My Lost Love

My Lost Love
Episode 4



Pak Arga teman nya Vanno? Wah mudaan dia dong ya dari aku, secara aku dan Vanno berbeda 2 tahun.


Keren 25 tahun sudah jadi manajer decak ku pelan.


 “Sekar….kamu sudah selesai sholat maghrib belum?” Terdengar Ibu memanggil aku.


Ibu memang memanggil aku Sekar di rumah atau di antara saudara-saudara, entah kenapa, saat ku tanya


alasan Ibu memanggil Sekar bukan Vinca, beliau hanya menjawab, senang aja memanggil nama ku dengan Sekar. Tapi bila di depan teman-teman ku atau tetangga beliau tetap memanggil dengan Vinca.


“Iya Ibu, Sekar sudah shalat maghrib”. Jawabku kepada Ibu


 “Hayo makan malam, Ibu sudah siapkan di meja makan." Ibu berkata sambil menunjuk ke arah meja makan


 “Sekar mandi dulu deh bu, lau shalat Isya, baru makan." Jawabku lagi kepada Ibu


 “Ya sudah.“ Ibu membalas perkataan ku.


“Eh, Ibu sudah makan belum?" Ku balik bertanya kepada Ibu.


“Belum Sekar, Ibu juga tunggu shalat Isya dulu." Jawab Ibu


“Baik bu” kata ku kepada Ibu


Kemudian ke kembali ke kamar untuk mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi.


**********


"Alhamdulillah" Ucapku sambil kembali duduk di samping Bapak.


Sayup terdengar suara Adzan Isya. Ku telah selesai mandi dan telah mengenakan koko serta celana bahan untuk pergi shalat ke masjid dekat rumah Bapak.


 “Bapak…Arga ke masjid ya, mau Isya berjamaah. Bapak mau ikut?" Ku bertanya kepada Bapak


“Bapak shalat di rumah saja Ga, kamu tahu betapa repot nya kalau bapak ikut ke masjid. Kan kata ustadz insyaa Allooh tidak mengapa dengan keadaan Bapak ini kan."


Bapak berucap pelan-pelan karena lumpuh yang di alami membuat beliau pun tidak lancar dalam berkata.


 “Bapak mau shalat Isya dimana? Di sini atau kamar?” Tanyaku


“Di kamar, kamu antar Bapak dulu ke kamar ya Ga." kata bapak


“Siap Pak”. Ku langsung mengambil kursi roda Bapak, lalu membantu untuk pindah duduk.


Setelah bapak sudah dalam posisi yang aman, mulai ku mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamar Bapak.


“Arga pergi ke masjid dulu ya Pak. Assalamu'alaikum” pamit ku


“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh”


**********


Aku keluar dari kamarku dan melihat ke arah meja makan. Belum ku lihat Ibu disana. Ku menuju


kamar Ibu, ku ketuk kamarnya, tiada jawaban, lalu ku buka pelan pintu kamar, dan ku lihat Ibu sedang salam rakaat terakhir. Ku tutup kembali pintu kamar Ibu, lalu menuju ke meja makan. Ku tarik kursi meja makan dan duduk menunggu Ibu datang. Tak lama Ibu keluar dari kamarnya dan menuju ke meja makan.


 “Kok nda makan Sekar” tanya Ibu


“Tunggu Ibu, biar kita makan malam sama-sama." Jawabku


Ibu mulai menyendok nasi dan lauk-pauk yang sudah tersedia di meja makan. Giliran ku kemudian.


 “Bagaimana tadi di kantor Sekar? Lancar-lancar kan?" Ibu memulai obrolan.


“Lancar bu, Alhamdulillah. Eh Bu, tadi di kantor ada perkenalan manajer baru. Ternyata


 “Oh iya. Tahu dari mana kamu? Ibu bertanya sambil mengangkat salah satu alisnya.


“Kebetulan tadi pulang bareng sama beliau Bu, karena ternyata Bapak nya tinggal di Kelapa Kuning situ.


Dia mau berkunjung ke Bapaknya.


”Oh begitu, baik ya mau ajak bawahannya pulang bareng." Ibu kembali berkata.


“Sebetulnya kebetulan aja Bu, tadi atasan Sekar lainnya, Pak Anto namanya, ikut bareng


juga, Pak Anto di Kelapa Hijau sini bu, karena dia tahu Vinca satu tujuan sama rumah dia dan pak manajer, jadi deh Vinca di ajak bareng, gitu buu."


Ku coba menjelaskan secara detail kepada Ibu.


 “Mmm..teman apa sama Vanno dia?” Ibu bertanya lagi.


“Teman kuliah mungkin bu” Aku menjawab dengan mengira saja karena tidak tahu pasti Pak Arga


kenal Vanno dimana.


“Oh begitu…” jawab Ibu pendek


Ibu merapikan sendok dan garpu yang dipakai, ternyata ibu sudah selesai makan.


“Kok sudah selesai Ibu makannya?” Ku bertanya heran.


 “Ibu sudah kenyang, tadi sebelum kamu pulang sudah makan buah naga setengan potong." Jelas Ibu.


“Kamu rapih kan meja makan dan cuci piring nda apa kan Sekar?" Ibu bertanya.


 “Ya ibu, nanti semua Sekar beresin. Ibu silahkan istirahat." Jawabku


 “Iya Sekar, makasih ya Nak, Ibu ingin istirahat lebih cepat. Oh iya, jangan lupa kunci pagar dan rumah ya Nak.” '


Ibu berkata sambil menuju ke kamar nya.


“Iya Ibu, selamat istirahat yaa” ucap ku kepada Ibu


Ibu membalas dengan tersenyum dan kemudian berjalan ke kamar nya. Aku melihat Ibu memasuki kamar nya.


Ibu yang bernama Ayudisa Wahono di tinggal oleh Ayah tidak lama dari perceraian ku terjadi. Suatu malam Ayah terkena serangan jantung dan tidak dapat tertolong. Betapa Ibu, Aku dan Vanno sedih dan kehilangan. Aku merasa


sangat sedih, baru saja kehilangan seorang suami bila bisa di ibaratkan begitu, walau lewat perceraian, sekarang harus kehilangan seorang ayah. Serasa berat pundak ini kala itu untuk berjalan. Tak terasa ada titik air mata jatuh di pipi ku. Ku hapus dengan perlahan. Ku panjat kan doa untuk Ayah. Lalu ku selesaikan makan ku malam. Kemudian membereskan meja makan lalu mencuci piring-piring kotor.


Setelah itu ku kunci pintu pagar lalu rumah. Ku matikan lampu penerangan dalam rumah dan menuju ke kamar ku. Ku nyalakan lampu tidur ku dan kembali ke arah pintu untuk mematikan lampu kamar. Ku naik ke tempat tidur ku, membenarkan bantal dan mulai merebahkan badan. Kemudian ku pejamkan mata untuk istirahat.


**********


Sudah lama tidak bertemu Vanno, apa kabar dia ya. Ku beryanya dalam hati. Teringat kembali akan masa kuliah


dulu. Di saat ospek berlangsung di kampus mereka. Pada saat itu aku dan Vanno menjadi


peserta ospek. Kami berdua dan juga peserta lainnya mendapat tugas dari para senior untuk membuat tas kanvas yang kemudian harus di tuliskan nama kampus di tas tersebut. Ketika berbelanja bahan-bahan untuk tas tersebut kami pun berkenalan.


Dan dari kejadian itu kami menjadi akrab. Kami mulai terpisah ketika aku dapat menyelesaikan kuliah dalam jangka waktu 4 tahun. Sedangkan Vanno harus menunggu di semester selanjutnya untuk sidang skripsi. Aku lalu mencari


beasiswa untuk lanjut S2. Karena kesibukan mencari beasiswa dan bekerja, aku jarang menanyakan kabar Vanno, walau lewat telepon. Pada suatu ketika, aku tidak sengaja menjatuhkan ponsel  yang di taruh di kantong baju ke dalam kubangan air ketika di mencoba melewati nya dengan melompat kecil. Alhasil hilang lah semua


nomor kontak dalam ponsel tersebut. Termasuk nomor ponsel Vanno. Karena nya aku semakin tidak tahu kabar Vanno bagaimana.


+++++++


Dear readers....dalam beberapa episode cerita, di dalam nya terdapat POV dari Vinca dan Arga. Semoga readers ngga bingung yaa. Terima kasih untuk terus membaca kelanjutan cerita ini.