My Lost Love

My Lost Love
Episode 28



POV Vinca


Aku, Kiki dan Fandi sudah berada di luar pintu gedung kantor. Kami sudah bersiap akan pulang ke tempat tujuan masing-masing. Kami sibuk dengan ponsel masing-masing. Hari ini Fandi tidak mengendarai mobil ke kantor. Karena hari ini adalah jadwal kontrol istri nya ke dokter kandungan. Seperti biasanya, Fandi akan bertemu langsung dengan istri nya di rumah sakit tempat kontrol kandungan. Dan Fandi sedang mencari taksi online untuk membawa nya ke rumah sakit tujuan nya. Kiki pun demikian, sedang sibuk dengan ponsel nya untuk memesan ojek online. Sedang kan aku masih sibuk dengan melihat tarif ojek online sore ini. Terkadang aku bingung menentukan akan pulang naik bus atau ojek online. Tergantung mood dan tarif ojek online yang tertera. Bila sedang ada promo, aku akan menggunakan nya tanpa ragu. Bila sedang dirasa mahal, aku akan memilih naik bus saja, walaupun harus berdesakan dan menunggu lama.


“Ki…sudah dapat babang ojek nya?”


Tanyaku pada Kiki seraya melepaskan pandangan dari ponsel.


“And…..find it….mmm…”


Kulihat Kiki menekan beberapa kali layar ponsel nya.


“Sebentar lagi Vinc, lagi di cariin ama server.”


Kata Kiki menjawab pertanyaan ku tadi.


“Lo mau kemana Ki? Pulang? Lo kan biasa suka nebeng Fandi kalau lagi mau ke rumah sakit.


Aku bertanya pada Kiki menyelidik.


“Mama gua minta di temani ke rumah teman nya. Gua janjian ketemu sama mama di RM.Sederhana dekat rumah teman nya itu.”


Kiki menjelaskan pada ku tujuan nya sore ini.


“Oh gitu.”


Jawab ku pendek sambil menganguk-angguk.


“Eh Vinc…babang ojek sudah hamper sampai di gerbang kantor, gua jalan kesana dulu deh ya. Daaahh…gua duluan yaa say. Fandi gua duluan yaa, salam ama bini lo.”


Kiki berucap dan melambaikan tangan nya sambil terus berjalan menuju gerbang kantor


“Dagh Ki, hati-hati lo!”


Sedikit berteriak aku berkata pada Kiki yang mulai menjauh dari tempat kami berdiri tadi.


“Lo pulang naik apa jadi nya Vinc?”


Fandi bertanya pada ku sambil terus menatap layar ponsel nya.


“Belum tahu masih bingung.”


Jawab ku pada Fandi sambil menatap lagi layar ponsel ku.


“Lo sudah dapat taksi nya?”


Ku beralih bertanya pada Fandi.


“Sudah, dia masih 1 km dari sini, bentar lagi sampai.”


Jawab Fandi pada ku.


Akhirnya aku memutuskan untuk naik bus saja. Ketika aku bersiap untuk menuju halte dan hendak berpamitan dengan Fandi, sebuah sedan hitam yang ku kenal berhenti di hadapan aku dan Fandi.


“Bu Vinca, mau pulang kah?”


Aku melihat sosok yang ku kenal dari balik jendela mobil yang terbuka bertanya pada ku


“Eh i-iiya Pak”


Jawab ku terbata kepada orang yang bertanya itu.


“Bareng saja bu, saya lagi mau ke rumah bapak.”


Jawab orang yang ada di balik kemudi mobil itu.


“Ngga usah Pak Arga, biar saya naik bus saja.”


Tolak ku pada pemilik mobil itu.


“It’s ok Bu, saya juga ada janjian sama Vanno mau main ke


rumah”


Pak Arga pemilik mobil itu berkata yang membuat mata ku membulat kaget


“Dah Vinc, lo bareng saja sama Pak Arga, macet tuh belakang, antri mobil”


Tiba-tiba Fandi berkata pada ku menyuruh ku bergegas untuk pulang bersama pak Arga.


“Mmm baik Pak. Fand, gua duluan ya, dagh.”


Kata-kata ku tergagap kepada Pak Arga dan Fandi


“Bye Vinc.”


Fandi membalas kata ku di sertai lambaian tangan.


“Pak Fandi ngga ikut bareng, mungkin arah nya sama?”


“Terima kasih pak, kebetulan sudah pesan taksi online.”


Fandi menjawab ajakan Pak Arga di sertai senyum ramah nya.


“Oh ok, kami duluan ya Pak Fandi.”


Pak Arga berpamitan seiring aku sudah duduk bersiap di bangku samping pengemudi.


“Baik Pak, hati-hati di jalan.”


Fandi berkata dan kembali melambaikan tangan nya.


Dan mobil pak Arga pun melaju perlahan meninggalkan area gedung perkantoran menuju jalan raya yang mulai padat sore hari itu. Terdengar suara notif ponsel ku berbunyi. Aku membuka notif itu dan terdapat pesan yang


pengirim nya adalah Fandi.


“Asik…bentar lagi gua makan nasi kebuli, alhamdulillah :DDD”


Fandi menulis kata-kata itu dalam pesan nya. Aku hanya bisa menggerutu dalam hati membaca pesan dari Fandi. Apa-apaan sih Fandi, begitu dalam hati ku berkata.


“Reseh lo. Zipped your mouth!”


Aku membalas pesan dari Fandi


“Hahahahaha…..# tawa puas”


Fandi masih membalas pesan ku dengan ledekan tawa puas, karena berhasil membuat ku marah.


Ku tidak membalas pesan Fandi lagi, karena bila aku terus kan, Fandi akan semakin meledek ku.


“Lagi balas pesan ya bu?”


Tiba-tiba Pak Arga membuyarkan kekesalan ku kepada Fandi dengan pertanyaan nya.


“I-iya Pak.”


Terbata ku menJawab pertanyaan Pak Arga.


“Pak…tadi bilang katanya mau main ke rumah?”


Ku teringat perkataan pak Arga yang membuat ku terkejut tadi.


“Iya bu. Saya tadi sudah janjian dengan Vanno. Dan kebetulan Vanno bilang sedang tidak kemana-mana, jadi saya izin untuk main ke rumah.”


Pak Arga menjawab pertanyaan ku denga jelas.


“Kebetulan jadwal saya menengok Bapak, jadi sekalian lah main sebentar ke rumah Vanno”


Kembali Pak Arga berkata padaku.


“Bapak nya Pak Arga apa kabar?”


Aku bertanya tentang kabar Bapak yang sewaktu itu aku temui ketika mengambil berkas dari Pak Arga di rumah nya.


“Alhamdulillah baik bu.”


Jawab Pak Arga pada ku.


“Alhamdulillah. Salam ya pak untuk beliau.”


Kembali aku berkata dan menitipkan salam untuk Bapak nya Pak Arga.


“Insyaa Allooh akan saya sampaikan bu”


Pak Arga berjanji akan menyampaikan salam ku untuk bapak nya.


Ternyata jalanan sedikit padat. Kami banyak terdiam dalam pikiran kami masing-masing. Walau kadang Pak Arga pun memulai pembicaraan dan berakhir dengan jawaban singkat dari ku. Aku masih berpikir keras kenapa pak


Arga tiba-tiba mau berjumpa dengan Vanno di rumah Ibu. Mereka kan bisa saja bertemu di luar, seperti waktu yang lalu, mereka bertemu di warung makan. Aku mengernyitkan dahi ku tanpa sadar sambil memikirkan motif Pak Arga berjumpa dengan Vanno di rumah.


“Bu Vinca…sepertinya lagi ada yang di pikirkan? Kok kelihatan nya serius nih?”


Kembali suara Pak Arga mengejutkan aku dari dugaan-dugaan yang berseliweran di otak dan benak ku.


“Mmm,,,ngga pak, ngga ada yang di pikirkan.”


Jawab ku pada Pak Arga. aku baru menyadari seperti nya Pak Arga memperhatikan aku.


“Kalau ada yang bisa saya bantu boleh lho bu di cerita kan."


Pak Arga berkata pada ku dengan mengulas senyuman yang bisa membuat nafas ini menjadi pendek.


“Bener kok Pak ngga ada apa-apa. Everything is under control”


Jawab ku sekenanya pada beliau.


“Well ok then.”