My Lost Love

My Lost Love
Episode 3



Ku sudah berada di dalam mobil sedan hitam yang sepertinya milik Pak Arga. Mobil berjalan keluar dari pintu gerbang kantor dan melaju dengan kecepatan sedang. Kemudian Pak Anto membuka suara.


“Pak Arga tinggal di Kelapa Kuning?


“Tidak pak, saya mau kunjungi bapak saya yang tinggal disitu. Pak Anto sudah lama di Kelapa Hijau?"


Pak Arga melanjutkan jawabannya dengan bertanya kepada Pak Anto.


 “Sudah lama pak, seumuran anak saya yang nomor dua, 20 an tahun lah.”


Pak Anto menjawab pertanyaan Pak Arga


Jadi yang dibicarakan tentang Kelapa Kuning dan Hijau adalah nama jalan dekat dengan rumah ibu ku. Memang rumah ibu ku dan Pak Anto berdekatan, tapi aku tidak pernah berangkat bareng atau pulang


dengan beliau. Tidak enak bagi ku. Begitu pun saat ini. Walau tadi sudah berusaha menolak nya, tapi dua atasan ku ini tetap mengajak ku. Mungkin karena pas berpapasan dan juga se arah makanya aku di tawari untuk pulang bersama.


“Bu Vinca…”


Tiba-tiba pak Arga memanggil namaku.


“Iya Pak”


Terlihat Arga melihat ke spion mobil mencari wajahku disana.


“Sudah lama tinggal di Kelapa Raya?" Tanya nya


 “Mmm..sudah Pak, dari umur saya 10 tahun, itu rumah orang tua saya."


Tersenyum ku sambil menjawab.


 “Oh..ya ya…Seingat saya ada kawan juga tinggal di kelapa raya, tapi saya ngga tahu juga nomor berapa rumah nya. Dia cuma bilang di kelapa raya tinggal nya.


Pak Arga berkata kepada ku


 “Oh gitu…siapa namanya Pak kalau saya boleh tahu?


Tanya ku mencoba cari tahu.


“Vanno biasa saya panggil dia". Pak Arga menjawab.


 “Vanno Syahreza pak?” Nada ku bertanya mencoba meyakinkan


 “Iyaa Vanno Syahreza, bu Vinca kenal?"


Pak Arga membenarkan dan bertanya kembali padaku.


 “Dia adik saya pak” jawabku datar.


“Whaaa…apa kabar Vanno bu?"


Salam untuk dia ya bu. Terdengar nada girang dari pak Arga.


” Kabar baik pak si Vanno .Insyaa Allooh nanti saya sampaikan salam Pak Arga.


Kataku kepada pak Arga


“Terima kasih bu Vinca” Jawab Pak Arga


 Tak terasa perjalan dari kantor sudah mendekati tempat tinggal aku dan Pak Anto.


“Pak Anto, ini sudah dekat daerah Kelapa, kita antar bu Vinca dulu tak apa ya?"


Pak Arga bertanya pelan kepada Pak Anto.


“Ok pak silahkan, memang jalan kelapa raya di posisi depan juga". Pak Anto menjawab.


Mobil terus melaju menuju jalan ke rumah ku. Aku menunjukkan arah nya kepada Pak Arga.


”Nah Pak berhenti di sini pak, itu rumah ibu saya pas diseberang jalan ini, biar pak Arga dan pak Anto bisa langsung lurus aja menuju Kelapa Hijau. Kata ku kepada Pak Arga .


Mobil pun berhenti perlahan menuju pinggir jalan.


“Terima kasih banyak Pak Arga,Pak Anto, saya turun duluan disini”


Pamit ku dengan mengucap terima kasih.


“Sama-sama bu Vinca, jangan lupa salam untuk Vanno". Pak Arga berkata pada ku.


“Insyaa Allooh pak, terima kasih.


Dan ku turun dari mobil sedan hitam itu dan menunggu mereka berlalu kemudian ku menyebrang jalan menuju rumah.


******


Mobil terus melaju ke jalan Kelapa Hijau. Pak Anto mengarahkan jalan menuju ke rumah nya.


“Nah itu pak yang pagar kayu coklat rumah saya".


Pak Anto menunjukkan rumah nya yang berpagar kayu coklat.


“Oh ok pak. Nah sudah sampai, Alhamdulillah".


Ku tepikan mobil di depan pagar rumah Pak Anto.


“Mampir pak Arga ke rumah kecil saya ini".


Pak Anto menawarkan ku untuk mampir ke rumah nya


temui bapak dulu, takut sudah tidur beliau kalau saya mampir dulu. Terima kasih banyak pak".


Ku menolak tawaran Pak Anto tadi dengan nada lemah lembut. Bagaimana pun Pak Anto jauh lebih tua


dari ku.


“Baik Pak Arga,terima kasih saya sudah di antar pulang.


Pak Anto berkata kepada ku


 “Sama-sama ya Pak” Jawabku


Kebetulan hari ini Pak Anto tidak membawa mobil karena sedang ada di bengkel. Setelah Pak Anto


turun dari mobilnya, ku lajukan kembali mobil menuju rumah bapak. Sampai juga akhirnya di depan rumah bapak. Rumah dengan pagar besi putih dengan bangunan yang tak terlalu besar disertai interior rumah jaman dulu. Walau bangunan jaman dulu tapi sudah ada renovasi di beberapa bagian rumah yang mulai rusak.


Rumah ini peninggalan dari kakek ku, orang tua bapak. Bapak  hanya anak semata wayang, begitu pun dengan ku. Swarga Rayyan Pangestu, tidak memiliki adik atau pun kakak. Ibu telah berpulang ketika dia berumur 1 tahun dikarenakan sakit diabet yang memang sudah di idap semenjak mudanya. Bapak Pangestu, ayah ku, membesarkan ku seorang diri. Akan tetapi ketika aku duduk di SMA kelas  1, bapak terkena stroke, mengakibatkan lumpuh sebelah tubuhnya. Semenjak itu aku harus berjuang sendiri untuk meneruskan sekolah dan memenuhi kebutuhan hidup bapak dan diri ku.


Setelah memarkirkan mobil di carport ku menuju pintu rumah.


“Assalamu’alaikum” ku ucapkan salam ketika masuk ke dalam rumah.


 “ Wa’alaikumsalam ….mas Arga sudah sampai”


Kang Ujo menjawab salam ku


“Iya kang Ujo". jawab ku


Ku melihat bapak sedang duduk di kursi besar yang ada di ruang keluarga menghadap ke


sebuah televisi.


 “Bapak hari ini gimana Kang Ujo, baik-baik saja kan?


Tanya Arga pada Kang Ujo


Kang Ujo adalah yang membantu ku untuk menjaga dan mengurus keperluan bapaknya di saat aku


tidak di rumah bapak. Dia pernah sekolah keperawatan, tapi berhenti di tengah jalan karena masalah biaya. Makanya dia sungguh telaten dalam merawat bapak. Pernah ku tawarkan kepada kang Ujo untuk melanjutkan sekolah nya itu. Tapi kang Ujo belum mau dengan alasan semangat belajar nya sudah memudar.


 “Baik mas….paling ya itu…suka nanya….aku sudah makan belum Jo?"


Jelas kang UJo kepada ku tentang keadaan bapak hari ini.


“Oh iya kang, sudah mulai pikun mungkin bapak ya”. Ku hela nafas panjang secara pelan.


“Ya deh kang,makasih ya”.


Ku ucapkan terima kasih pada Kang Ujo yang sudah menjaga bapak.


"Ya mas, sama-sama. Saya tutup pintu pagar dulu ya mas".


Kang Ujo permisi hendak menutup pagar


“Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh Bapak” ku mendekat dan menyapa seraya


memberi salam kepada bapak.


Bapak  menoleh perlahan ke arah ku.


“Ga, kamu sudah pulang….Wa’alaikumsalam warahmatullah wabarakatuh".


Bapak berkata dan menjawab salam ku


 “Sudah pak, gimana kabar bapak? Tanyaku kepada bapak


“Baik Ga,alhamdulillah".


Jawab Bapak sambil terus melihat padaku


 “Bapak lagi lihat apa di televisi?"


Ku bertanya sambil duduk di sofa samping kursi bersar bapak.


”Ini Ga, kajian ustadz Ridwan, lagi bahas soal dzikir”. Jawab Bapak pelan.


“Oh iya pak” Arga mencoba mendengar sejenak kajian tersebut.


" Ya Allooh…" Aku terkaget dan bangkit dengan cepat dari duduk.


“Bapak, Arga sholat maghrib dulu ya, tadi tidak ke masjid karena antar teman kantor yang


pulang bareng".


Aku baru teringat akan apa yang harus segera di lakukan


 “Ya sudah Ga, sana cepat waktu nya sudah mau habis lho". Kata Bapak kembali.


 “Iya pak".


Dan aku pun bergegas ke kamar untuk sholat maghrib.


********


Hai readers.....semoga berkenan dengan cerita dari novel pertama saya. Terus simak ya. Love,like and support sangat di nanti auhtor nih :D. Terima kasih atas perhatiannya yaa.