
“Assalamu’alaikum”
Aku mengucapkan salam ketika mulai memasuki pintu rumah. Dan ku dapati di ruang tamu rumah, ada Ibu, Vanno dan Pak Arga. Mereka pun serentak menjawab salam ku. Kemudian ku berjalan masuk, menghampiri Ibu dan menyalami beliau. Lalu ku alihkan pandangan kepada Vanno dan terakhir pada Pak Arga.
“Pak”
Sapa ku pada Pak Arga sambil mengangguk kan kepala.
“Bu Vinca”
Pak Arga membalas sapaan ku di sertai anggukan kepala juga.
“Sekar, kamu sudah sholat maghrib?”
Terdengar Ibu bertanya pada ku.
“Belum bu. Sekar permisi ke kamar dulu ya bu.”
Aku menjawab pertanyaan Ibu sekaligus permisi untuk lanjut ke kamar.
“Pak, saya permisi ke dalam dulu.”
Pamit ku pada Pak Arga dan segera berlalu dari ruang tamu.
Tak banyak kata yang ku katakana kepada mereka yang ada di ruang tamu. Sungguh aku masih merasa tidak menentu dengan apa yang ku rasa. Ku segera masuk ke dalam kamar dan membersihkan diri lalu menunaikan
shalat maghrib.
Setelah selesai semua kulakukan. Aku berdiam di kamar. Merebah kan badan ku sejenak di atas tempat tidur. Sekedar untuk melepaskan penat badan dan terutama rasa ini. Ku pejam kan mata ku sejenak. Tak berapa lama terdengar suara azdan Isya. Ku angkat badan ku kepada posisi duduk. Kemudian mempersiapkan diri untuk melakukan shalat Isya.
Ketika ku sedang merapihkan perlengkapan shalat ku, terdengar pintu kamar ku di ketuk.
“Masuk”
Aku mempersilahkan orang yang mengetuk pintu kamar untuk masuk.
“Sekar…kamu sudah shalat Isya nak?”
Ternyata Ibu yang mengetuk pintu kamar ku.
“Sudah Ibu”
Jawab ku pada Ibu
“Makan malam dulu sana, Ibu sudah siap kan.”
Ibu menyuruh ku untuk makan malam yang telah beliau siapkan.
“Iya bu. Bu…Pak Arga masih ada?”
Aku bertanya dengan sedikit berbisik kepada Ibu.
“Isya tadi nak Arga pamit shalat ke masjid dan dia pamit langsung pulang. Kenapa memang nya Sekar?”
Ibu menjawab pertanyaan ku dan juga bertanya kembali.
“Ngga apa-apa bu, tanya aja.”
Jawab ku pada Ibu.
“Ya sudah, makan ya Nak, Ibu sudah makan tadi sore an. Ibu sedikit capek. Ibu pamit tidur ya. Seperti biasa, tolong rapih kan meja makan ya. Oh..iya…Vanno lagi ke masjid juga, nanti suruh dia makan malam ya.”
Ibu kembali berkata dan berpesan pada ku
“Iya bu. Selamat Istirahat ya.”
Aku mendekati Ibu yang berdiri dekat pintu kamar ku lalu memeluk beliau.
“Kamu lagi capek ya. Istirahat setelah kamu selesai nanti.”
Ibu mengusap-usap punggung ku dalam pelukan ku pada beliau.
“Iya bu.”
Jawabku dan kemudian ku meraih tangan Ibu dan menyalami nya. Ibu mengusap lagi rambut ku kemudian mencium perlahan kepala ku. Dan Ibu mulai membalikkan badan nya berjalan menuju kamar nya.
Ku menuju meja makan bersiap untuk makan malam. Terdengar suara orang memberi salam dari arah pintu depan rumah. Ternyata Vanno yang baru saja pulang dari masjid.
“Vann…yuk makan malam. Ibu sudah makan sore tadi. Sekarang sudah mau tidur.”
Aku berkata pada Vanno sambil mempersiapkan piring makan ku.
“Iya mba.”
Jawab Vanno dan kemudian ia duduk di kursi meja makan.
Dan Kami pun memulai makan malam kami.
“Vann…Pak Arga kok ke rumah lagi? Ada apa Vann?”
Ku memulai percakapan dengan bertanya pada Vanno mengenai kunjungan Pak Arga tadi.
“Oh, Arga tadi bisa pulang cepat dari kantor, terus dia telepon Vanno, kebetulan hari ini Vanno juga lagi bisa pulang cepat. Dia bilang ingin ketemu sama Ibu lagi, mungkin dia kangen sosok Ibu ya, kan dia cuma sama
Bapak nya. Jadi, main lagi deh dia ke rumah.”
Vanno menjawab pertanyaan ku panjang lebar.
“Oh gitu.”
Timpal ku pada perkataan Vanno.
“Oh ok Vann. Sudah di persiapkan semua Vann bawaan-bawaan dari sini?”
Tanya ku pada Vanno tentang persiapan nya untuk lamaran.
“Sudah Mba. Vanno sudah minta tolong Ibu persiapkan. Cuma kue-kue aja sih mba. Dan Ibu sudah pesan ke kenalan nya.”
Vanno kembali menjelaskan pada ku.
“Kamu mau mba bantu apa untuk lamaran nanti. Mau di beliin atau bawa apaan kesana?”
Tanyaku pada Vanno
“Ngga usah Mba, sudah siap semua. Yang penting Mba ikut.”
Jawab Vanno sambil menyeringai lebar padaku.
“Kalau Mba ada kasih hadiah untuk Deena ngga apa-apa ya?”
Tanya ku lagi pada Vanno
“Hadiah apaan Mba? Ngga usah repot-repot lah.”
Vanno menjawab pertanyaan ku tadi dengan pertanyaan juga.
“Belum tahu juga Vann, mungkin 1 set kain , atas bawah atau nanti deh Mba pikirkan lagi.”
Jawab ku kembali pada Vanno.
“Terserah Mba deh. Eh iya, Vanno ajak Arga juga ke acara lamaran nanti.”
Vanno berkata padaku yang membuat alis ku terangkat dan dahi ku mengernyit.
“Pak Arga kamu ajak? Kenapa?”
Aku bertanya heran kepada Vanno.
“Ya, dia kan kawan Vanno Mba dan katanya dia mau lihat lamaran itu bagaimana prosesi nya. Seperti nya dia mau melamar seseorang juga deh Mba.”
Vanno menjawab pertanyaan ku sambil terus menikmati makan malam nya.
“Melamar seseorang? Kamu tahu siapa Vann calon nya?”
Semakin penasaran aku di buat dengan penjelasan Vanno tadi.
“Mmm…katanya sih orang kantor nya gitu. Tapi belum jelas juga sih Mba. Cuma dia senang banget ketika Vanno ajak dia tadi.”
Vanno menjawab pertanyaan ku tadi sambil menatap ku.
“Orang kantor? Satu kantor? Apa satu perusahaan beda kantor? Dia ngga sebut nama nya siapa Vann?”
Masih aku memberondong Vanno dengan pertanyaan yang penuh rasa ingin tahu.
“Mmm….ngga mba, pokok nya dia cuma bilang orang kantor nya.”
Jawab Vanno lagi pada ku.
Aku hanya terdiam setelah jawaban Vanno terakhir. Kembali ku teringat akan Bu Diska. Mungkin kah dia calon Pak Arga? Kalau Bu Diska, berarti seperti dugaan hati ku hari ini. Atau orang dari bagian selain marketing? Argh, apa peduli ku. Mengapa hal ini mengganggu ku.
“Mba…kenapa mau tahu banget sih calon nya Pak Arga?”
Tiba-tiba pertanyaan Vanno membuyarkan diam ku.
“Ya-aa…ingin tahu aja siapa calon istri nya Boss mba.”
Jawab ku sekena nya pada Vanno.
“Oh.... Nanti deh Vanno cari tahu lagi kalau bisa.”
Ku lihat Vanno menyeringai lebar sambil menatap ku.
“Mba….misalkan ternyata orang kantor calon Arga itu Mba gimana?”
Tiba-tiba Vanno bertanya yang membuat aku langsung menatap wajah nya sambil kembali mengeryitkan dahi ku untuk kesekian kali nya.
“Apaan sih Vann. Dia ngga ada apa-apa sama Mba. Ng-ngga pernah dekatin Mba atau apalah kok dia.”
Jawab ku grogi atas pertanyaan Vanno itu.
“Mba kan orang kantor nya juga. Kemungkinan itu bisa lho Mba.”
Vanno kembali berkata padaku dengan mimik muka yang serius.
“Entah lah Vann. Mba rasa ngga mungkin. Beliau orang hebat pantas nya kan dengan yang hebat juga.”
Jawab ku sambil bersiap meninggalkan meja makan hendak menuju ke dapur.
“Jodoh kita tidak tahu lho Mba. Jangan berpikir seperti itu. Mba Sekar layak juga kok dapat orang hebat, kenapa ngga sih.”’
Vanno berkata pada ku masih sambil tersenyum.
“Ya Vann, we’ll see. Mba ngga tahu juga jodoh mba siapa. Kamu istirahat sana. Mba mau cuci piring dan merapihkan meja makan. Tolong kamu kunci pagar dan rumah ya Vann.”
Aku berkata pada Vanno sambil berjalan menuju dapur.
Dalam langkah ku, pikiran ku masih menerka siapakah calon Pak Arga. Dan hati ku ini semakin bergemuruh tak tentu. Berulang kali aku menghela nafas untuk menghilangkan nya. Dan sepertinya tidur adalah kunci untuk
sejenak tidak merasakan resah hati yang tak tentu ini.