkah masuk ke dalam rumah. Walau sudah mencoba menetralkan segala pikiran, rasa ku tadi di kantor, ternyata masih membekas. Ya, sepertinya aku cemburu atas kedekakatan Pak Arga dan Bu Diska. Kecemburuan yang tak beralasan. Seperti kata Fandi, hanya pikiran dan prasangka saja. Betapa bahaya nya hal
seperti itu. Bisa menguras kewarasan yang ada.
Mendekati pintu masuk rumah, ku hentikan langkah ku sejenak. Ku tarik dan menghela nafas perlahan, mencoba mengatur hati ku ini. Mengatakan pada diri, bahwa kau bukan siapa-siapa dia, tak usah gundah atau pun
gulana. Kemudian ku langkah kan kaki ku kembali.
“Assalamu’alaikum”
Aku mengucapkan salam ketika mulai memasuki pintu rumah. Dan ku dapati di ruang tamu rumah, ada Ibu, Vanno dan Pak Arga.