
"Kamu mau roti selai coklat bentuk hati apa hatiku yang penuh cinta ini untuk mu?" Aku berkata menggoda
di sertai seringai dan berkedip-kedip manja ke arah mu.
"Uhuk...huk..." Kau tersedak mendengar kata-kata ku tadi ketika menyeruput kopi mu.
Kemudian kau menaruh kopi mu dan mulai tertawa terbahak.
"Hahaha...pagi-pagi sudah gombal aja kamu."
Kamu mengambil piring yang terdapat roti mesis coklat berbentuk hati dan mulai
memakan nya. Aku tersenyum melihat mu lahap memakan roti itu.
Kamu menaruh piring roti tadi kembali ke atas meja lalu menatap ku. Kau
menjulurkan tangan mu ke arah hidung ku dan menjepit dua jarimu di sana.
"Nakal." begitu kau seraya berucap.
"Sekali-kali kan ngga apa-apa kan sama suami sendiri nge-gombal. Aku berkata sambil berusaha
melepaskan jari mu yang menjepit hidungku.
“Hahaha…kamu kembali tertawa karena mendengar suara bindeng ku di sebab kan hidung terjepit.
Aku mencibir bibir ku ke arah mu, “Weekkk.”
Lalu kita melanjutkan sarapan kita kala itu, bersama, penuh tawa bahagia.
Hah….tiba-tiba terasa sesak dalam dada ini. Ku mencoba menarik nafas panjang dan menghelanya kasar.
Ingatan bersama mu dulu masih terbayang. Apa yang kau perbuat, ucapan, gerak
gerik, perlakuan dan tatapan mu kepadaku, ah.
Kapan akan hilang, batinku berkata. Ku habiskan teh hijau hangat yang ada di genggaman untuk menenangkan batin ini.
Kau adalah masa lalu ku. Di mulai ketika kau lebih memilih perkataan ibu mu untuk menceraikan aku karena pernikahan kita tak kunjung mendapatkan keturunan. Kau ingin tetap bersamaku, tapi di sisi lain ingin mengabulkan permintaan Ibu untuk menikah lagi dengan perempuan pilihan nya.
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya di madu. Dimana harus melihat mu
berbagi kasih sayang dengan perempuan lain, membuat aku meminta kau memilih di
antara kami. Dan kita berakhir dalam persidangan cerai.
Aku dulu berharap di umur pernikahan kita masih terbilang muda, kita terus berusaha bersama untuk menunggu anugerah di berikan keturunan oleh Allah. Tapi kenyataan berkata lain. Kau pun menikah kembali dengan
pilihan dari ibu mu.
Aku Vinca Sekarsari di umurku yang 27 tahun sudah menjadi janda. Aku yang memiliki tinggi badan 160cm, berkulit kuning langsat dan dengan berat badan sesuai dengan BMI, berpenampilan dengan hijab sangat tidak lah mudah menyandang status ini. Terkadang aku merasa banyak orang meilhat negatif nya dari pada positif dari status ini.
"Hah."
Rasa sesak itu mulai berhamburan lagi. Ku terus menarik nafas panjang dan menghela nya berharap dapat menghilang kan rasa itu. Kulihat jam di dinding kamar ku sudah menunjukkan pukul 23.25.
Saat nya ku beristirahat, tidur, dengan begitu semua beban di hati akan hilang.
Dan esok di hari Senin akan ada pertemuan dengan manager baru di divisi ku. Aku harus datang tepat
waktu untuk menyiapkan yang di perlukan dalam pertemuan itu.
Ku nyalakan lampu tidur ku dan mematikan lampu kamar. Ku lanutkan doa, "Ya Allooh, Engkau Yang
Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaMU. Berikan aku ke ikhlas an dalam melewati ini semua."
Aamiin.
********
“Pagi Vinca, Wa’alaikumsalam. Apa kabar?Gimana weekend nyaa?"
Jawab July, Fandi,Kiki secara ber gantian.
Fandi dan Kiki sedang berkerumun di meja kerja July. Aku berjalan mendekati meja July dan menjawab pertanyaan mereka dengan meniru nada bicara youtuber.
“Seperti biasanya gaess” Jawabku sambil menaruh tas di ats mejaku.
“Biasa gimana gaess?” Kiki menyahut perkataan ku.
“Biasa sendiri gaess.” Menyeringai ku kepada mereka sambil memutar bola mataku.
“Hahaha.” Serentak mereka tertawa terbahak mendengar kata-kata ku tadi.
“Kasihan banget kamu deeh.” Giliran Fandi menyahut ala youtuber sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.
“Kalian nih senang banget klo gue jawab gitu,huh,” jawabku sambil cemberut.
July, Kiki dan Fandi adalah teman kerja ku dan kita sudah akrab sekali. Aku dan mereka di terima dalam perekrutan yang diadakan perusahaan tempat kerja sekarang ini di waktu yang bersamaan. Di tempatkan dalam divisi yang sama juga. Kami pun menjadi semakin dekat sebagai teman. Bahkan ketika aku menghadapi perceraian kemarin, mereka yang dengan gigih menghiburku, memberi semangat untuk bisa melewati semua.
Adalah July, perempuan tinggi semampai dan bertubuh proporsional,berambut lurus, baru bulan lalu menikah, masih pengantin baru. Tiap pagi dia tiba di kantor, selalu basah rambut nya, dan kita
pun pasti meledek nya,”yang pengantin baru, basah terus tuh rambut”. Di pastikan setelah itu
kami bertiga tertawa terbahak. Tinggal July, yang cemberut dengan pipi
memerah menahan malu, bersungut-sungut ke meja nya, dan menunjuk ke arah kami
dan berucap “you..you..you ..awas ya, huh," kemudian dia memalingkan muka,
berpura-pura marah.
Fandi, laki-laki berkulit putih dengan tinggi 170 cm dan bentuk tubuh yang ideal, selalu rapih dan matching. Itu semua berkat istrinya, yang pandai memadu padankan baju kantor Fandi. Begitu Fandi bercerita kepada kami. Fandi dan istri sudah memiliki seorang putra, Juno nama nya.
Dan Kiki, perempuan bertubuh gempal, kuning langsat dan berhijab. Dia masih single, masih mencari pangeran bagi dirinya. Diantara kami, Kiki dan aku yang berhijab.
“Pagi semua.”
Terdengar sapaan kepada kami ketika kami sedang bersama.
“Pagi Pak”
Serentak kami menyahut kepada suara itu. Pemilik suara itu sudah kami kenal, atasan kami
dalam perusahaan ini, Pak Anto, kepala divisi marketing.
“Sudah siap untuk bertemu manajer utama marketing kita?” Pak Anto bertanya.
” Iya, siap pak.” Jawab kami bersamaan.
“Ok. Bawa semua berkas, file dan data yang sudah kita siapkan minggu lalu, saya tunggu di ruang meeting!”
“Baik pak."
Dan kami bersegera menyiapkan segala sesuatu nya seperti yang di instruksikan Pak Anto.
***********
Semua divisi marketing sudah berada di ruang meeting. Fandi sedang menyiapkan data-data yang ada di laptop. July, merapihkan berkas-berkas yang dia bawa. Begitu pun dengan Kiki. Aku memandangi mereka semua, karena file-file yang aku bawa sudah tertata di depan ku. Ku lihat pak Anto sedang melihat ke arah ponsel nya seperti membaca hal penting disitu. Lalu ku arahkan pandangan ke luar ruang meeting yang berkaca tebal bening. Dari kaca itu akan terlihat jelas dari dalam atau luar ruangan, siapa-siapa saja yang sedang di dalam ruang atau yang tengah lewat di luar sana. Tiba-tiba muncul sosok laki-laki dengan jas biru gelap, kemeja putih dan berdasi strip merah biru. Rambut nya tertata rapih dan ku rasa dia memakai pomade. Cukup ganteng, membuat ku terkesima sejenak.
Ternyata sosok laki-laki itu membelok ke arah ruang meeting ini. "Hah, apa ini manajer baru nya?", dalam hati ku bertanya dan segera mulai membenarkan duduk ku ke dalam posisi tegak.