
POV Author
Vinca berencana membalas traktiran Arga yang dia rasa sudah begitu banyak. Dari kue oleh-oleh sampai makan siang. Vinca memesan makanan menu special dari warung online salah satu kawan kuliah nya yang menjadi
langganan bila ada acara special atau ketika sedang ingin makan enak. Isi makanan special itu Vinca pesan yang umum saja, seperti ada lauk daging sapi dan ayam serta sayuran. Vinca sebetulnya sangat tidak tahu kesukaan atau ketidak sukaan Arga akan makanan. Maka ia memilih makanan yang umum orang suka saja. Tidak lupa Vinca menyertakan penutup mulut terenak dari warung online tersebut.
Dan di keesokkan hari nya, Vinca mengirimkan pesan melalui ponsel nya kepada Arga.
“Assalamu’alaikum. Pak, hari ini saya ada pesan kan makan siang untuk Pak Arga. Saya harap bapak berkenan menerimanya”
“Wa’alaikumsalam. Wah….surprise banget dapat kiriman makansiang. Bu Vinca ultah ya? :D”
“Ngga pa. Gantian traktir bapak aja,hehehe”
“Kok jadi gantian traktir sih. Mmmm…misalkan besok saya balas traktiran lagi bagaimana hayoo?:D”
“Mmm…ya nanti kapan-kapan saya balas traktir lagi Pak, hihihi. :D”
“Hahaha…terus aja kita ganti-gantian traktir ya bu, boleh juga tuh ;)”
“Bangkrut pak nanti saya :D. Hari ini aja deh saya balas traktiran bapak :P :D”
“Hahaha…..ok bu Vinca, terima kasih ya untuk traktiran nya hari ini”
“Sama-sama ya Pak”
Pesan yang di kirimkan Vinca ternyata menjadi obrolan ringan penuh kelakar dengan Arga. Ketika Vinca dan Arga menyudahi saling membalas pesan tadi mereka tersenyum lebar. Mereka berdua merasa lega karena bisa saling
berkomunikasi tanpa rasa canggung.
Arga sangat menikmati makan siang yang di kirimkan oleh Vinca untuknya. Sebelum ia memakan makan siang nya itu, Arga sempat mengambil foto makanan itu dan mengirimkannya kepada Vinca melalui ponsel. Arga menyisipkan kata-kata beserta foto itu yang isi nya;
“Sudah sampai makan siang nya. Terima kasih.”
Ketika pesan itu diterima oleh Vinca, dia mengulas senyum yang sampai membuat Kiki bertanya apa yang sedang terjadi. Memang saat menerima pesan itu Kiki sedang berdiri dekat meja kerja Vinca. Mereka hendak bersiap untuk pergi makan siang bersama. Tanpa menggubris pertanyaan Kiki, Vinca membalas pesan Arga;
“Selamat menikmati pak, semoga berkenan”
Kembali Arga dan Vinca mengulas senyum lebar mereka, merasakan kegembiraan yang entah apa itu.
*
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Sejak kejadian balasan traktiran dari Vinca, Arga mencoba menetralisir apa yang dia rasa. Arga ingin menilai sendiri rasa yang ia miliki apakah sungguh kepada Vinca atau hanya kekaguman semata. Begitu pun dengan Vinca, setelah hari itu, ia pun hanya menganggap bahwa kegembiraan nya atas interaksi nya dengan Arga hanya sementara ada nya. Vinca berpikir bahwa setelah hari itu, dia akan kembali menjadi rekan kerja seperti biasanya dengan Arga. Suatu hal yang mustahil di mata Vinca bila ia dan Arga bisa lebih dari hanya “boss dan karyawan”.
Vinca dan Arga dengan sudut pandangan mereka sendiri mencoba kembali pada realita masing-masing.
Tapi apa yang terjadi selanjutnya. Dalam hitungan hari atau setiap minggu ada saja kejadian mereka harus bertemu, berbicara, berdiskusi bahkan bertatapan. Tentu saja bagi mereka berdua ada saat dimana harus bertemu
saat meeting atau suatu hal yang mengharuskan Vinca ke ruangan Arga untuk urusan kerjaan.
Selain hal itu ada saat dimana mereka harus berpapasan saat akan ke toilet, seperti saat mereka awal dulu pernah bertabrakan. Saling jumpa saat Arga selesai dari berolah raga pagi dan Vinca baru saja tiba di depan gedung kantor. Sampai saling bersua di tenda warung tempat Vinca dan kawan-kawan biasa makan siang.
Dalam setiap perjumpaan itu ternyata Arga masih merasakn degup jantung nya tak beraturan. Setiap melihat sekilas wajah Vinca masih ia merasa masih ingin melihat wajah itu. Banyak kejadian dari pertemuan itu yang
membuat Arga bertasbih dan beristighfar untuk meredam rasa.
Dengan pertemuan-pertemuan singkat yang tidak di rencanakan oleh Arga ini, membuat dia semakin bingung akan perasaan nya terhadap Vinca. Arga pun tidak urung untuk mengungkapkan perasaan nya ini kepada sang Penguasa Hati, Allooh. Dalam doa yang di lanutkan nya, Arga meminta kepada Sang Penguasa Hati, bila rasa yang ada ini adalah atas ridho Nya, maka jadikan lah ia sebagai jodohnya. Arga bermohon juga, bila tidak maka Arga
di jauhkan. Berulang kali dalam setiap ibadah nya Arga pun melanutkan doa nya ini.
Terkadang Arga mendapatkan diri nya bermimpi, dia, Vinca dan seorang anak laki-laki sedang bersama tertawa bahagia dalam suatu piknik di suatu taman yang indah. Setiap terbangun dari mimpi ini, Arga merasa semakin yakin bahwa perasaan nya terhadap Vinca bukan hanya kekaguman semata.
Tapi keraguan masih merayap dalam hati Arga. Masih banyak yang ia belum tahu mengenai Vinca. Dan Arga pun berencana untuk bertemu Vanno lagi untuk mencari tahu mengenai Vinca. Arga pun mempunyai rencana untuk berkunjung ke rumah Vinca dan Vanno untuk berkenalan dengan Ibu mereka.
Pada suatu pagi ketika Arga selesai dari jalan pagi nya, ia kembali mendapati Vinca yang baru tiba di depan gedung kantor. Arga pun mempercepat langkah nya untuk menghampiri Vinca. Biasanya Arga akan menyusul
langkah Vinca memasuki gedung kantor, menyapa nya lalu segera berlalu. Kali ini Arga ingin membersamai langkah nya dan Vinca memasuki gedung kantor, berharap ada sedikti perbincangan terjadi. Dan akhirnya langkah Arga pun sudah mensejajari langkah Vinca. Dan Arga pun mulai menyapa Vinca.
“Assalamu’alaikum bu Vinca, morning”
“Wa’alaikumsalam, mo..mo..morning. Eh Pak Arga”
“Iya saya bu. Baru sampai ya”
“Ii...iyaa Pak. Sudah berapa kilo nih pak pagi ini?”
“Mmm….. standar…. 10,000 langkah.”
“Mantap banget pak,
sehat..sehat…”
“Ikhtiar sehat bu”
“Iya betul pak, ikhtiar. Jangan seperti saya, sudah tiap
hari kerja, sabtu minggu olahraga nya di kasur aka tidur pak, hihihi”
“Ya di sempatkan bu, enak deh di badan kalua kita olah raga”
“Iya pak, siap. Mmm…bapak sepertinya kelemahan soal sehat
nya adalah di kopi ya, kalua kebanyakan nanti kumat maag nya, heeeeee.”
“Wah… bu Vinca pegang kartu troop saya”
“Maaf ya Pak, bercanda yaa, peace”
“Iya bu, tapi memang benar kok. Ayo bu, pintu lift sudah
terbuka, silahkan masuk”
“Iya pak”
Dari hanya sapaan tercipta juga sedikit perbincangan antara Arga dan Vinca. Mereka saling terdiam ketika di dalam lift, Tapi sesungguh nya, dalam hati mereka terbentuk senyum sumringah pertanda hati mereka merasa senang.
****
Hai readers, maaf kan author yang lama tidak upload. Hope... just hope.... readers masih mau terus ikutin novel ini yaa.Terima kasih