My Lost Love

My Lost Love
Episode 12



Ketika kami memasuki kantor cabang di terima oleh Satpam dan resepsionis kantor itu. Tak berapa lama pemimpin cabang pun beserta beberapa orang  lainnya menyambut kami dengan ramah. Setelah perbincangan beberapa saat antara Pak Arga dan pemimpin cabang serta manajer pemasaran cabang, tugas kami pun di mulai. Pak Arga dengan cermat memeriksa berkas-berkas yang telah di sediakan oleh kantor cabang. Sesekali dia mencocok kan dengan file yang ada di laptop nya. Sementara aku membantu Pak Arga memberikan berkas A atau B yang di bawa dari kantor pusat. Aku pun diminta untuk mencocok kan secara manual berkas-berkas dari cabang dengan data yang kami bawa. Kami di temani oleh manajer pemasaran cabang dan staff nya. Sesekali juga Pak Arga bertanya suatu hal yang tertera di laporan mereka. Dan mereka pun menjawab dengan teliti.


“Pak Arga , Bu Vinca silahkan kalau mau minum kopi atau teh, sudah kami sediakan di situ."


Pak Manajer cabang menawarkan kami kopi dan tehsambil menunjuk ke sudut ruang yang sudah tersedia minuman tersebut.


“Terima kasih Pak Dirga”  jawab Pak Arga kepada Pak Manajer cabang.


“Bu Vinca, mau kopi atu teh mungkin? Pak Arga menawari ku sambil ia berdiri dari kursi nya.


“Eh Pak, biar saya yang ambilkan ya, Jawabku segera dan mencoba bangkit dari duduk ku juga.


“Sekalian saja bu Vinca, biar saya ambilkan ya.Teh atau Kopi?"


Tanya Pak Arga sambil memberi tanda gerakan tangan menunjukkan aku untuk duduk saja.


“Teh saja Pak". Jawabku dan kembali ke posisi duduk semula.


Pak Arga berjalan menuju tempat minuman di temani manajer cabang. Sambil membuat minuman disana terlihat Pak Arga dan manajer saling berbincang. Pak Arga pun kembali menuju ke meja kami dan membawa dua cangkir putih dengan tatakannya.


“Here is your tea” Pak Arga menaruh cangkir putih berisi teh tepat di hadapanku.


“Terima kasih Pak” kataku sambil mengangguk pada Pak Arga


Ada ya pimpinan mau gitu ambilin karyawannya minuman, salut. Dalam hatiku terpana dengan yang baru saja terjadi.


Sejenak kami menikmati minuman kami. Kulihat Pak Arga membuat kopi hitam untuk dirinya. Aku pun menikmati hangat nya teh yang di buat kan Pak Arga tadi.


Tak terasa jam menunjukkan tengah hari. Bunyi adzan dari sebuah ponsel terdengar. Suara itu dekat dan ternyata dari ponsel pak Arga. Pak Arga melihat ke layar ponsel nya dan langsung jari nya mengetuk pada layar ponsel dan akhir nya suara adzan tadi terhenti pada lafaz yang tepat.


“Sudah waktu Zuhur, kita break dulu ya Pak Arga."


Pak Dirga membuka suara dengan bertanya kepada Pak Arga.


“Iya Pak Dirga sebaiknya begitu."


Pak Arga menjawab Pak Dirga dan merapihkan berkas serta laptop beliau.


Pak Arga mengarahkan pandangan nya kepada ku. Mendekat kan sedikit kepala nya kepada ku.


“Bu Vinca, kita shalat zuhur dulu nanti di lanjutkan lagi.


Pak Arga berkata dengan sedikit membisik.


“Baik Pak”


Jawabku pendek kemudian merapihkan juga berkas yang ada di meja hadapanku.


“Silahkan Pak Arga, musholla kami ada di luar ruangan ini, mari saya temani."


Pak Dirga dan beberapa staff laki-laki berdiri hendak menuju ke musholla bersama-sama.


Bergantian mereka keluar dari ruangan menuju musholla. Tinggal lah aku dan dua staff perempuan di ruangan. Aku pun mendekati mereka dan memperkenalkan diri kepada mereka. Saling berjabat tangan dan menyebutkan nama


kami lakukan. Nama mereka Shelly dan Mira.


“Punten Shelly, musholla nya arah kemana ya?"


Aku bertanya kepada Shelly dengan logat Sunda.


“Ah, arah ke kanan dari ruangan ini. Hayuk atuh bu saya antarkan."


“Hayuk Shelly".


Jawabku sambil membawa tas berisi mukena ke arah musholla.


“Teh Shelly ,bu Vinca saya permisi mau siapkan makan siang dulu, maaf tidak ikut mengantar ke musholla ya."


Mira berkata padaku dan Shelly dengan logat Sunda yang sama seperti Shelly.


Kami pun mengangguk bersamaan dan berjalan keluar ruangan menuju musholla.


******


Setelah selesai wudhu aku menuju musholla. Tempat wudhu ada di sebelah ruang musholla. Ketika aku berjalan hendak masuk ke pintu musholla, keluar lah Pak Arga dengan rambut coklat gelap nya masih sedikit basah sisa


dari wudhu nya. Muka nya terlihat putih bersih. Deg..deg…jantung ku berdebar cepat lihat penampakan ini. Ku hentikan langkah ku karena harus bergantian masuk ke dalam musholla. Pak Arga tersenyum padaku dan berlalu ke tempat duduk untuk memakai sepatunya. Aku menunggu sampai beberapa laki-laki keluar dari


musholla.


Tak ku sadari aku menoleh ke arah Pak Arga duduk sedang memakai sepatunya, aku  menatap lama ke arah Pak Arga. Merasa seperti ada yang menatapnya Pak Arga menoleh ke arah ku bertepatan dengan Shelly datang dari


selesai wudhu kemudian menepuk pundak ku untuk masuk ke dalam musholla. Bertepatan itu juga ku palingkan wajah ku untuk segera masuk ke dalam musholla.


Aku mulai memakai mukena ku sambil berkata dalam hati.


Oh Vinca, get real  please. Sadar Vinca, sadar. Jangan kau pakai hati mu. Dia boss kamu. Mungkin saja dia sudah punya calon istri atau mungkin pacar. Jangan Vinca, sudahi rasa mu. Hanya karena senyum, perhatian


dan terlihat sholeh kamu terpana. Belum tahu kamu isi hati nya terdalam kan. Kamu kan sudah pernah alami dulu, terpikat dengan hal-hal seperti yang kamu rasa saat ini, akhirnya, pisah. Sampai pada kata akhir tadi terasa


nyeri di dada ini. Ku hembuskan nafas pelan. Ku memulai focus untuk shalat.


“Allahu Akbar…”


***********


Di luar musholla ada batin yang juga berkata pada dirinya sendiri. Hmmm, dia memandangku sampai seperti itu. Ada apa? Menarik juga ini. Sambil tersenyum sang pemilik batin bangkit dan mulai berjalan menuju ruangan meeting beserta Pak Manajer cabang dan lainnya.


*********


“Assalamu’alaikum warahmatullah…….Assalamu’alaikum


warahmatullah…”


Baru saja mengakhiri shalat qashar jama ashar ku. Ku berdzikir sebentar untuk menghilangkan racauan hati yang tak jelas tadi. Ketika sudah merasa tenang aku berlanjut kembali menuju ke luar musholla dan ku lihat Shelly sedang menunggu di bangku untuk memakai sepatu.


“Maaf Shelly, kamu menunggu lama ya” Aku meminta maaf pada Shelly karena menunggu ku lama.


“Ah ngga apa-apa bu, santai aja” Jawab Shelly


Segera kami berjalan menuju ruangan tempat kami bekerja tadi. Ketika kami memasuki ruangan ternyata makan siang telah tersedia. Aku melihat ke arah meja ku dan sudah ada nasi box dengan model kekinian beserta botol infused water. Ku menuju meja ku dan duduk. Ketika ku merapihkan mukena ku dan merapihkan duduk ku untuk memulai makan, Pak Arga kembali mendekatkan kepala nya ke arah ku dan berkata lirih.


“Bu Vinca, selamat makan siang ya. Pak Arga mengakatan kata-kata itu sambil melihat padaku pada jarak yg cukup dekat dan kembali entah untuk berapa kali nya tersenyum manis kepadaku.


“I..iiyaa Pak, selamat makan siang juga” Jawab ku terbata sambil menjauhkan sedikit kepalaku dari kepala Pak Arga.


Ku buka botol infused water yang ada di meja dan ku tuangkan perlahan airnya ke dalam gelas kosong yang sudah di sediakan di depan ku. Ku teguk perlahan untuk menghilangkan kaget ku barusan. Aduh Pak, jangan bersikap


manis seperti ini dong, aku takut pak, takut untuk jatuh cinta lagi. Mata ku menanar dan mulai memakan makan siang ku.