My Lost Love

My Lost Love
Episode 6



“Assalamu’alaikum…”


“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh” Terdengar suara lelaki membalas salam ku dari ruang


makan. Aku tahu itu suara adikku, Vanno. Dan benar Vanno sedang duduk bersamaibu di kursi meja makan


“Eh Vann, jam berapa sampai tadi?” Tanyaku kepada Vanno.


“Tadi jam 5 mba. Sehat mba?” Tanya Vanno pada ku


“Alhamdulilah Vann. Bawa oleh-oleh ngga nih?"


Ku bertanya kepada Vanno sambil mencolek bahu Vanno.  Dia baru saja pulang dari Bandung karena tugas kantor.


 “Ini ada brownies dan pisang bolen kesukaan kamu Nak.” Jawab Ibu sambil menunjuk oleh-oleh dari Vanno.


“Maysaa Allooh…Makasih adik nya Mbaa”


Ku tepuk pelan bahu Vanno dan langsung duduk di kursi untuk menyantap pisan bolen.


“Sama-sama Mba Sekar. Kalau Vanno ngga bawa oleh-oleh bisa di olok-olok mulu ama Mba. Vanno


inilah..itulah…mana tahan Mbaa."


Seringai tawa Vanno terbentuk di bibir nya sambil berpindah duduk mendekati kursi Ibu.


“Iiihhhh..” tanganku sudah mau melempar remahan bolen ke arah Vanno. Tapi karena Vanno sudah tahu kebiasaan


Mba nya kalau sebel makanya dia menghindar secepatnya dari ku.


“Hahaha..”


Vanno tertawa puas melihat Mba nya tidak bisa melempari nya dengan remahan kue.


“Sudah…kayak anak kecil aja kalian ini” Ibu melerai kami.


 “Sekar…sudah sholat maghrib belum?” Tanya Ibu padaku


“Tadi di kantor Sekar dapat tamu bulanan bu. Jadi libur dulu sholat nya". Jawab ku


“ Ya sudah, kalau sudah selesai kamu mandi dulu. Sehabis Isya kita makan malam bersama.


“Iya bu. Jawab ku


Kemudian aku menoleh ke Vanno.


 “Awas kamu” sambil ku menatap tajam ke Vanno


dan mencibirkan bibir.


 “Hahahaa….” Lepas tawa Vanno sampai geli melihat kelakuan Mba nya yang benar-benar seperti anak kecil.


*********


Duh kenapa gue tadi ya. Batin ku. Gua kebelet tadi makanya buru-buru. Terus pake gatal ini


kuping. Nabrak Bu Vinca pula. Dan yang buat malu pegang bahu nya lagi.


Astaghfirullah…


Maaf ya Allooh, bener-bener ngga sengaja. Ku terdiam dalam kata-kata batinku sendiri.Ku terus melajukan mobil menuju rumah ku sendiri. Alhamdulillah ku sudah punya rumah sendiri hasil kerja keras selama ini. Dari semenjak Bapak lumpuh, aku berusaha bekerja keras untuk membiayai sekolah kemudian kuliah serta kehidupan


Bapak serta diriku. Aku tidak mau mengemis bantuan ke saudara Bapak atau pun mendiang Ibu


.Aku mencoba mencari peluang kerja yang sesuai dengan kemampuan. Alhamdulillah aku bisa kuliah S1 dan S2 dengan beasiswa. Ketika aku sudah punya gaji yang cukup, ku tabung sebagian untuk membeli rumah ini. Tidak setiap saat aku pulang ke rumah. Secara bergantian aku tinggal di rumah dan rumah


Bapak. Kenapa ku tidak tinggal saja dengan Bapak? Karena jarak rumah ku


dengan kantor lebih dekat dibandingkan dengan rumah bapak. Ku parkir mobil di carport


rumah. Rumah yang tidak terlalu besar dengan model minimalis. Ku kunci pintu pagar lalu masuk ke dalam rumah. Ku taruh badan ku sejenak di sofa ruang tamu. Ku lepas sepatu dan dasi yang masih melingkar di kemeja.


“Pfffttt” Ku hela nafas kuat.


Entah kenapa ku masih teringat kejadian tadi siang itu. Terbayang seketika wajah Vinca yang terkaget dengan tabrakan itu .Kenapa wajah itu kebayang sih. Batin ku.


“Subhanallah…” Kembali ku mengehela nafas dan bangkit dari duduk  kemudian berjalan menuju kamar tidur.


*******


“Mmm…kayaknya ngga ada Vann. Kamu tahu kan Mba mu jomblo. Jomblo cerai Vann."


Sedikit sinis ku mengucap kata-kata terakhir tadi.


“Ih si Mba Sekar…dah…dah…lupain lah. Ya dah biar ngga jomblo, temani Vanno ya ke mall. Vanno mau membeli sesuatu” kata VAnno kembali padaku


“Tumben ajak Mba Sekar…mau beli apaan sih, masak mau beli pakaian dalam ajak Mba sih". Godaku ke Vanno.


“Ah Mba nanti juga tahu deh beli apaan. Pokoknya Mba harus temani aku” Vanno memastikan ku


“IYa..iya…Eh, Vann, Ibu ngga di ajak jalan-jalan ke Mall apa?" Ku bertanya kepada VAnno.


 “Ibu mau ikut?" Tanya Vanno ke Ibu yang baru saja menghampiri kami di meja makan setelah mencuci piring.


“Nda..Ibu di rumah aja, capek kalau jalan-jalan di Mall." Ibu menjawab Vanno.


“Nda apa Ibu kita tinggal ke Mall?" Tanyaku ke Ibu.


“Nda apa…kalian kan dah sering ninggalin ibu untuk ke kantor. Ke mall cuma sebentar kan, ngga masalah bagi Ibu di rumah sendirian." Jawab Ibu lagi


“Baik bu”. Jawab ku dan Vanno bersamaan.


*******


Tiba hari Sabtu saat waktunya untuk temani Vanno ke mall. Vanno menyetir mobil nya ke mall yang


tidak jauh dari tempat tinggal kita. Kemudian ketika sampai di mall vanno segera mengarahkan mobilnya ke parkiran basement. Biar ngga panas kata dia. Setelah memarkirkan dan kemudian turun dari mobil, kami pun menuju pintu masuk mall.


“Vann, kamu tuh mau cari apa sih sebenarnya di mall?"  Ku mulai bertanya pada Vanno


“Nanti mba juga tahu deh kalua sudah sampai tokonya” Vanno menjawabku sambil menatap ke depan ketika kami menaiki escalator.


Kami masih menaiki 1 lantai lagi. Dan kemudian VAnno berbelok ke suatu toko perhiasan. Aku masih diam saja, mengamati tingkah Vanno selanjutnya, apa tujuannya berbelok ke toko ini.


“Selamat siang Pak…Ada yang bisa kami bantu?” Sapa seorang pelayan wanita di toko itu.


“Siang….Mau lihat koleksi cincin nikah, bisa mba?” Vanno menjawab pelayan itu.


Aku mengeryitkan dahi ku, sebetulnya ingin segera bertanya kepada Vanno, tapi aku menunggu saja penjelasan dari VAnno. Ku ikuti arah Vanno dan pelayan tadi ke suatu counter.


“Ini pak koleksi cincin nikah kami. Silahkan bapak lihat. Untuk siapa pak cincin kawin nya kalau boleh saya tanya,


Bapak dan Ibu ya? Pelayan tadi menunjuk ke arah Vanno dan aku.


“Bukan Mba….saya kakak bapak ini” Reflek ku menjawab pertanyaan pelayan tadi.


“IYa mba, buat calon saya” Vanno menjawab sambil tersenyum.


“Apa?” Terperanjat ku berteriak sambil melotot ke arah Vanno


********


“Mba…nanti aku jelasin pas kita makan siang ya” Vanno menoleh kepada ku dan tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya.


“Mba Sekar tolong pilihkan dulu cincin mana yang bagus, aku percaya selera mba tidak akan mengecewakan” Seringai Vanno sambil berkata.


Kemudian kami mulai memilih cincin nikah di hadapan kami. Akhirnya terpilih lah satu cincin nikah.


“Ukuran lingkar cincin nya bagaimana pak? Apa perlu di buat lagi atau bagaimana? Pelayan tadi bertanya.


“Oh iya…Mba Sekar, cobain dong cincin nya” Vanno meminta ku memakai cincin itu untuk di coba.


“Memang calon kamu lingkar jari nya sama seperti jari mba apa? Tanya ku menyelidik.


“Mmm…sepertinya hampir sama sih Mba…dia ngga jauh kok tinggi dan besar nya dari Mba”


“Sok tahu kamu, dari mana coba tahu nya? Masih ku menyelidik sambil memasukkan cincin pilihan tadi ke jari manis ku.


“Tahu lah, dari biodata nya, hahahaa..” Vanno tertawa geli sambil menjawab.


“Pas Vann….”sedikit berteriak ku bilang kepada Vanno karena ada perasaan senang bahwa adik semata wayang ini akan menikah.


“Alhamdulillah…sip…kita ambil yang ini ya mba” berkata Vanno ke pelayan toko tadi