My Lost Love

My Lost Love
Episode 19



POV Arga


“Halo..ya pak sesuai aplikasi ya…ok, saya tunggu, terima kasih.”


Aku baru saja berbicara dengan supir taksi online yang menerima pesanan dari ku. Ku lihat di luar rumah bu Vinca sepertinya sedang berbicara dengan Bapak. Berbicara apa dia dengan Bapak? Ku melangkah pelan ke arah pintu mencoba mendengar apa yang mereka bincangkan.


“Halaman nya bagus Pak, banyak tanaman nya”


“Iya, Ujo merawat halaman ini dengan baik.”


“Udara juga terasa segar ya Pak”


Hmm mereka membicarakan halaman depan. Ku perhatikan bu Vinca menghirup udara pelan


“Iya, makanya tiap pagi saya duduk di halaman ini. Sekalian berjemur matahari pagi. Dan menghirup


udara yang masih segar.


Kembali ku lihat dia mendongak kan wajah ke atas menghadap langit. Dia memejamkan matanya dan menghirup udara kembali. Terlihat dia sangat menikmati yang sedang di lakukan. Pemandangan apa ini yang kulihat. Kenapa


dadaku berdebar melihat pemandangan di hadapan ku ini. Aku menghela nafas panjang untuk menetralisir rasa yang ada ini.


“Iya Pak, hangat matahari pagi di tambah sejuk udara membuat nyaman ya”


“Sehat Nak. Matahari pagi baik untuk kesehatan Nak.”


“Eh iya pak, jadi sehat”


Dia tersenyum. Dan …ah…senyum itu …Ku tunduk kan pandangan ku. Aku tidak meneruskan melihat senyum dari wajah bu Vinca. Dia, yang sejak kemarin sudah membuat hati dan pikiran ku tak menentu. Entah apa ini.


Subhanallah….Aku mencoba menenangkan hati ini.


Ku langkah kan kaki ku menuju luar rumah untuk memberitahu bu Vinca bahwa taksi online yang akan mengantar dia ke kantor akan tiba. Kemudian ku antar dia keluar rumah. Tak berapa lama kami keluar dari pagar


rumah, taksi online yang ku pesan sudah sampai. Ku buka kan pintu penumpang untuk bu Vinca, kemudian dia berpamitan dengan ku. Dan tak berapa lama taksi online yang membawa nya melaju perlahan.


Ku kembali ke dalam rumah. Kuhampiri bapak yang masih duduk berjemur pagi.


“Bapak, sudah mau masuk ke dalam rumah belum?” Tanya ku kepada Bapak


“Sebentar lagi Ga. Nanti Bapak panggil Ujo atau kamu kalau sudah selesai.” Bapak berujar padaku


“Baik Pak” jawabku sambil hendak membalikkan tubuh ku untuk masuk ke dalam rumah


“Ga….” Bapak memanggil ku


“Iya Pak” ku membalikkan tubuh ku menghadap Bapak lagi


“Tadi siapa? Tanya Bapak padaku


“Ah iya Pak, maaf tadi Arga tidak kenalin bu Vinca sama Bapak” aku menjawab pertanyaan Bapak sambil menggaruk kepala ku yang tidak gatal


“Bu Vinca? Dia sudah ibu-ibu gitu? Oh, maksud kamu dia sudah berkeluarga ya?”


Bapak kembali bertanya dengan nada bingung


“Bapak…itu hanya sebutan saja. Maksud Arga, dia kan satu kantor sama Arga. Ya sesama pekerja kan untuk sopan santun kita saling panggil Bu atau Pak. Gitu pak…” Jawabku di sertai penjelasan atas pertanyaan Bapak


“Oh dia satu kantor sama kamu” Bapak mengangguk-angguk kan kepalanya tanda mengerti


“Baru kali ini lho kamu punya tamu perempuan datang ke rumah Bapak”


Bapak berkata padaku sambil melihat sekeliling halaman


“Masak sih Pak?”


aku bertanya untuk mengelak rasa malu ku karena perkataan Bapak barusan ada benar nya.


“Seingat Bapak iya. Bapak sudah mulai pikun, tapi Bapak yakin sepertinya sebelum hari ini belum pernah ada tamu perempuan datang kemari." Kata bapak santai masih dengan menatap halaman


“Masyaa Allooh Bapak hebat iiih, ingat saja hal beginian” aku berkata sambil tertawa untuk menggoda Bapak


“Bapak nunggu kamu Ga untuk mengenalkan calon istri mu.” Tiba-tiba Bapak berkata seperti itu


Aku menghela nafas panjang secara perlahan agar Bapak tidak tahu apa yang ku lakukan. Sungguh bila sudah menyangkut kata-kata “Istri atau calon mantu” aku menjadi kelu. Aku mendekat ke kursi roda Bapak. Ku raih tangan


Bapak. Ku elus perlahan dan mencium nya tanda takzim ku padanya.


“Doa kan Arga ya Pak. Semoga Arga bisa segera memiliki istri yang sholihah, sayang sama Arga dan Bapak.”


Aku berkata pada Bapak dengan penuh permohonan doa.’


“Iya Arga anak Bapak. Bapak selalu mendoakan yang terbaik untuk Arga.”


\Bapak berkata seraya mengusap kepalaku dengan lembut


Ku cium sekali lagi tangan Bapak  kemudian kuangkat kepala ku dan tersenyum kepada Bapak.


“Pak, Arga masuk ke dalam dulu. Arga mau telepon dokter langganan. Kemarin maag Arga kumat. Makanya Arga ngga masuk hari ini. Nanti Bapak panggil Arga atau kang Ujo ya kalau sudah selesai berjemur”


“Sekarang kamu masih sakit nda? Mungkin minum obat yang biasa di minum dulu bisa reda.”


Bapak bertanya padaku


“Sudah ngga Pak. Tapi Arga mau cek aja sama dokter, sekalian minta obat sama dia”


aku menjawab pertanyaan Bapak.


“Ya sudah kamu telepon sana dokter langganan kamu itu”


Bapak menyuruh ku untuk segera menghubungi dokter ku


“Iya Pak” jawabku di iringi langkah ku untuk masuk ke dalam rumah


 


***********


POV Vinca


“Hai gaaeesss”


“Assalamu’alaikum”


Aku baru saja sampai di ruangan kerja dan menyapa kawan-kawan ku yang sedang duduk di meja masing-masing.


“Wa’alaikumsalam” Jawab Kiki dan Fendi


“Pagi Vinca sayang” July menyapa ku sambil tersenyum manis


“Tumben ih sudah pada anteng di meja masing-masing nih” ku mulai berkata lagi


Kiki menggeser kursi kerja dengan dia tetap di atas nya ke arah ku.Kursi itu meluncur dengan mulus dengan roda kursi yang berputar sempurna. Kemudian dia mulai melihat tangan kiri kanan ku yang penuh bawaan.


“Ini titipan kita yaa say” Kiki berkata sambil celingak celinguk dan membulatkan matanya kepadaku


“Iye…ini titipan kamu, kamu dan kamu” kata ku sambil menunjuk dengan muka ku ke arah Kiki, Fendi dan July. Kemudian aku tertawa menyeringai kepada mereka.


“Aaasiikkk” July berkata pendek


Kemudian aku mulai membagikannya atas pesanan mereka masing-masing.


“Vinc, makasih ya. Totalan nanti aja ya pas kita makan siang”


July berkata padaku sambil menyimpan kantong plastik dari ku


“Iya July. Nanti pas makan siang aja.” Jawabku sambil merapihkan meja kerja ku


“Vinc…gimana kunjungan ke kantor cabang? Lancar ya” Fendi bertanya padaku


“Alhamdulillah bro. Lancar jaya” jawabku kepada Fendi


“Sampai di Jakarta jam berapa Vinca?” Tanya Kiki dengan mulut penuh menguyah


“Lah ki, elo dah nguyah aja. Kue titipan elo dah dimakan?”


Ku tidak menjawab Kiki karena melihat bungkusan kue yang ku bawa untuk nya sudah terbuka di pangkuannya.


“Kepingin Vinc gue, ngiler euy cium wangi nih kue” JAwabKiki masih dengan mulut menguyah kue


“Hati-hati keselek luh ah. Gue sampe jam 1 apa jam 2 gitu lah.” Jawabku kepada Kiki


“Wah makanya kamu terlihat capek ya pagi ini. Baru tidur beberapa jam saja ya” July berkata padaku


“Iya July, rada capek sebenar nya. Cuma gue masuk aja deh, dari pada keteteran kerjaan kan”


JAwab ku pada July sambil memonyongkan bibirku


“Dah, dah jam kerja wey, nanti maksi kita ngobrol lagi sama Vinca. Gemetaran ngga dia seharian sama Pak Arga.” Tiba-tiba Fendi berkata mengajak kembali bekerja disertai kata-katanya yang usil kepadaku.


“Apaan sih luh Fend” aku berkata pada Fendi dengan kebiasaan ku melempar kertas yang sudah ku remas ke arah nya


“Eh, iya ini penting, luh gimana seharian seruangan ama Pangeran gue?”


Tanya Kiki sambil mengerjap-ngerjap kan matanya kepadaku


“Kepo. Rahasia ah” Jawabku dengan nada menggoda kepada Kiki


“Vinca ih …apa yang kamu lakukan….Jahap.”


Jawab Kiki padaku sambil menggeret kursi beserta dirinya balik ke meja kerjanya


********


Hai readers maaf ya up naskah nya lama, author lagi ilang daya khayal nya heeee. Tapi boleh dong minta like, vote nyaa yaaa. Komen juga boleh. Maaf-maaf yaa kalau novelnya ya seperti readers baca, semoga berkenan yaa. Makasih juga yang sudah like, komen, lup you lah. Doakan 1 episode bisa ajukan kontrak yaa.