My Lost Love

My Lost Love
Episode 15



19.50


Aku melihat jam di layar ponsel ku. Dan aku terkaget karena jadwal keberangkatan travel pukul 20.00 WIB. Aku gusar harus bagaimana. Aku tidak mungkin meninggalkan Pak Arga dalam keadaan seperti ini. Tapi bagaimana


nanti aku pulang ke Jakarta nya, jadwal travel di tempat yang ku pesan ituterakhir adalah jam 21.00. Aku terus memegang ponsel ku sambil berfikir cara pulang nanti ke Jakarta. Sambil terus ku tatap Pak Arga yang masih terpejam matanya dan kurasa beliau tertidur.


Dan kuputuskan untuk menelepon ke travel untuk membatalkan jadwal kepergian ku. Ku hela nafas pelan karena masih belum menemukan cara bagaimana nanti pulang. Ku pergi ke kasir dan membayar pesanan makanan kami tadi.


“Mba, restaurant tutup jam berapa ya? Tanyaku kepada kasir resto


“Jam 21.00 bu “ jawab kasir resto


“Ok, terima kasih ya” jawabku dan kemudian kembali ke meja makan.


Ku lihat Pak Arga masih tertidur. Dan ku coba menunggu 15 menit lagi sekiranya Pak Arga bisa terbangun dari tidur nya tanpa harus ku bangun kan. Lima belas menit berlalu dan beliau belum terbangun juga, sedangkan restaurant sudah mulai sepi dan sebagian pelayan sudah mulai beres-beres. Aku mendekati Pak Arga, dan secara perlahan mencoba membangunkan dari tidur nya.


“Pak Arga….Pak…Pak Arga”


Pelan aku memanggil nama Pak Arga untuk membangunkan nya.


Ku ulangi memanggil namanya sampai beberapa kali dan akhir nya beliau terbangun.


“Mmmmm…” Pak Arga terbangun dan mencoba membuka matanya pelan


“Pak Arga maaf….kita masih di restaurant dan sudah mau tutup. Kita ke mobil dulu ya Pak, kita pindah parkir dulu. Berkata ku pada pak Arga dengan suara pelan.


“Oh iya Bu Vinca, sebentar saya siapkan diri saya dulu. "


Pak Arga mencoba mengumpulkan kesadaran nya setelah tidur tadi.


“Bu Vinca…musholla jauh kah?"  Pak Arga bertanya padaku dengan suara serak


“Tidak Pak, musholla ada di belakang dari tempat duduk kita ini."


Ku memberitahu letak mushollah kepada Pak Arga


“Saya sholat dulu sebentar ya bu Vinca." Pak Arga perlahan bangkit dari duduk nya


“Mari saya temani Pak, sekalian kita langsung ke mobil setelah bapak selesai shalat. "


Kata ku pada Pak Arga


“Ok Bu”  Pak Arga mencoba berjalan pelan menuju ke musholla


“Pak …masih sakit perut nya? Perlu saya bantu apa Pak?"  Tanyaku


“Sudah lebih baik bu, alhamdulillah."


Jawab Pak Arga sambil terus berjalan pelan ke arah musholla


Aku mengikuti langkah Pak Arga dari belakang sambil menjinjing tas belanjaan ku tadi. Ketika sampai di musholla ku menunggu di bangku tunggu. Tak berapa lama Pak Arga sudah selesai dan duduk di samping ku


di bangku tunggu untuk memakai sepatunya. Setelah selesai Pak Arga mengambil nafas pelan dan kemudian bangkit dari duduk nya. Kemudian berdiri mematung beberapa saat sambil kembali memegang perutnya.


“Pak…kenapa? Masih sakit ya?" Tanya ku beruntun


“Nyeri nya masih suka ada bu. Tapi tidak se nyeri tadi awal. " Jawab Pak Arga pelan.


“Mau duduk lagi Pak sebelum kita ke mobil bapak?" Tanyaku


“Tidak bu Vinca kita langsung ke mobil saja”


jawab Pak Arga dan mulai berjalan pelan keluar dari mushollah


***************


Tuit…tuit….


Alarm mobil Pak Arga berbunyi tanda mobil tersebut sudah terbuka pintu mobil nya.


“Pak….bapak bisa setir mobil ke Jakarta dengan keadaan seperti ini?"


Tanya ku sebelum kami masuk ke dalam mobil.


“Saya belum tahu nih bu”


“Bapak mau bagaimana? Mau menginap dahulu di Bandung? Mau saya antar dulu atau bagaimana Pak?"


Tanya ku beruntun untuk sekian kali nya


“Bu Vinca…travel nya bagaimana? Terlewat dong ya”


Pak Arga balik bertanya padaku tanpa menjawab pertanyaan ku tadi


“I.ii..yaa Pak” Jawabku tergagap


“Hah….” Pak Arga menghela nafas panjang


“Ada travel lain kah bu yang bisa di pesan untuk pulang ke Jakarta?"  Kembali Pak Arga bertanya padaku


“Mmm…kalau travel yang sama terakhir jam 21.00. Saya belum tahu travel yang lainnya”


Jawabku kepada Pak Arga


“Hah…”  Kembali lagi Pak Arga menghela nafas panjang


“Pak…bapak belum jawab pertanyaan saya tadi, mau menginap dulu di Bandung atau bagaimana?"


Desak ku kepada Pak Arga untuk menjawab pertanyaan ku.


“Saya tidak mau menginap di sini Bu…tapi…..” Pak Arga tidak melanjutkan jawabannya


“Pak…saya pulang bareng dengan bapak….saya yang setir mobil nya”


tiba-tiba saja keluar ide seperti itu dalam otak ini dan ku katakana pada Pak Arga


“Apa?” Pak Arga terkejut mendengar ide ku itu.


“Saya bisa setir mobil kok Pak jangan khawatir, pernah sering bolak balik Bogor Jakarta."


Santai ku berkata Pak Arga untuk tidak ragu dengan kemampuan menyetir mobil ku.


“Tapi bu…” Pak Arga terlihat tidak yakin dengan ide ku.


“Pak…saya coba bawa dulu mobilnya. Kalau ternyata bapak tidak nyaman dengan cara saya menyetir, silahkan di stop, dan baru nanti di fikirkan lagi agar kita bisa tetap pulang ke Jakarta."


Ku mencoba menjelaskan kepada Pak Arga.


“Ok bu…” Pak Arga menyetujui ide ku kemudian memberikan kunci mobil nya.


“Pak Arga….bapak duduk di belakang saja, biar bisa rebahan atau lebih nyaman istirahat nya."


Aku memberi saran kepada Pak Arga.


“Ok bu..”  Pak Arga menjawab pendek dan kemudian membuka pintu belakang bagian penumpang.


Ku rapihkan belanjaan ku di bagasi mobil Pak Arga. Ku persiapkan diri ku di belakang kemudi. Mengatur posisi duduk, spion kanan kiri dan tengah, mengecek bensin, menyalakan lampu mobil dan terakhir memakai seatbelt. Aku cukup bisa mengendarai mobil sedan Pak Arga karena mobil ku di rumah sedan juga. Tentunya tidak semewah sedan Pak Arga. Aku jarang sekali membawa mobilku itu. Lebih santai rasanya bila naik bus atau ojek online. Malas


rasanya untuk bermacet-macetan di belakang kemudi sendiri.


Ku mulai melajukan mobil Pak Arga perlahan meninggalkan parkiran mobil. Dengan bantuan aplikasi maps aku mengarah ke jalan menuju Jakarta. Cukup mulus aku membawa mobil Pak Arga, sempat ku mencari keberadaan


Pak Arga dari spion mobil untuk memastikan beliau baik-baik saja. Dan kulihat Pak Arga duduk bersandar menatap arah jendela.


“Pak Arga… apakah bapak nyaman dengan cara saya menyetir?"  Ku beranikan bertanya kepadanya


“Mmm..ii..yaa bu Vinca, cukup nyaman."  Pak Arga membalas pertanyaan ku


“Pak Arga masih merasa sakit di perut nya?"   Lagi ku bertanya padanya


“Sudah lebih baik bu, alhamdulillah. Cuma efek dari sakit tadi menyerap tenaga, jadi lemas badan saya bu.


Pak Arga mencoba menjelaskan kondisi nya pada ku.


“Bapak istirahat saja lagi, bismillah, semoga kita sampai dengan selamat di Jakarta."


Ku berkata dan kembali focus mengendarai mobil menempuh perjalanan menuju Jakarta.