
POV Vinca
Masih ku pandangi makan siang ku hari ini. Sambil menikmatimenu beef teriyaki, chicken yakiniku, shrimp roll, salad dan juga nasi, masih ku berfikir dalam rangka apa Pak Arga mentraktir kami makan siang hari ini. Apa
Pak Arga berulang tahun hari ini? Atau lagi dapat bonus? Semua terlintas di pikiran ku.
“Vinc….makan kok bengong?”
Kiki sudah berdiri di samping meja dan membuyarkan pikiran ku dengan pertanyaan nya.
“Hmm Ki, sudah selesai makan lo?”
Aku merespon Kiki masih dengan menguyah makanan.
“Sudah dong, alhamdulillah. Eh, Vinc ada apaan ya Pak Arga traktir kita makan siang? Emang dia ulang tahun ya?”
Kiki memberondong ku dengan pertanyaan
“Nah itu gua juga ngga tahu Ki. Dari tadi gua makan sambil mikir alasan Pak Arga traktir kita. Bisa jadi dia ulang tahun. Gua no idea banget alasan beliau traktir kita.”
Aku pun menjawab Kiki secara beruntun
“Lo sudah bilang terima kasih sama beliau?”
Tanya Kiki
“Belum juga selesai makan gua Ki. Nanti sekalian sholat zuhur gua mampir ke ruangan dia untuk bilang terima kasih. Lo mau temani gua ngga ke Pak Arga”
Ku mengajak Kiki untuk menemani ke ruangan Pak Arga.
“Lo aja deh Vinc, gua lagi ngga sholat”
Kiki meminta ku pergi tanpa dia untuk menemui Pak Arga
“Ah elo gimana, kan kalau ikut jadi tahu alasan nya langsung dari Pak Arga untuk apa traktiran makan siang hari ini.”
Aku masih mengajak Kiki untuk menemani ku.
“Elo aja lah Vinc. Tadi juga Mas Parman cari nya lo. Berarti Pak Arga kan instruksi ke dia untuk bertemu lo. Jadi lo aja yang bertemu Pak Arga. Oke?”
Kiki menjelaskan hingga membuat ku menganga mendengar penjelasannya. Kemudian Kiki pun menyeringai lebar pada ku.
“Ya ngga apa-apa lah kalau lo temani juga. Apa July atau lo Fand temani gua ke Pak Arga?”
Karena Kiki terlihat masih enggan menemani ku akhirnya ku bertanya pada July dan Fandi sekira nya mereka mau menemani ku. Kemudian Fandi berjalan ke arah meja kerja ku.
“Lo aja Vinc. Ada benar nya juga alasan Kiki tadi bilang. Mungkin ada alasan personal yang kita ngga perlu tahu bisa juga kan?”
Fandi berkata sambil menaikkan kedua alis nya sambil tersenyum menggoda
“Aih alasan personal apa coba. July, lo temani gua ya?”
Sebal pada alasan Fandi tadi akhirnya ku ajak July untuk menemani ku.
“Vinc, kamu sendirian ngga apa-apa kan? Mmm …..tinggal bilang terima kasih terus selesai kan. Bisa lah kamu sendirian”
July berkata padaku dengan hati-hati.
“Huh kalian ya, gua di suruh maju sendiri ke Pak Arga. Ngga aaacciii.”
Ku berkata pada mereka bertiga sambil memanyunkan bibirku.
“Nanti gua traktir es krim deh”
Kiki berkata pada ku sambil mengedipkan matanya.
“Gua tagih ntar ya Ki, awas kalua ngga."
Jawabku sambil membereskan kotak makan siang ku tadi.
**********
Ku sedang berdiri di depan pintu ruangan Pak Arga. Sewaktu tadi hendak shalat ke musholla, ku sempat kan untuk ke ruangan Pak Arga akan tetapi beliau tidak ada di tempat. Maka aku pun langsung menuju musholla untuk
menunaikan shalat. Sekarang sebelum kembali ke ruangan kerja, ku hampiri lagi ruangan Pak Arga untuk menyampaikan terima kasih ku dan teman-teman atas makan siang tadi. Ketika hendak mengetuk pintu ruangan Pak Arga ada seseorang memanggil nama ku.
“Bu Vinca…”
Ternyata Pak Arga yang memanggil nama ku
“Eh Pak, Assalamu’alaikum”
Sapa ku pada pak Arga
“Wa’alaikumsalam. Ada apa bu?”
Pak Arga bertanya padaku
“Mmm… mau bertemu dengan Bapak, mau menyampaikan sesuatu”
Jawab ku perlahan
“Oh ok, menyampaikan apa bu? Ayo silahkan masuk ke ruangan saya.”
Pak Arga mempersilahkan aku masuk ke dalam ruang kerja nya.
“Ii..yaa..Pak”
Tergagap ku meng-iya-kan Pak Arga
“Silahkan duduk bu Vinca”
Sungguh ramah suara pak Arga mempersilahkan aku duduk
“Terima kasih pak”
Aku pun duduk di kursi berseberangan dengan meja serta kursi kerja Pak Arga
“Bu Vinca, tadi mas Parman sudah bertemu dengan ibu ya?”
Pak Arga bertanya padaku
Aku menjelaskan pada Pak Arga maksud tujuan ku bertemu dengan nya.
“Hmm..sama-sama Bu Vinca”
Pak Arga berkata diiringi senyuman.
“Pak, kalau boleh tahu, tadi saya di tanya teman-teman, kenapa bapak kirim makan siang untuk kami? Bapak ulang tahun ya?”
Aku memberanikan diri bertanya tujuan pak Arga mengirim kan makan siang tadi.
“Oh…mmm…itu…..saya ngga lagi ulang tahun hari ini. Cuma mau kasih tanda terima kasih aja sama bu Vinca sudah bantu saya tempo hari.”
Pak Arga menjelaskan alasan dia mengirim makan siang tadi.
“Wah Pak sampai di balas kirim makanan, jadi enak saya, hehehe”
Aku berseloroh atas penjelasan Pak Arga tadi. Dan Pak Arga pun tertawa dengan selorohan ku itu.
“Semenjak saya jadi manajer disini belum pernah kan saya traktir bu Vinca dan teman-teman. Ya sebagai tanda salam kenal saya lah untuk Bu Vinca dan teman-teman. Semoga ke depannya kita terus bisa bekerjasama dengan
baik.”
Dengan nada bijaksana nya Pak Arga berkata pada ku.
“Hehehe….iya pak, terima kasih. Teman-teman juga bilang terima kasih atas makan siang nya.”
“Sama-sama bu Vinca.”
“Oh iya, gimana dengan sakit Pak Arga? Tentu sudah lebih sehat kan ya? Jadi ke dokter kemarin Pak?”
Aku teringat untuk menanyakan Pak Arga perihal sakit nya tempo hari.
“Alhamdulillah bu sudah jauh membaik. Sudah ke dokter dan ini obat yang harus saya minum.”
Pak Arga berkata seraya menunjukkan kantong obat yang tergeletak di meja kerja nya.
“Alhamdulillah. Mungkin jangan minum kopi dulu Pak. Air putih sehat.”
Dengan santai nya aku memberikan masukan kepada Pak Arga.
“Hahaha…iya bu, untuk beberapa hari memang harus air putih terus”
Pak Arga berkata serta tertawa dan menggelengkan kepalanya
“Biar sehat Pak. Nanti kalau sudah sehat bisa minum kopi lagi”
Kataku sambil menyeringai meledek Pak Arga
“Hahaha….ya ya betul juga. Kalau sudah sehat bisa minum kopi lagi”
Pak Arga tertawa lalu mengangguk-angguk kan kepala.
“Ya sudah pak, saya permisi balik ke ruangan kerja dulu. Nanti saya kena SP sama bapak ngobrol terus”
Entah kenapa aku begitu santai sampai bisa berkelakar saat sekarang berbicara dengan Pak Arga.
“Hahaa…baik bu Vinca, silahkan.”
"Ah Pak satu lagi kelupaan saya."
Ku tepuk perlahan jidat ku
"Oh apa Bu Vinca?"
Pak Arga bertanya
"Kue-kue belanjaan kemarin di Bandung, kan itu di bayar kan sama Bapak. Total nya jadi berapa pak? Teman-teman pada bertanya juga nih soal ini."
Kata ku pada Pak Arga
"Oh itu, sudah bu, anggap saja oleh-oleh dari saya untuk bu Vinca dan kawan-kawan.
"Kembali Pak Arga berkata sambil mengurai senyum nya selama dia di hadapan ku ini
"Wah Pak jangan lah, jadi menang banyak ini saya"
Aku merasa tidak enak dengan Pak Arga tapi masih bisa berseloroh juga
"Menang banyak?"
Pak arga bertanya sambil menaikkan satu alis nya
"Iyaa Pak, tadi kan sudah kirim makan siang. nah sekarang di tambah kue-kue kemarin di bayarin juga sama bapak. Kan kami jadi menang banyak gitu.
Jawabku sekena nya
"Tidak apa-apa bu. Kalau orang lain senang, kita akan senang juga kok. Begitu bukan bu?"
Pak Arga berkata dan di iringi senyum yang manis kesekian kali nya
"Iya Pak insyaa Allooh begitu.Semoga Bapak banyak berkah dan di beri rejeki selalu ya, aamiin. Terima kasih banyak ya Pak.
Doa ku untuk Pak Arga atas kemurahan hatinya
"Baik pak sekarang saya permisi beneran, heee"
Kembali aku pamit pada pak Arga
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam”