My Lost Love

My Lost Love
Episode 20



Tok…tok….


Ku mengetuk pintu kaca tebal transparan dengan ornament garis buram di tengah-tengah nya.


“Iya masuk” jawab suara dari dalam ruangan itu


“Assalamu’alaikum, pagi Pak Anto”


ku buka pintu lalu menyapa Pak Anto si pemilik ruangan yang mulai ku masuki ini.


“Wa’alaikumsalam, pagi juga Vinca. Silahkan duduk”


Pak Anto membalas sapa ku dan mempersilahkan duduk


“Terima kasih Pak”


Aku langsung menuju kursi yang ada di hadapan meja Pak Anto dan menempatkan diriku di situ.


“Bagaimana Vinca kunjungan ke kantor cabang kemarin?” Pak Anto memulai pembicaraan


“Alhamdulillah, secara keseluruhan apa yang harus di periksa, di bahas dengan pihak cabang sudah semua pak.“ Jawabku pada atas pertanyaan Pak Anto


“Bagus lah kalaiu begitu. Oh iya, Pak Arga ada titip sesuatu ya?” Pak Anto kembali bertanya


“Iya, ini Pak” jawabku singkat kemudian menyerahkan berkas-berkas titipan Pak Arga kepada Pak Anto


Pak Anto mengambil berkas-berkas tersebut. Melihat nya sebentar lalu menatap ku kembali.


“Ok Vinca, saya akan pelajari nanti. Oh, iya, kamu jangan lupa isi laporan perjalanan kerja yang di berikan bagian keuangan ya. Jadi segala pengeluaran yang berkaitan dengan masalah pekerjaan bisa di ganti oleh mereka. “


Pak Anto mengingatkan ku untuk mengisi laporan perjalanan kerja.


“Baik Pak, nanti saya akan isi. Oh ya Pak, ini ada kue buat bapak.”


Aku memberikan satu plastik berisi 2 jenis kue yang ku beli kemarin di Bandung pada Pak Anto


“Wah saya dapat oleh-oleh ini. Taruh di meja saja Vinca, nanti saya rapihkan”


berkata Pak Anto kepada ku dengan tawa yang sumringah


“Disini ya Pak saya taruh” aku menaruh oleh-oleh Pak Anto tepat di meja depan kursi dimana aku duduk


“Iya, terima kasih ya Vinca oleh-oleh nya” kembali Pak Anto berkata


“Sama-sama ya Pak. Kalau begitu saya pamit balik ke ruangan saya. Permisi Pak”


Pamit ku pada Pak Anto untuk meninggalkan ruangan.


“Silahkan Vinca” Pak Anto mempersilahkan untuk kembali ke ruangan kerja ku


*****


“Yuk cuss makan siang” Kiki berdiri dari kursi kerja nya dan mengajak pergi  makan siang


“Ok Ki, bentar gue save dulu nih kerjaan” Jawab ku pada Kiki


Ketika ku sedang menyelesaikan kerjaan ku ini, Fandi sudah berdiri bersender di sisi samping meja ku sambil melihat layar ponsel nya. Meja kerja ku terletak di dekat jalan keluar dari kubikel yang kami tempati ber empat ini. Tak berapa lama Kiki juga sudah berdiri di dekat Fandi dan juga sibuk melihat-lihat layar ponsel nya. Ku menoleh mencari July. Ternyata July sudah mulai berdiri dari kursi kerja nya dan mengarahkan langkah nya ke arah


Kiki dan Fandi.


“Vinc, luh malah lihatin si July, hayuk kelarin atuh”


Tiba-tiba Fandi berkata padaku ketika aku mencari keberadaan July tadi


“Iya iya, sudah nih” jawabku pada Fandi


Sejenak aku membereskan meja ku. Lalu ku raih dompet dan ponsel ku.


“Sudah, yuk let’s go” ajak ku pada tiga kawan kerja ku itu


Kami pun berjalan menuju lift untuk turun ke bawah. Kami menuju tempat makan yang ada di seberang kantor kami. Tempat makan yang terdiri dari beberapa tenda-tenda. Setiap tenda menjual makanan berbeda-beda. Ada makanan Padang, Tongseng, Soto Ayam, Sate Ayam dan Kambing, Soto Mie dan beberapa jenis makanan lain. Selera Nusantara lah pokoknya. Selama di lift tadi kami berdiskusi menu makan siang kami.


Akhirnya di putuskan kita akan ke tenda makanan yang menjual Tongseng. Tidak semua dari kami memilih menu Tongseng, Fandi dan July akan memesan menu sate. Kebetulan tenda tongseng dengan sate bersebelahan. Jadi kalau misalkan kami mau makan di tenda tongseng, yang memesan sate bisa makan di tenda tongseng. Asalkan ada yang sudah memesan makanan tongseng.


Suasana di tenda makanan tongseng belum terlalu ramai. Beruntung kami keluar makan siang di awal waktu. Kalau lebih dari waktu kami tadi keluar kantor, bisa-bisa kami akan mengantri untuk dapat tempat duduk. Aku dan Kiki segera memesan tongseng 2 porsi di sertai nasi dan es teh manis. Lalu menuju tempat duduk untuk kami ber empat.


“Jul, kamu mau pesan sate apa?" Tanya Fandi


“Aku sate ayam aja Fand. Kamu mau pesan ke sebelah ya?” Ujar July pada Fandi


“Iya, aku pesan dulu ya. Berapa tusuk sate? Pake nasi apa lontong? Minum apa? Eh, minum pesan disini aja ya. Jul. gue es teh manis aja ya”


Fandi sudah seperti pelayan tenda makanan yang bertanya kelengkapan menu pesanan


“10 tusuk, pake nasi aja Fand. Iya minum pesan di sini aja. Dah gih sana kamu pesan ke sebelah, aku pesan minum dulu.” July berkata sambil berjalan hendak memesan minum


“Mmm…ngga Ki, gua pulang sama Pak Arga” Jawab ku pada Kiki


“Say What?” tanya Kiki sedikit berteriak


July baru kembali ke meja kami dan mendengar Kiki bernada seperti itu langsung bertanya pada kami berdua.


“Kenapa? Apa yang what-what?” tanya nya dengan muka bingung


“Jul, Vinca ternyata pulang sama Pak Arga” Kiki berbisik pada July


“Iya ngga apa-apa dong, aman kan jadinya, dari pada dia tengah malam naik travel. Ngeri juga lah.”


Jawab July santai


“Tapi luh bilang mau naik travel waktu chat terakhir” Kiki bertanya dengan menyelidik kepada ku


“Iya Ki, tadinya. Gua dah pesan juga tuh travel. Dan elo tahu ngga. Pangeran luh sakit Ki.”


Jawabku sambil mengambil kerupuk gendar dari tangan Kiki


“Sakit apa?" Kiki dan July berbarengan bertanya padaku


“Siapa yang sakit?” tiba-tiba suara Fandi bertanya terdengar oleh kami


“Pak Arga Fand. Vinca jadi nya pulang sama Pak Arga.” Kiki mencoba menjelaskan pada Fandi


“Vinc sakit apa pak Arga?” Kiki melanjutkan pertanyaan nya tadi


“Kayak nya maag. Tapi akut banget kelihatannya. Sampe pucat pasi gitu.”


Ku menjelaskan pada mereka tentang sakit Pak Arga kala itu


“Terus gimana cerita luh bareng sama dia?” giliran Fandi ikut-ikutan bertanya padaku


“Sakit yang di rasain Pak Arga membuat dia lemas gitu. Gue tinggal beli obat aja, sampai tidur nahan sakit.


Keadaan gitu ngga kuat juga kali kalau nyetir sampai Jakarta. Gua tanya, mau nginep di Bandung apa gimana? Beliau ngga mau nginep disana? Alhasil gue menawarkan diri setir mobil dia sampai Jakarta.


Gitu saudara-saudara.” Ku menjelaskan panjang kali lebar pada mereka


“Ooohhh….” Lagi-lagi Kiki dan July bersamaan membulatkan bibir mereka dengan kata yang sama


“Terus keadaan beliau sekarang gimana?”tanya Fandi lagi padaku


Bersaman dengan pertanyaan Fandi datanglah pesanan ku dan Kiki. Maka aku pun sibuk mengambil pesanan dan membumbui makanan ku sejenak. Tak lama berselang datang juga makanan pesanan Fandi dan July, sehingga kami pun memulai untuk menyantap makanan kami. Di tengah kami menikmati makanan kami, kembali Kiki bertanya.


“Vinc, keadaan Pak Arga gimana sekarang? Luh ada tahu?”


“Tadi pagi sih gue ketemu sepertinya sudah ok. Katanya hari ini mau check up ke dokter. “


Jawabku sambil terus menikmati makan siang ku


“Apa? Luh ketemu dia pagi ini dimana? Dia nginap di rumah luh?


Tiba-tiba Fandi bertanya padaku sambil terkekeh


“Iiihh kaga lah. Ah kalian, kenapa juga jadi banyak nanya sih. Jadi gini, rumah bapaknya Pak Arga, ternyata dekat dengan rumah ibu gue. Jadi semalam setelah gue turun di rumah ibu, dia pulang ke rumah bapak nya. Terus tadi pagi, beliau titip berkas untuk Pak Anto. Jadilah gue datang ke rumah bapak nya untuk ambil berkas itu. Dah ah, gua habisin makan gua dulu. Keburu hilang nikmat makan gua.”


Kembali ku menjelaskan sambil bersungut-sungut karena sedang menikmati tongseng ku yang rasa nya memanjakan lidah banget.


Setelah selesai dengan makanan kami masing-masing dan telah menyelesaikan pembayaran. Kami pun kembali lagi ke kantor. Di saat sedang menunggu lift untuk naik menuju kantor kami kembali Kiki seperti ingin mengajukan pertanyaan lagi.


“Vinc…” sejenak Kiki terdiam setelah memanggil nama ku


“Hmm, apa Ki” jawab ku sambil melihat layar ponsel ku


“Jadi kue kita pada harus bayar berapa nih? Gara-gara interogasi luh mengenai Pangeran gue lupa tanya totalan oleh-oleh kan” Kata Kiki padaku


“Ah iya Vinca, lupa kan totalan kue” July menimpali kata-kata Kiki


“Nanti aja deh gaes, soal nya ini kemarin gua belanja di bayarin Pangeran nya Kiki”


jawab ku tetap melihat layar ponsel ku


“Say What” kembali Kiki bertanya padaku dengan kata itu


“Lo tuh ya Ki, what whot what whot. Iya, kemarin pas gua mau bayar, dia cegat gua, terus dia bayarin deh.”


Jelas ku sekali lagi.


“Semoga tuh Pangeran Kiki ngga kasih bon ke Vinca tanda nagih. Aamiin kan saudara-saudara” Fandi berkata sambil terkekeh pada kami bertiga


“Aamiin” jawab kami bertiga serentak dengan suara berbisik dan tersenyum satu sama lain.