
“Assalamu’alaikum”
Ku mengucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah. Ku coba mencari keberadaan Ibu di rumah. Tidak ku dapati beliau menjawab salam ku. Ku taruh tas di kursi meja makan dan menuju kamar Ibu. Baru beberapa langkah ku
ke kamar ibu, beliau sudah membuka kamar pintu nya.
“Wa’alaikumsalam Nak. Sudah sampai kamu Sekar.”
Ibu menjawab salam dan menyapa ku.
“Iya Bu”
Aku meng-iyakan perkataan ibu kemudian menghampiri lalu meraih tangan nya dan menciumnya.
“Bu, apa Vanno ada beritahu ibu teman nya mau berkunjung malam ini?”
Aku bertanya pada ibu apakah tahu mengenai rencana kunjungan Pak Arga ke rumah.
“Ngga Sekar. Vanno tidak ada kasih kabar apa-apa”
Ibu menjawab dengan nada bingung.
“Mmm …gini bu, teman nya Vanno yang juga manajer di kantor Sekar malam ini mau berkunjung.
Mmm…. Ibu ada persediaan camilan atau apa gitu untuk suguhan pas dia datang nanti?”
Aku menjelaskan sekaligus bertanya pada Ibu.
“Nanti di ajak makan malam bersama di sini aja Sekar. Kebetulan Ibu lagi masak lauk banyak, tuh lihat saja di dalam tudung saji.”
Ibu memberi saran untuk mengajak Pak Arga makan malam bersama kami nanti.
Ku dekati meja makan dan membuka tudung saji yang di tunjuk Ibu.
“Wah iya Ibu lagi masak lauk banyak nih, tumben.”
Aku mengometari masakan Ibu yang ternyata cukup banyak menu
nya.
“Iya, Ibu lagi mau sekalian masak banyak aja, besok mau belanja stok lauk baru lagi”
Ibu menjelaskan padaku perihal masakan nya hari ini lalu berjalan menuju dapur.”
“Oh ya, kamu sudah shalat Maghrib belum?”
Ibu menghentikan langkah nya dan menengok padaku kemudian bertanya.
“Iya bu, ini mau shalat terus mandi.”
Jawab ku atas pertanyaan Ibu
“Ya sudah sana cepetan, nanti keburu habis waktu shalat nya. Ibu mau siap kan minuman untuk tamu nanti”
Ibu melanjutkan langkah nya menuju dapur sambil masih berseru padaku.
***********************************************************************************
Aku telah selesai dari kegiatan mandi dilanjut dengan shalat Isya. Ku memilih baju rumah yang santai yang pantas untuk dipakai menerima tamu. Aku tahu yang akan dating adalah tamu nya Vanno. Tapi seperti Ibu bilang
tadi, akan ada ajakan malam malam bersama di rumah untuk Pak Arga. Bila beliau menyetujui untuk makan malam bersama kami maka aku harus terlihat rapi. Setelah selesai aku keluar dari kamar tidur kemudian mencari tahu apakah Vanno sudah pulang atau belum.
Ku menuju kamar Vanno dan mengetuk pintu. Tak ada jawaban dari ketukan dan juga panggilan ku pada Vanno. Ah pasti Vanno belum pulang, kena macet parah mungkin dia ya. Aku berkata dalam hati ku. Aku pun mencoba untuk menghubungi ponsel Vanno. Ketika aku sedang mencari nomor Vanno untuk dihubungi terdengar suara dia memberi salam dari arah pintu rumah.
“Assalamu’alaikum”
“Wa’alaikumsalam. Macet Vann?”
Tanyaku pada Vanno
“Ngga Mba, tadi mampir beli martabak dulu. Oh iya mba, boss nya mau main ke rumah lho malam ini.”
Vanno memberitahu ku perihal kunjungan Pak Arga.
“Iya, katanya bada Isya mau datang. Mba barusan mau telepon kamu, kok belum sampai rumah. Kalau tamu nya sudah datang, yang di kunjungin belum ada, gimana coba.”
Aku berkata pada Vanno panjang lebar.
“Kok mba tahu?”
Vanno mengeryit kan dahi merasa heran aku bisa tahu hal itu.
“Kebetulan Mba tadi di ajak pulang bareng sama beliau. Terus dia kasih tahu Mba mau berkunjung ke rumah.”
Jawab ku pada Vanno sambil menduduk kan diri di kursi meja makan.
“Oh gitu…ya deh…. apa pun itu deh…..Mba,Vanno minta tolong taruh martabak nya di piring ya. Vanno mau mandi dulu.”
Satu-satu nya adik ku ini tidak peduli dengan penjelasan ku. Dia terlihat tergesa-gesa hendak membersihkan diri nya. Dia meminta ku menempatkan camilan yang dia beli tadi di piring kue. Dan kemudian dia berlalu dari hadapan ku.
“Sekar, Vanno sudah pulang?”
Ibu baru saja keluar dari kamar nya dan bertanya tentang Vanno.
“Sudah bu, lagi mandi dia.”
“Ibu, sudah makan malam? Belum kan?”
Aku bertanya pada Ibu
“Belum Nak. Ibu makan duluan aja ya. Biar kalian nanti anak-anak muda makan bareng.”
Ibu berkata padaku sambil duduk di kursi meja makan.
“Sekar temani ya bu, biar Vanno dan Pak Arga saja nanti makan bareng.”
Kata ku sambil mengambil piring dari tumpukan nya untuk diri ku dan juga ibu. Melihat Ibu hendak makan malam duluan, aku mengurungkan niat untuk duduk bersama makan bareng dengan Vanno serta Pak Arga.
“Eh kamu masak nda temani Boss kamu nanti makan malam. Sudah kamu nanti saja.”
Ibu berkata sambil menatap ku.
“Mmm …..biar aja anak laki-laki yang makan bareng, kita perempuan duluan aja. Heeee.”
Ku berkata di sertai seringai lebar pada Ibu dan melanjutkan dengan menyendok nasi ke piring.
“Kamu ini….yo wis terserah kamu nak.”
Ibu akhirnya setuju dengan keinginan ku makan malam bersama nya. Dan aku pun menikmati semua menu masakan Ibu yang ada di meja makan.
Ibu dan aku sudah selesai dari makan malam kami. Aku pun langsung membereskan dan mencuci piring serta gelas makan kami tadi. Ketika sedang merapihkan meja makan , Vanno keluar kamarnya sambil berbicara melalui
ponsel nya.
“Oh lo sudah ada di depan. Sebentar gua ke depan ya.”
Begitu Vanno berbicara dengan seseorang melalui ponsel nya.
“Pak Arga sudah sampai Vann?”
Tanyaku pada Vanno yang sedang bergegas ke depan rumah.
“Iya Mba.”
Vanno menjawab pendek dan berlalu dari hadapan ku.
“Sekar, kamu siapkan makanan dan minuman untuk tamu ya. Ibu istirahat dulu di kamar.”
Ibu berkata padaku sambil bangkit dari duduk nya dan langsung menuju kamar tidur beliau.
Aku mulai menata kembali piring dan gelas di meja makan. Merapihkan piring menu makanan dan menutup nya dengan tudung saji. Kemudian aku menghangat kan lagi air untuk teh manis yang sudah ibu persiapkan tadi. Dan
tidak lupa martabak yang Vanno beli.
Terdengar sanyup suara orang berbincang dan semakin terdengar ke dalam rumah.
“Mba…ada Pak Arga nih.”
Vanno memanggil ku memberitahu bahwa Pak Arga sudah tiba.
“Eh Pak Arga.”
Aku menyapa Pak Arga dan tersenyum pada nya.
“Assalamu’alaikum bu Vinca.”
Pak Arga memberi salam dan tersenyum balik pada ku.
“Bu, maaf, ini ada sedikit oleh-oleh buat Ibu.”
Pak Arga memberikan sebuah bungkusan kepada ku.
“Wa'alaikumsalam. O-oh makasih ya Pak.”
Jawabku terbata sambil menerima bungkusan tadi.
“Mba, buat Ibu lho.”
Vanno berkata pada ku sambil menunjuk kamar Ibu.
“Oh….i-iiya Vann, nanti disampaikan ke Ibu.”
Aku berkata sambil menyeringai grogi dan segera membawa bungkusan itu ke dapur.
“Mba…Ibu di kamar ya?”
Vanno memanggil ku lalu bertanya keberadaan Ibu.
“Iya Vann.”
Jawab ku pada Vanno.
“Arga mau kenalan sama Ibu. Mba tolong bilang ke Ibu ya. Kita tunggu di ruang tamu.”
Vanno meminta ku untuk memberitahu Ibu bahwa Pak Arga ingin berkenalan dengan Ibu.
“Iya Vann. Sebentar Mba ke kamar Ibu dulu ya.”