
16.00
Hari sudah mulai sore. Tidak terasa pekerjaan kami pun sudah selesai. Pak Arga hanya memeriksa yang di anggap
sangat penting untuk di bahas dengan manajer cabang dan staff.
“Pak Dirga, file berkas yang saya dapat dari bapak dan staff saya bawa dulu ke Jakarta. Kesimpulan sementara saya kira kinerja pemasaran di cabang ini bagus. Ada beberapa hal yang tadi kita tidak bahas ya. Saya akan coba pelajari lagi di Jakarta. Bila ada yang harus saya tanyakan akan saya hubungi bapak."
Pak Arga menjelaskan hasil kunjungan kerja hari ini kepada Pak Dirga.
“Baik Pak. Silahkan di bawa file berkas yang di butuhkan. Dengan senang hati kami akan menunggu laporan dari Bapak mengenai kinerja kami disini secara lengkap."
Pak Dirga menimpali perkataan Pak Arga.
“Baik Pak Dirga,terima kasih atas kerja sama nya. Bapak, ibu semua team marketing di cabang Bandung, terima kasih."
Pak Arga berterima kasih kepada Pak Dirga dan staff.
“Saya dan Bu Vinca permisi untuk kembali ke Jakarta” Pamit pak Arga.
Dan kami mulai berpamitan kepada seluruh rekan kerja yang ada di ruangan itu. Pak Arga berjabat tangan erat dengan rekan kerja laki-laki, begitu kepada Shelly dan Mira, beliau hanya mengatupkan kedua tangan nya dekat
ke dada nya. Begitu pun aku, pamitan dengan cara kebalikan dari Pak Arga. Kepada Shelly dan Mira aku sempat untuk cipika cipiki dengan mereka.
“Bu Vinca…..Mau pulang naik travel lagi? Ada jeda dalam pertanyaan Pak Arga kepadaku ketika kami sudah sampai di mobilnya.
“Iya Pak” jawabku
“Sudah pesan travel nya? Sambil masuk ke mobil yuk bu."
Pak Arga mengajak ku masuk ke dalam mobilnya.
Aku mengikuti pak Arga yang masuk terlebih dahulu ke bagian kemudi. Aku pun masuk ke bagian penumpang bagian depan.
“Iya bu Vinca….sudah pesan travelnya?" Kembali pak Arga bertanya padaku
“Eh iya, ini baru mau Pak."
Sambil ku membuka layar ponsel dan mencari no telepon untuk memesan travel.
Aku melakukan pesanan untuk keberangkatan Jakarta. Dan Aku mendapat jam 8 malam. Jam lain sudah penuh. Aku terdiam sejenak karena aku mendapatkan jam tersebut yang pasti akan membuat ku sampai di Jakarta tengah
malam buta. Aku harus menghubungi Vanno untuk stand by menjemput ku.
“Bu Vinca….bagaimana, sudah dapat travel nya?"
Pak Arga bertanya padaku membunyarkan diam ku tadi sampai tidak menyadari bahwa mobil pak Arga sudah melaju jalan.
“Su..su..dah pak” Jawabku gugup
“Naik yang jam berapa?" Kembali Pak Arga bertanya
“Jam 8 Pak” jawabku lagi
“Masih lama yaa. Ya sudah saya tunggu bu Vinca sampai naik travel. Mau kemana dulu nih kira-kira menunggu jam 8?" Pak Arga berkata seperti itu kepadaku.
“Pak…kalau bapak mau langsung pulang, nda apa kok Pak. Saya turun saja di kafe tadi pagi kita sarapan. Saya tunggu di situ saja” jawabku kepada Pak Arga
“Ngga bu Vinca, saya akan tunggu sampai naik travel nya. It’s ok. Oh iya, bu Vinca mungkin mau beli oleh-oleh untuk orang rumah nda, buat Vanno gitu." Pak Arga berkata sambil menyeringai.
“Hehehe….eh,salam bapak sudah saya sampaikan ke Vanno ya, ngga ada hutang ya saya."
Berkata ku kepada Pak Arga dengan santai sambil menyeringai.
“Wah terima kasih bu Vinca, saya jadi senang deh, hahahaa."
Pak Arga berkata padaku sambil tertawa lepas.
Senyum dan ketawa nya bikin gemes juga.Batin ku mulai melayang. Oh hati, tenang lah, tenanglah. Aku tertawa juga dengan gurau an pak Arga tadi sambil memalingkan wajah ku ke arah jendela mobil.
“So..gimana? Mau beli oleh-oleh? Atau bu Vinca mau kemana dulu, saya antar”
Pak Arga mencecar ku dengan pertanyaan.
Saya antar! Aduh pak kalimat itu bikin dengkul ini lemas. Menundukku sambil memegang dengkul ku yang terasa nyut-nyut an dengar kata-kata itu. Aku ini ke GR an banget sih, aduh. batin ku berkata lagi.
“Mmm boleh pak kita Kartikasari ya. Tidak jauh kan ya pak?"
Aku mencoba meng konfirmasi mengenai jarak nya.
“Oh ngga dong, ngga jauh. Ok kita kesana ya”
Pak Arga menjawab sambil terus menatap ke arah depan focus dengan jalan.
Akhirnya kami sampai ke Kartikasari. Ku lihat jam di ponsel ku , menunjukkan pukul 16.30. Ah aku coba bertanya di group bersama apakah July, Kiki dan Fendi ada mau titip oleh-oleh Kartikasari. Pak Arga masih sibuk mengemudi mencari parkir yang tersedia.
“Assalamu’alaikum gaes….sooree semua……apa kabar hari ini? Eh iya gua lagi di Kartikasari nih, kalian mau ada titip kah?”
ku tulis pesan di group bersama.
pegang ponsel.
“Kita turun bu Vinca." Pak Arga berkata padaku lalu keluar dari mobil.
Kami mendapatkan tempat parkir di basement maka kami menaiki tangga terlebih dahulu menuju counter toko.
Beep….beep….
Ku melihat ponsel ku sambil terus menaiki anak tangga. Tanda pesan masuk di group teman-teman kantor.
“Viiincaaa….elo aman kan ya sama Pak Arga, ciiieeee, ngapain
aja selain kerja, baik-baik ya titip Pangeran koohh”
Kiki menjawab pesan ku dengan emotikon nyengir dan ngakak
“Viinncaa, dah mau pulang luh, sama siapa? Pak Arga?
Hati-hati di jalan ya. Pesan tertulis dari July.
“Tenang Ki, Pangeran Luh aman, ngga tergores sedikit puh,
huh. Dah elo mau ada pesan Kartikasari ngga Ki? Balasku kepada ku Kiki
“Insyaa Allooh July, makasih yaa. Ada mau titip pesan ngga
say. Gua lagi di Kartikasari nih. Balasku kepada July
“Gua pesan Bolen Keju yang ukuran besar sama brownies almond
ya Vinc” Kiki membalas
“Gua pesan Brownies almond aja 2 ya Vinc “ July kemudian
membalas pesan ku.
“Feeenndddiiiii…..Mau nitip ngga nih buat bini luh?
Aku mengetik pesan seperti menjerit memanggil Fendi karena dia sendiri yang belum
jawab.
“Berisik Vinc….gua lagi nanya ama nyonya ini, dia mau bolen keju ama coklat keju.
Balas Fendi tak berapa lama.
“Ya sudah ya gaess, gua langsung beli dulu yaa, makasih yaa. Gua di tungguin pak Arga nih, ngga enak.
Tapi Kiiii…tenang gua pulang naik travel kok, Pangeran luh pulang sendiri. Hahaha”.
Balas ku kepada teman-teman di group
Ku menutup pesan ku seraya mematikan layar dan menyimpan ponsel.
Ku lihat Pak Arga berdiri diam menghadap counter kue-kue yang tak terlalu ramai.
“Maaf Pak, tadi saya tanya sama teman-teman kantor pada mau titip apa. Maaf jadi nunggu"
Berkata ku pada Pak Arga seraya meminta maaf.
“Ngga apa-apa bu Vinca, silahkan."
Pak Arga kembali tersenyum dan menyilahkan ku untuk melakukan antrian ke counter kue.
Aku melihat senyuman Pak Arga tidak seperti di pagi atau siang tadi. Dan kulihat dia sedikit diam, Dan Pucat! Kenapa dia. Aku bertanya sendiri dalam hati. Dalam antrian, Ku coba menengok ke arah lain dan akhirnya melihat
sosok Pak Arga. Dan benar dia terlihat pucat. Sejenak aku khawatir dengan Pak Arga. Satu orang lagi di depan ku. Aku mengeluarkan ponsel ku untuk melihat lagi pesanan teman-teman. Lalu giliran ku melakukan pesanan kue-kue.
Setelah selesai aku bergerak menuju kasir dengan belanjaan pesanan ku tadi. Kasir kosong ketika ku menuju ke situ dan Pak Arga tiba-tiba ada dekat kasir yang ku tuju. Kuserahkan keranjang belanjaan ku kepada kasir dan mulai di hitung. Kasir memberikan angka yang harus di bayar oleh ku.
“Mba, pakai kartu debet ini bisa ya? Pak Arga menyodorkan kartu ATM yang ada di tangan nya
“Pak, jangan pak, ini belanjaan saya yang bayar aja. ku mencoba mencegah Pak Arga membayar belanjaan ku.
“Tidak apa-apa bu Vinca, biar saya yang bayar ya. Pak Arga menatap serius kepadaku dengan senyum yang seperti di paksakan.
“Pak….” Sela ku melihat Pak Arga sudah memberikan pin yang diminta kasir.
Ini Pak Arga kenapa ya. Dia mau bayarin tapi senyum nya terpaksa gitu. Aneh. Dan benar dia terlihat pucat. Ku ambil belanjaan kue-kue tadi yang sudah di taruh rapi dalam plastik besar dari samping kasir.
“Bu Vinca, kita ke resto samping itu ya, saya mau istirahat sebentar sambil kita tunggu waktu maghrib. Sepertinya maag saya kambuh. Sakit sekali." Pak Arga berkata padaku dengan muka yang pucat.
“Baik Pak” Jawabku pendek
Ah itu dia kenapa beliau pucat. Dia sakit!