My Lost Love

My Lost Love
Episode 27



Part 27


POV Arga


Ku berhenti sejenak untuk mengatur nafas ku. Ku lihat hitungan langkah pagi hari ini di smartband yang melingkar di pergelangan.10,000 langkah. Standar sekali di banding hari yang lain. Tapi it’s ok, I’ve got the standart. Ku tersenyum kecil. Ku angkat wajah ku dari melihat smartband, beralih ke arah orang-orang yang berjalan dari luar area kantor menuju gedung kantor. Ku lihat dia. Dengan hijab biru muda. Baju kemeja panjang sampai atas mata kaki berwarna biru, senada dengan hijab nya. Dan celana panjang warna hitam. Kulit putih nya yang terkena sinar matahari pagi ini terpancar dari wajah nya. Mata ku masih belum berkejap dari setiap langkah yang dia buat.


Ku hela nafas dengan kasar dan memulai langkah. Ku berniat untuk jalan bersama dia memasuki gedung kantor.


“Assalamu’alaikum bu Vinca, morning”


Ku menyapa bu Vinca yang sedang berjalan santai menuju pintu gedung kantor


“Wa’alaikumsalam, mo..mo..morning. Eh Pak Arga”


Bu Vinca terkejut karena tiba-tiba aku sudah di samping dan menyapa nya.


“Iya saya bu. Baru sampai ya?”


Ku mulai berbasa-basi dengan menanyakan kedatangan nya


“Ii...iyaa Pak. Sudah berapa kilo pak pagi ini?”


Bu Vinca melihat sekilas wajah sampai baju yang kukenakan dan kemudian memalingkan wajah nya sambil bertanya.


“Mmm….. standar…. 10,000 langkah.”


Jawab ku singkat sambil tersenyum.


“Mantap banget pak, sehat..sehat…”


Bu Vinca mengomentari kata-kata ku tadi sambil terus berjalan dan tetap memandang lurus ke depan.


“Ikhtiar sehat bu”


Jawab ku kembali dengan singkat.


“Iya betul pak, ikhtiar. Jangan seperti saya, sudah tiap hari kerja, sabtu minggu olahraga nya di kasur aka tidur pak, hihihi”


Bu Vinca berkata sambil menggaruk –garuk kepalanya dan tertawa.


“Ya di sempatkan bu, enak deh di badan kalau kita olah raga”


Aku menimpali kata-kata nya tadi sambil tersenyum dan melihat kepadanya.


“Iya pak, siap. Mmm…bapak sepertinya kelemahan sehat nya adalah di kopi ya, kalau kebanyakan bisa kumat maag nya, heeeeee.”


Bu Vinca berucap dengan raut muka meledek dan tersenyum padaku.


“Wah… bu Vinca pegang kartu troop saya”


Saat ini aku ingin sekali mendekati dan menggelitik nya karena berani meledek ku.


“Maaf ya Pak, bercanda yaa, peace”


Bu Vinca menunjukkan dua jari tanda damai sembari menyeringai menambah gemas pada diriku terhadapnya.


“Iya bu, tapi memang benar kok. Ayo bu, pintu lift sudah terbuka, silahkan masuk”


Terselamatkan aku dari keinginan yang tak mungkin ku lakukan oleh pintu lift yang terbuka.


Ku persilahkan Bu Vinca masuk ke dalam lift yang akan membawake lantai kantor kami berada di ikuti oleh ku


*********************************************************************************


POV Vinca


Dalam lift aku hanya terdiam sambil masih menahan tawa mengenai perkataan ku tadi pada Pak Arga. Sungguh berani nya aku meledek boss ku itu. Pak Arga pun terdiam. Aku berharap dalam hati semoga beliau tidak marah


akan candaan ku tadi. Tapi sekilas ku lihat beliau pun seperti menahan tawa. Entah untuk alasan apa beliau melakukan itu. Apa karena candaan ku tadi ya? Yah semoga saja, itu jadi pertanda bahwa beliau tidak marah padaku.


Ting


Pintu lift terbuka di lantai tujuan kami. Aku keluar dari dalam lift begitu pun pak Arga. Kami berdiri di depan pintu masuk kantor menuju meja resepsionis.


“Pak Arga, maaf ya candaan saya tadi”


“Santai bu…saya senang kita bisa ngobrol santai”


Pak Arga mengembangkan senyum nya pada ku


“Heeee….ya deh pak, saya ke ruangan saya dulu”


Ruangan ku dan Pak Arga berbeda arah. Bila dari meja resepsionis ruangan ku ke arah kiri dan beliau ke kanan.


“Baik bu, selamat bekerja ya”


Pak Arga membalas perkataan ku tadi


Dan Kami pun berpisah menuju ruangan masing-masing. Saat ku berjalan menuju ruangan, ku tertawa lebar mengingat perkataan ku kepada nya mengenai kelemahan nya soal kopi. Ah benar-benar konyol apa yang sudah ku lakukan tadi. Ku tepuk-tepuk jidat ku perlahan berulang kali.


Sesampai di ruangan kerja, ku dapati Kiki dan July sedang berbicara satu sama lain. Setelah menaruh tas di meja kerja, ku hampiri dan menyapa mereka berdua. Tak berapa lama Fandi pun datang. Dia pun menyapa kami dan


langsung ke meja kerja nya.


Jam menunjukkan waktu kerja kami harus segera di mulai. Aku, Kiki dan July langsung menyelesaikan obrolan kami. Ku menarik bangku kerja dan memperhatikan jadwal kerja hari ini dari post it yang tertempel di layar komputer


ku. Dan tiba-tiba ada lembaran file di taruh di meja kerja ku. Ku mencoba lihat siapa kah yang menaruh file-file itu. Ternyata Fandi.


“Vinc, ini rekapan file penjualan minggu lalu.”


Fandi memberitahukan perihal file-file yang di taruh nya di meja ku.


“Oh ok Fand, makasih ya”


Kataku pada Fandi sambil merapihkan kembali file-file itu. Tetiba Fandi membungkuk ke arah ku. Reflek aku menjauhkan diri, memberi jarak antara Fandi dan aku.


“Ada apa Fand?”


Tanyaku terkejut


“Hmmm…ada yang asik ngobrol sama boss nih”


Fandi berkata pada ku sambil menyeringai. Aku mengeryitkan dahi ku, berusaha mencerna maksud kata-kata Fandi itu.


“Cie yang satu lift…”


Melihat ku masih bingung dengan perkataan sebelum nya, Fandi mencoba memberi petunjuk dengan kata-kata nya yang baru saja di ucapkan.


“Ah elo Fand apaan sih”


Aku berkata pelan nyaris berbisik pada Fandi. Aku baru menyadari maksud Fandi. Sepertinya dia melihat aku bersama Pak Arga tadi pagi ketika menuju kantor.


“Elo di belakang gua ya tadi? Kok ngga bareng-bareng aja sih Fand tadi?”


Aku bertanya menyelidik pada Fandi.


“Iya gua tadi ada di belakang lo. Gua mau susul lo, eh Pak Arga muncul. Gua ngga jadi deh mau bareng sama lo. Ngga enak. Terus gua perhatiin elo berdua asik ngobrol gitu. Kayak orang lagi pdkt deh lo berdua. Bener deh nih gua lihat nya.”


Fandi tak kalah pelan mengarah berbisik berkata panjang lebar padaku.


“Apaan sih elo Fand. Jangan mikir macam-macam ya. Salah ah penglihatan lo.”


Aku masih berkata pelan pada Fandi sambil mengerucut kan bibir ku sebagai tanda tidak setuju dengan perkiraan Fandi tersebut.


“Gua pernah pdkt sama perempuan Vinc, tahu lah gesture orang kalau lagi suka sama seseorang itu bagaimana”


Fandi masih bersikukuh dengan perkiraan nya itu.


“Ih…dah gih sana...salah….salah ah perkiraan lo. Kan biasa kali boss ngobrol sama karyawan nya. Ngga lah, mana ada lah seperti lo kira gitu.”


Aku masih tidak setuju juga dengan pemikiran Fandi dan menyuruh nya kembali ke meja kerja nya.


“Ya sudah kalau lo ngga percaya sama apa yang gua bilang. Kalau lo jadian sama tuh boss, beliin gua nasi kebuli, ngga mau tahu.”


Fandi berkata di iringi dengan gerakan mencebik kan bibir nya pada ku kemudian berbalik badan menuju meja kerja nya.


Aku terdiam sambil terus merapihkan file-file dari Fandi tadi. Aku menggelengkan kepala ku untuk menghilangkan perkataan Fandi mengenai pdkt tadi dari otak ku. Aku menoleh ke arah Fandi dan dia pun melihat padaku sambil menyeringai lebar meledek. Aku kepal kan tangan kanan ku dan ku perlihatkan pada nya sebagai tanda mengancam. Tapi apa daya ku, yang ku ancam malah tertawa terpingkal tanpa suara sambil memegang perut nya. Huh Fand ini, bagaimana bisa dia merunyam kan konsentrasi ku pagi ini.