My Lost Love

My Lost Love
Episode 10



“Assalamu’alaikum” Aku mengucap salam ketika masuk ke dalam rumah.


“Wa’alaikumsalam” terdengar Ibu menjawab dari dalam rumah.


Ku menghampiri Ibu untuk mencium tangan nya.


“Kok tumben lebih malam dari biasanya Sekar?” Ibu bertanya heran kepadaku.


“Iya bu, tadi Sekar membereskan beberapa pekerjaan dulu. Oh iya bu, Sekar besok pagi-pagi berangkat ke Bandung. Ada tugas dari kantor menemani Manajer Marketing kunjungan ke kantor cabang Bandung."


“Kamu naik apa ke Bandung?” Tanya Ibu.


“Travel bu. Yang Jam 5 bu” Jawab ku kepada Ibu.


“Naik Travel yang di Ruko depan itu?” Ibu kembali bertanya.


“Iya bu” Jawabku singkat


“Ya sudah kamu makan malam dulu, lanjut istirahat. Ibu tadi sudah makan malam duluan."


“Vanno belum pulang bu?" Tanya ku tentang keberadaan Vanno kepada Ibu.


“Belum. Kamu coba telepon dia ya Kar, tanya kan apa mau makan di rumah atau tidak. Kalau tidak nanti setelah kamu siap makan malam tolong di rapihkan semua ya. "


“Iya Ibu, nanti Sekar telepon Vanno”


Nut….nut….nut


Terdengar nada sambung ke ponsel Vanno. Beberapa menit terdengar nada sambung tapi tidak di jawab oleh Vanno. Ku hentikan sejenak menghubungi Vanno via ponsel nya. Ketika hendak memulai lagi terdengar suara pintu rumah di buka dan terdengar suara orang memberi salam.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh”


Ku jawab salam dari suara itu yang tidak lain adalah VAnno


“Mba telepon ya” Vanno bertanya padaku tapi matanya menatap layar ponsel yang ada di genggamannya.


“Iya, mau tanya kamu mau makan di rumah apa ngga? Tadi Ibu minta Mba tanya kamu” JAwabku


“Oh iya mba. Mba sudah makan malam belum?” Tanya Vanno masih dengan mata yang menatap layar ponsel.


“Belum. Kamu?”


“Belum, yuk kita makan malam bareng Mba, aku cuci tangan dulu sebentar."


Vanno menjawabku ambil menuju wastafel.


“Vann….ada salam lagi dari teman kamu tuh". Ku berkata pada Vanno ketika kami memulai makan malam.


“Arga Mba? Vanno melihat padaku.


“Iya”


“Salam balik ya Mba”


“Hihihi” Tiba-tiba aku tertawa geli


“Kenapa Mba? Kok tiba-tiba ketawa sendiri. Mba…ini Mba Sekar kan. Jangan…jangan…..” Muka Vanno yang awalnya menyungging senyum tiba-tiba berubahn seperti ketakukan.


“Idih kamu…ya ini Mba lah, kamu kira aku kenapa sih? Aku bertanya heran pada Vanno


“Ngga Mba…kirain mba kesurupan….hahaha” Vanno tertawa lepas.


“Iiiihh kamu…..” Aku memberikan mimic cemberut pada Vanno


“Makanya jangan ketawa sendiri gitu, ada apaan sih?" Vanno bertanya padaku menyelidik


“Itu tadi…Mba geli aja dengan kelakuan kalian berdua, kirim-kirim salam, bayangin kalian tuh kok ya saling perhatian gitu, hihihi” Aku masih merasa geli dengan pikiran ku ini.


“Mba…adik mu kan sudah mau nikah Mbaaa….mikir yang ngga-ngga sih Mba”


Gantian Vanno memberikan mimik cemberut pada ku.


“Iya…iya…maaf….” Aku mencoba merayu Vanno agar tidak merajuk.


“Mmm……jangan-jangan……Si Arga…….” Vanno seperti melayangkan lamunan


“Jangan-jangan apaan Vann? Tanyaku menyelidik


“Dia cari alasan aja biar ngobrol sama Mba kali, alasan bilang nya titip-titip salam gitu."


Berkata Vanno seperti menggoda ku.


“Aih….jauh kali Vann…tapi ya mungkin dia orang nya baik kali ya, sesama muslim kan harus memberi salam, makanya dia memberi salam kepada temannya dengan cara menitip salam." Jawabku sekenanya tapi terasa muka ku terasa panas


“Hahahaa…..aasiikkk nih, ada yang merah mukanya” Semakin Vanno menggoda ku.


“Dia memang orang baik kok Mba setahu Vanno kenal dia. Pekerja keras, perhatian banget sama bapaknya dan dengan orang lain dia ngga sungkan untuk membantu bila ada kesusahan.


Tapi memang ya begitu orang nya, cool…ngga banyak ngomong” Tiba-tiba Vanno menjelaskan panjang lebar tentang temannya itu.


“Oh….” Jawabku pendek mencoba menyimak perkataan Vanno


“Kamu teman dimana sih sama Pak Arga? Tanyaku kembali setelah hening beberapa saat.


“Dia teman kuliah Mba. Waktu di Bandung” Kenal saat ospek dan berlanjut sampai kita sama-sama kelar kuliah. Tapi karena dia lulus duluan sedangkan aku di semester selanjutnya. Kemudian dia lanjut S2 dan sibuk dengan pekerjaan nya kami jadi hilang kontak. Baru kemarin itu kami bertemu lagi."


“Oh….”Jawab lagi


“Oh doang Mba….terpesona yaa dengan cerita mengenai Arga". Kembali Vanno menggoda ku


“Duh Vann….…apaan sih...belum tahu sebenar nya gimana kan Vann….” Jawabku sambil menundukkan kepala.


 Seketika rasa tidak percaya ku terhadap lelaki kembali menyeruak. Ku menghela nafas pelan.


“Mba…..” Vanno menyapa ku pelan seperti nya dia tahu akan pikiran ku.


Aku hanya tersenyum kepada Vanno. Kemudian kami kembali dalam hening dan menghabiskan makan malam kami.


“Mba Sekar….ngga semua pria seperti dia dulu lho Mba” tiba-tiba Vanno berkata seperti itu kepadaku.


Aku hanya terdiam mendengar nya.


“Vanno juga laki-laki Mba dan insyaa Allooh tidak mau seperti dia itu." Vanno kembali berkata-kata.


“Kalau Mba memang masih berjodoh lagi dengan seorang laki-laki, Insyaa Allooh dia pasti berbeda jauh dengan yang lalu." Masih Vanno berkata mencoba membuat aku tidak berfikir seperti yang dia kira.


“Iya Vann, insyaa Allooh, cuma terkadang ingatan itu masih saja membekas”


jawabku sambil tertunduk. ke piring makan ku


“Ikhlas Mba….apa yang terjadi di ikhlas kan. Allooh yang punya kehendak seperti itu kepada Mba dan dia juga. Terus berusaha ikhlas Mba” Vanno menasehati aku.


“Iya Vann, insyaa Allooh. Terima kasih ya Vann sudah memberi pandangan dan semangat ke Mba mu ini” jawabku lembut dan tersenyum sambil  menatap Vanno


“Iya Mba, sama-sama” JAwab Vanno juga tersenyum padaku


“Oh iya Vann, besok Mba akan tugas ke Bandung, dan for your information, Mba menemani Pak Arga kunjungan kerja di kantor cabang disana.


“Uhuk…uhuk….” Vanno tiba-tiba tersedak mendengar perkataan ku tadi ketika dia sedang minum air putih nya.


“Iiiihhh kenapa kamu….” Sedikit meninggi suara ku bertanya pada Vanno


“Ngga apa-apa Mba….ngga apa-apa” terlihat Vanno menahan tawa dan senyumnya ketika menjawab pertanyaan ku.


“Jangan mikir macem-macem” berkata ku pada Vanno sambil melempar serbet ke arah Vanno


“Hahahaaa………jodoh ini….jodoh….” Vanno tertawa tergelak, tidak bisa ia tahan lagi.


“Apaan sih ...kerja Vann…..heran…ngga di kantor , ngga di rumah pada godain Mba soal tugas sama Pak Arga huh…”


Berkata ku sambil membereskan piring kotor dan berlalu ke arah dapur.


“Sepertinya Vanno punya perasaan kuat mengenai Arga dan Mba deh”


Vanno berkata sambil menyusul ku ke dapur.


“Vann…udah deh….kayak peramal aja, ngga boleh lho jadi peramal, mendahului Allooh.


JAwabku mengalihkan pemikiran Vanno tadi.


“Iya iya Mba, ngga mau juga jadi peramal ih. Ya dah hati-hati di jalan besok. Oh iya, naik apa Mba ke Bandung? Sama Arga ya berangkat nya?" Vanno bertanya dan terlihat dia menahan tawa nya.


“Ngga, Mba naik Travel pagi." Jawabku dengan tetap sibuk dengan cucian piring.


“Kenapa ngga bareng Arga aja Mba?" Vanno bertanya selidik


“Ngga ah, ngga enak” Jawabku jujur kepada Vanno


“Oh baik lah Mba ku…mau aku antar pagi besok ke Travelnya? Yang dimana?"


Kembali Vanno bertanya padaku.


“Dekat yang di ruko depan Vann. Antar Mba ya ngga apa-apa setelah kamu subuh ke masjid."


Pintaku kepada Vanno


“Siap Mba, Vanno antar Mba besok pagi” jawab Vanno kepadaku


“Terima kasih Vann. Oh iya, berarti besok kamu kalau sudah selesai dari kantor semisal sudah tidak ada kerjaan lagi segera pulang ya, temani Ibu." Kembali ku berkata dan berpesan pada Vanno.


“Insyaa Allooh Mba besok Vanno segera pulang bila kerjaan sudah selesai”