
Lelah terasa badan ku hari ini. Sesampai di rumah aku langsung membersihkan badan di kamar mandi. Setelah shalat maghrib dan selama menunggu adzan Isya aku duduk di meja makan menikmati secangkir kehangatan teh hijau.
“Assalamu’alaikum”
Seseorang memberikan salam dan ternyata adalah Vanno.
“Mba dah sampai duluan aja di rumah”
Kata Vanno padaku
“Jam 5 teng langsung pulang tadi, terus dapat bus nya cepat pula.”
Jawabku santai
“Umm gitu…mba mau ikutan makan malam sama Arga ngga ntar?”
Tiba-tiba Vanno bertanya padaku
“Memang dia ajak mba?”
Tanya ku pada Vanno
“Arga ajak Vanno. Vanno yang ajak Mba hehehe”
Vanno menjawab sambil duduk di kursi meja makan
“Capek mba hari ini Vann, mau istirahat cepat. Kamu tahu kan mba semalam sampai jam berapa di rumah.
Pingin tidur.”
Ku tatap Vanno yang ternyata sedang menatap layar ponsel yang ada dalam genggamannya.
“Ok mba. Mau di beliin aja ngga?”
Kembali Vanno bertanya padaku
“Ibu sudah masak Vann, ngga lah, makasih.”
“Ok mba. Ya sudah Vanno mau mandi dulu. Setelah Isya Arga mau jemput kemari”
Vanno berdiri dari kursi makan dan menuju kamar nya
*******
Tok…tok….
Terdengar pintu kamar ku di ketuk dari luar.
“Iiiyaa masuk”
Sahut ku dari dalam kamar
“Mba…Vanno pergi dulu ya, si Arga dah jemput di luar.”
Ternyata Vanno yang mengetuk pintu kamar ku dan berpamitan hendak makan malam seperti dia bilang tadi.
“Hmm iya. Pamit sama Ibu jangan lupa. Kamu bawa kunci rumah ya. Mba mau tidur cepat, ngga bisa nungguin kamu pulang”
Kata ku pada Vanno
“Sebelum ke Mba Sekar, Vanno sudah pamit sama Ibu. Nih, Vanno sudah bawa kunci rumah. Ya deh tidur, istirahat buruan sana.”
Vanno berkata pada ku kemudian menunjukkan kunci rumah yang dia pegang
“Mba beneran ngga mau titip apaan gitu?”
Vanno masih belum beranjak dari pintu kamar ku
“Ngga Vann, Mba sudah makan barusan”
Jawabku malas sambil memandang Vanno
“Ih…ngga titip salam gitu sama Arga?”
Vanno berkata sambil tersenyum menggoda ku
“Vannnoooo……”
Aku sedikit berteriak dan akan melempar bantal ku ke arah Vanno yang dengan sekejap langsung menutup pintu kamar ku
******
POV Arga
“Hai Ga”
Sapa Vanno ketika memasuki mobil ku
“Assalamualaikum bro. Sorry gua lewat dari jam janjian. Setelah Isya tadi Bapak minta di antar ke kamar nya dan sedikit di ajak bicara sama beliau.”
Kataku pada Vanno
“Ah ngga apa-apa, Ga. Kita kan ngga mau pergi jauh. Cuma ke depan situ doang”
Vanno menimpali perkataan ku tadi
Dan ku lajukan mobil ku ke tempat tujuan kami yang memang tidak jauh. Ketika sampai di tempat makan pecel ayam yang hits se antero Kelapa kuning itu kami pun mencari tempat duduk yang ada. Dan benar adanya, malam ini tempat itu terlihat ramai pengunjung. Wangi semerbak yang berasal dari ayam dan juga lele serta
kawan-kawan nya menyeruak ke hidung kami. Perut ku yang sudah lapar pun semakin meronta minta untuk segera di isi.
“Rame Ga”
Kata Vanno sambil melihat-lihat tempat duduk yang bisa di tempati kami.
“Hmm iya Vann”
“Ga, itu ada yang sudah kelar, di situ aja ya”
Vanno berkata tanpa melihat padaku lalu berjalan menuju tempat yang ia bilang tadi. Ku mengikuti langkah Vanno tanpa berkata apa pun. Dan kami pun mendapatkan tempat duduk tersebut di lanjut kan dengan memesan
makanan kepada pelayan yang tengah lewat dekat meja kami.
“Mas, saya pesan pecel ayam, tahu satu.”
Aku menyampaikan pesanan makanan ku pada pelayan itu
“Kalau saya, pecel ayam juga, tahu dan tempe masing-masing satu.”
Kemudian Vanno pun memesan untuk makan malam nya.
“Dengan nasi ngga Pak?”
Pelayan itu bertanya pada kami
“Oh iya dong. Ga, elo pakai nasi juga kan?”
Vanno menjawab pertanyaan pelayan itu dan bertanya juga pada ku
“Nasi juga ya mas untuk saya”
Aku berkata pada pelayan itu
“Minum nya apa Pak?”
Kembali lagi pelayan itu bertanya
“Oh iya…saya es jeruk ya”
Dan Vanno pun kembali sebagai yang pertama menjawab
“Saya teh tawar hangat “
Jawab ku kemudian
Pelayan tersebut mengulang lagi pesanan makanan kami dan ketika sudah mendapatkan persetujuan kami atas pesanan tersebut dia pun berlalu menyiapkan nya.
“Ga, lo hari ini ngga masuk kerja?”
Vanno memulai perbincangan dengan bertanya padaku
“Ngga Vann. Masih lemes tadi pagi gue. Terus kan mau ke dokter juga.”
Jawabku pada Vanno
“Oh ya ya. Lah ini lo bukan istirahat di rumah, malah ajak jalan gua makan.”
Vanno berkata sambil menyeringai lebar
“Yah Vann, kayak lo bilang tadi, kan dekat doang pergi nya. Walau sakit harus tetap makan kan. Nah ini mau makan gua, hahaha.”
Aku pun menyeringai sambil berkata-kata
“Hahaha”
Kami pun tertawa bersama
Sambil menunggu pesanan datang, kami melanjutkan pembicaraan. Dari hal kerjaan, hobby yang di lakukan akhir-akhir ini, makanan favorit dan beberapa hal lain nya. Dan pesanan kami pun datang. Kami memulai menikmati makan malam kami.
“Huuuhaahh…..”
Vanno membuat suara layaknya orang kepedasan di tengah makan malam kami
“Ga, elo makan tuh sambal? Pedas lho. Nanti sakit maag lo kumat kalau makan nih sambal”
Vanno masih terlihat kepedasan dan kemudian dia meminum es jeruk nya
“Ngga Vann, gua makan polosan aja.”
Jawab ku pada Vanno sambil tersenyum geli melihat dia kepedasan
“Huuhaahh…pedas tapi enak sih bro…lo ngga makan tuh sambal kan? Buat gua sini!”
Vanno berkata lagi dan kulihat bulir-bulir keringat ada di sekitar wajah nya
“Hahaha…lo dah kepedasan gitu masih mau tambah sambal nya? Nih ambil sambal gua!”
Aku menyodorkan piring sambal ku kepada Vanno sambi lterkekeh melihat nya
“Enak Ga, biar aja deh, sikat abis”
Vanno mengambil piring sambal ku dan kembali serius menikmati makanan berserta sambal nya itu.
Aku menggelengkan kepala melihat kawan ku ini. Aku pun melanjutkan menikmati pecel ayam ku. Benar pecel ayam ini enak. Walau tanpa sambal masih terasa nikmat di lidah ku. Mungkin itu sebabnya Vanno sangat menikmatinya walaupun pedas seperti yang dia bilang hingga membuat nya keringatan. Dan makanan kami pun habis tak bersisa. Ku minum teh tawar hangat perlahan.
“Vann, sebetulnya ada yang ingin gua bicarakan sama lo.”
Aku berkata hati-hati pada Vanno
“Wiihhh serius nih kayak nya. Soal apa Ga?”
Tanya Vanno pada ku perihal kata-kata ku
“Uumm…heeee…Vann, boleh gua tanya soal Bu…eh Mba kamu?”
Kembali ku berkata pada Vanno
“Oh. Kenapa dengan Mba Vinca, Ga?”