
Part 23
POV Arga
“Gua….mmm…gua….Ingin tahu lebih banyak tentang Bu Vinca dari lo. Ngga tahu kenapa, gua ingin sekali tahu tentang dia.”
Terasa panas di sekitar muka ku. Sebetulnya aku merasa malu mengungkap kan keinginan ini pada Vanno. Terlalu awal bisa di katakan seperti itu. Tapi rasa ini sungguh terasa kuat di banding kan yang pernah ada di hati.
Sangat jauh dari mengenal wanita ini. Oleh karena nya aku harus mencari tahu tentang dia.
“Wow. Kaget gua dengar ini. Kenapa lo mau tahu Mba Vinca. Kakak gua ngga ada berbuat aneh kan di kantor?"
Vanno terlihat kaget akan keinginan ku dan kemudian berkelakar membuat pertanyaan seperti yang ia katakan.
“Oh ngga lah Vann, dia karyawan yang baik kok di perusahaan. Aduh…gimana ya… .uumm….Vann, gua ada rasa sama Mba lo."
Akhirnya kata-kata jujur ku terlontar
“Serius? Rasa apa Ga? Strawberry, vanilla apa coklat?”
Lagi-lagi Vanno berkelakar. Sepertinya dia hendak menggoda atas perkataan ku tadi. Aku hanya meringis
menanggapi Vanno. Ku hela nafas pelan untuk menghilangkan rasa canggung ku ini.
“Hahaha…sorry…sorry Ga. Becanda gua kelewatan ya. Maaf yaa. Ok, sekarang serius. Lo suka ama Mba Vinca gitu maksud nya nih?”
Sejenak Vanno tertawa lebar melihat tingkah ku dan kemudian raut wajah nya berubah serius.
“Mmm…kurang lebih gitu Vann. Makanya gua mau tahu tentang Bu Vinca. Gua sama sekali belum kenal, tapi ya kok rasa ini begitu kuat. Kan jadi penasaran sendiri gua nya, hehehe. Setelah semalam apa yang Bu Vinca lakukan,
gua merasa satu hal, dia baik dan perhatian. Dan itu sudah mencuri perhatian ku.”
Panjang lebar aku menjelaskan pada Vanno
“Ecciieee….uhuk..uhuk…baik dan perhatian ya.”
Vanno kembali menggoda ku. Cepat sekali berubah nya kawan ku ini, dari serius kembali lagi berkelakar.
“Ya Allooh Vann. Ya deh gua ngga jadi. Lupain aja deh gua ngomong apa barusan.”
Aku pun pura-pura merajuk di depan Vanno
“Hahaha…ada yang ngambek. Maaf Ga. Tapi ya Ga, hal ini sungguh suatu yang harus gua yakin dulu bahwa rasa lo ini serius. Ok, untuk sekedar tahu tentang Mba Vinca silahkan lo mau tahu apa.”
Kembali Vanno berubah menjadi serius dari bercanda nya
“Ceritain aja Vann yang bisa lo kasih tahu gua tentang Mba lo.”
Jawab ku sambil tersenyum pada Vanno
“Ok. Mba Vinca itu pastinya seorang wanita ya, hehehe. Mmm, betul lo bilang, insyaa Allah dia baik, kalau ngga berarti sakit. Duh, ini mulut susah amat di ajak serius. Baik, mmm alhadulillah iya. Dia selalu berusaha baik sama orang lain. Karena Mba Vinca pernah bilang, kalau kita baik pada orang lain atau sesama mahluk hidup, maka kita akan menuai kebaikan untuk hidup kita juga. Perhatian? Dia sangat sayang dengan orang tua kami. Ke gue juga tentu. Perhatian Mba Vinca ke kami, keluarga nya ngga pernah terlewat. Dulu, waktu jaman masih SD, gue satu sekolah kan sama dia, uang jajan gua sudah habis pas istirahat pertama. Pas pulang lagi tunggu yang jemput kita datang, gua pingin jajan, diakasih deh tuh uang jajan dia hari itu yang ngga di pakai jajan. Sepele. Tapi itu terkenang banget bahwa dia perhatian sama gua. Ke teman-teman dekat nya juga gitu. Kadang ada orang yang ngga di kenal pun dia suka kasih perhatian yang baik. Walau kadang balasannya ngga sesuai perhatian dia sih”
Vanno menjelaskan padaku walau di awal dia masih belum bisa serius.
“Maksud kata-kata terakhir tadi apa Vann? Kadang perhatiannya tidak sesuai dengan balasan nya?”
Tanyaku pada Vanno
“Pernah Mba Vinca memberikan nasi bungkus pada seorang pengemis. Entah itu pengemis lagi kenapa. Apa mungkin lagi butuh banget uang.Pengemis itu terima nasi bungkus dari mba Vinca tapi tetap minta uang, sedikit
maksa sih dengan menyebut nominal yang di minta. Mba Vinca bukan ngga mau kasih, tapi cara nya pengemis itu yang dia kurang suka aja.”
“Oh gitu”
Jawab ku pendek
“Apalagi yang mau lo tahu Ga?”
Tanya Vanno lagi
“Sekolah, Kuliah, sifat?”
Sambil ku angkat bahu untuk menyerahkan pada pada Vanno penjelasan selanjutnya.
“ummm...ok sekolah. SD sampai SMP Mba Vinca di Jaya Pratama School, lalu SMA dapat di negeri, SMAN 1 dekat sini tuh. Kalau sifat….apa ya….kalau sudah ngga suka akan sesuatu, apalagi yang ngga sesuai sama prinsip hidup nya, pasti dah di tinggal sama dia. Murah senyum, humoris kadang. Inpulsif ini yang kadang bikin sebel gua, heeeeee. Kalau dia misalkan marah akan sesuatu, kadang suka tuh ngga nanya jelas-jelas dulu, dah main ngomel aja. Hahaha ampun dah kakak gua itu. Oh iya lo nanya kuliah dia ya. Dapat universitas negeri lagi dia, alhamdulillah. Di Jakarta, dapat lah jurusan ekonomi manajemen pula.”
Vanno mengangkat gelas yang berisi es jeruk kemudian meminum nya. Aku masih terdiam menunggu Vanno kembali menjelaskan tentang kakak nya itu.
“Ga, lo ingat kan gua pernah cerita salah satu masa lalu Mba Vinca sama lo. Dia sudah pernah nikah. Ingat kan?
Lo timbang-timbang lagi deh ya. Lo pikir benar-benar dulu.”
Tiba-tiba Vanno berkata seperti itu padaku dengan raut wajah serius di sertai tatapan tajam padaku.
“Gua ingat. Dan gua ngga masalah sih. Setiap orang punyamasa lalu kan”
Jawab ku tak kalah serius pada Vanno
“Iya gua tahu. Gua ngga mau aja, Mba Vinca jadi sedih lagi kalau lo nanti nya mempermasalahkan masa lalu dia ketika sudah dengan dia”
Vanno berkata masih dengan nada yang serius.
“Mmm…makanya gua tanya sama lo sekarang Vann. Gua mau menyakinkan diri ini bahwa benar bisa menerima Mba Vinca lo dengan segala yangada pada dia. Kelebihan dia, kekurangan dia.”
Ku coba menjelaskan kembali keinginan ku pada Vanno.
“Alasan Mba Vinca dulu bercerai adalah asumsi tidak bisa memiliki keturunan. Padahal itu belum terbukti secara pemeriksaan medis.Hanya menuduh sepihak. Mba Vinca bukan tidak berusaha untuk memeriksakan diri
ke dokter kandungan. Tapi karena suami nya dulu selalu menghindar ketika di ajak untuk konsultasi. Makanya Mba Vinca pun tidak berbuat apa-apa."
Terlihat Vanno menghela nafas perlahan dan kemudian melanjutkan lagi kata-katanya.
“Gua ngga mau lo atau mba Vinca, semisal lo serius ke jenjang selanjut nya ya, kalian berdua merasa sedih satu sama lain. Misalkan benar mba Vinca ada masalah dalam memiliki anak, apa yang lo akan lakukan? Apa
yang akan lo perbuat? Kawin lagi? Cerai in Mba Vinca? Lo pikir baik-baik deh Ga.”
Panjang lebar Vanno menjelaskan bagian cerita lalu pernikahan kakak nya
“Well Vann, pasti gua akan piker kan benar-benar akan hal ini. Dan misalkan gua ngga masalah dengan semua itu, dan ada solusi atas setiapkeraguan lo tadi. Mba Vinca lo belum tentu juga suka sama gua kan.
Dia pun belum kenal gua.”
Kataku pada Vanno
“Lo orang baik, gua yakin Mba Vinca suka sama elo”
*********
Hai readers semoga sehat-sehat semua yaa. Semoga kalian masih terus ikuti novel ini. Masukan buat novel ini boleh banget lho. Like dan vote juga boleh pake minta euy hehehe. Makasih yaa