
“Vann…Ibu sudah tahu rencana kamu akan melamar?
Aku bertanya kepada Vanno dalam perjalanan pulang ke rumah.
“Sudah, kemarin sebelum Mba pulang kerja, aku sudah bicara dengan Ibu. Sebetulnya Ibu juga sudah kenal dengan calon ku. Mba ingat nda, waktu kapan Mba pergi tugas ke Semarang, Ibu saya ajak ke Bandung kan, nah itu saya perkenalkan calon aku ke Ibu. Dan Ibu setuju dengan rencana aku melamar dia. Doakan ya Mba, semoga dia bisa jadi istri yang terbaik untuk aku."
Vanno memberikan mimik wajah teduhnya sambil menjelaskan cukup panjang kepadaku.
“Siapa dia Vann, apa Mba kenal atau ngga?” Tanyaku lanjut
“Dia namanya Deena Mba. Mba belum kenal dengan dia. Deena itu kawan nya teman kerja aku di kantor Bandung. Suatu hari teman ku itu mengenalkan Deena kepadaku. Memang dia sengaja mau menjodohkan aku dengan
Deena. Dan ternyata kami merasa cocok satu sama lain. Kami juga baru kenal 2 bulan Mba, termasuk ngga pacaran ya kan, hehehe." Vanno menjelaskan kalimat terakhir sembari menyeringai nakal.
“Yah tergantung kamu selama 2 bulan itu ngapain aja, kalau mesum-mesum, sama aja boong lah” jawabku
sekenanya.
“Hahahaa…ampun Mbaa…masak iya Vanno begitu sih, alhamdulillah ngga Mba."
Vanno menjelaskan di iringi tawa geli nya.
“Bismillah semoga lancar ya Mba, doakan dan restui aku ya MBa."
Kembali Vanno menjelaskan sambil meminta restu ku.
“Bismillah Vann…insyaa Allooh di mudahkan segala niatan baik mu, kamu bisa menjadi imam terbaik bagi Deena, dan dia jadi istri terbaik bagi kamu” Aku berkata sambil mengusap pundak VAnno.
“Aamiin…Terima kasih ya Mba. Vanno membalas doa ku dengan tatapan teduh ketika dia menoleh padaku.
*******
“Pagi semua” Pak Anto menyapa dari balik kubikel kami para karyawan.
“Pagi Pak” Bersahutan kami menjawab sapaan Pak Anto.
“Tolong siap kan laporan kerja terakhir masing-masing kalian ya, dalam 1 jam kita ada meeting dengan Pak Arga” Pak Anto berkata kepada kami.
“Baik Pak Anto” Sahut kami bergantian.
Dan Pak Anto pun berlalu dari hadapan kami.’
“Gasspol gaes…1 jam lagi buat laporan dulu." Fendi berkata memunggungi aku, Kiki dan July”
“Gasspol Fend…lanjut…” Kiki menyahut dengan posisi seperti Fendi, menghadap meja kerjanya sendiri.
Aku pun mulai menyiapkan berkas kerja yang di perlukan untuk meeting nanti.
********
“Assalamu’alaikum….Selamat Siang semua” Pak Arga memasuki ruang meeting dengan senyum simpul dan mengangguk ke arah peserta meeting. Kemudian kami yang berada di ruang meeting pun menjawab salam
Pak Arga.
“Maaf kan bapak ibu sekalian atas meeting dadakan ini. Besok saya akan ada kunjungan ke kantor cabang perusahaan di Bandung. Saya perlu memeriksa beberapa data kelengkapan dari kantor pusat ini
mengenai pemasaran di kantor cabang tersebut. Pak Anto bisa membantu saya untuk data-data ini, silahkan Pak Anto."
Pak Arga menjelaskan kepada kami semua dan mempersilahkan Pak Anto mengambil alih meeting.
Pak Anto mulai menjelaskan satu persatu tentang hal yang berkaitan dengan data yang di inginkan Pak Arga.
“Terima kasih Pak Anto. Saya minta berkas-berkas yang di jelaskan tadi di kirim ke ruangan kerja saya ya Pak. Oh
iya, Pak Anto, saya seperti nya butuh seseorang dari team pemasaran untuk membantu kunjungan kerja saya disana, bisa bapak tentukan nanti siapa yang akan berangkat." Pak Arga berbicara kepada Pak Anto.
“Siap Pak, nanti saya dan team akan persiapkan.” Pak Anto berkata pada Pak Arga
“OK, meeting kali ini kita sudahi dulu.Terima kasih bapak ibu untuk waktunya. Assalamu’alaikum, selamat siang." PAk Arga menutup meeting.
"Wa'alaikumsalam, selamat siang Pak" serentak kami menjawab salam Pak Arga
Pak Arga berdiri dari bangku meeting dan mengarah menuju pintu keluar ruang meeting.
“Ok….” Pak Anto berdiri dari tempat duduknya dan menatap kami satu per satu.
“Kalian dengar tadi Pak Arga minta seseorang dari kalian untuk menemani kunjungan kerja beliau. Jadwal siapa kali
ini yang punya tugas luar daerah?" Pak Anto bertanya
Di antara kami ber empat memang memiliki jadwal bergantian untuk tugas luar daerah.
July mencoba membuka buku catatan di hadapan nya. July memang yang mencatat jadwal tugas luar daerah di antara kami. Sejenak July mencari halaman catatan dan kemudian membacanya.
“Vinca Pak Anto." July membuka suara.
“Ok….Vinca ….berarti kamu siap-siap besok untuk berangkat ke Bandung. Nanti saya kabari bagian keuangan mengenai tugas luar daerah kamu. Jangan lupa kamu siapkan berkas-berkas yang Pak Arga minta dan kamu buat copy nya, bawa juga dengan kamu besok. Pelajari dari Fendi, Kiki dan July bila ada kaitan dengan pekerjaan mereka dalam berkas-berkas itu." Pak Anto memberikan instruksi kepada ku.
“Baik Pak” Jawab ku singkat.
“Baik…saya kira cukup, ada pertanyaan?" Tanya Pak Anto sebelum menutup meeting.
Dan Pak Anto pun pergi keluar dari ruang meeting.
“Vinca…..besok jangan nakal yaa sama Pak Arga” Tiba-tiba Kiki berkata sambil menyeringai dan mengedipkan kedua matanya menggodaku.
“Kiiii….kerja Ki, gua disana mau kerja, bantuin dia kerja, jadi kesimpulan kerjaaa Ki.” sedikit naik nada kalimatku kepada Kiki.
“Iiisshh gitu aja ngambek, hahaha." sahut kiki sambil tertawa puas karena berhasil meledek ku.
“Lo aja apa Ki gantiin gua tugas, senang deh gua, ngga harus keluar kota” aku sedikit merajuk kepada Kiki.
“Andaikan gua bisa Vinca, sayang nya memang jodoh lu yang pergi sama Pak Arga. Gua ada janji ama bonyok, besok malam ada pesta anniversary mereka." Kiki berkata balik kepadaku sambil memonyongkan mulutnya.
“Tuh kan…ngeles aja luh” sahut ku malas.
“July yang ngeles Vinca, ngeles masak, biar makin di cinta kokoh Iwan." Kiki mencoba bercanda untuk mencairkan ngambek ku.
July hanya tersenyum dan menggelengkan kepala nya melihat kami berdua dan mulai berjalan ke arah ku.
“Vinca ini berkas kerja yang tadi Pak Anto jelaskan dari bagian gua ya. Lo pelajari dulu, kalau ada yang bingung tanya amagua ya” July menaruh beberapa berkas di meja ku.
“Ok July, makasih ya”. Kata ku kepada July sambil mengambil berkas dari nya.
“Eh iya, gua rapihin dikit dulu ya Vinc berkas-berkas gue. Kiki berkata kepadaku dan mulai menghadap komputernya.
“Ini berkas-berkas bagian gue, sama kayak July tadi, kalau ada yang bingung, tanya gue aja ya”
Fendi menghampiri dan menaruh berkas-berkasnya di mejaku.
“Ok Fendi, makasih.” JAwabku kepada Fendi
************
"Huft…" aku menghelas nafas pelan.
Ku ambil satu persatu berkas dari July dan Fendy dan ku baca dengan seksama dan mencoba
memahami isi berkas-berkas mereka. Sejauh ini masih bisa ku pahami, karena tadi Pak Anto juga sudah menjelaskan sebagian dari hasil kerja kami masing-masing.Tak lupa ku siapkan berkas-berkas ku dan membaca nya sekali lagi sekiranya ada yang terlewat.
“Vinca…..”
tiba-tiba Pak Anto sudah ada di samping pembatas kubikel ku.
“Iya pak."
Jawabku sambil menengok ke arah Pak Anto lalu berdiri dari bangku kerja.
“Ini surat perjalanan kerja kamu besok dan Pak Arga sudah diberitahu bahwa kamu yang akan menemani kunjungan kerja nya.Jangan lupa, kalau berkas-berkas yang diminta sudah siap, kamu antarkan ke
ruangan beliau ya. Sudah beres ya?"
Pak Anto menjelaskan dan juga bertanya kepadaku.
“Hampir siap Pak, tinggal satu berkas lagi saya selesaikan. Oh iya pak, sebelum saya serahkan berkas-berkas yang
diperlukan apa perlu saya perlihatkan kembali kepada bapak?
Jawab dan tanyaku kepada Pak Anto.
“Boleh ….saya tunggu sebelum jam 4 ya." Jawab Pak Anto.
“Baik Pak, terima kasih." kataku kemudian pada Pak Anto
“Oh iya Vinca….kamu besok naik apa ke Bandung? Mungkin berangkat bersama Pak Arga kah?"
Pak Anto kembali bertanya padaku.
“Saya naik Travel saja Pak, kantor cabang Bandung dekat dengan pool Travel yang saya akan gunakan."
Jawabku atas pertanyaan Pak Anto
“Ya sudah, jangan lupa segera pesan Travel nya, kamu kumpulkan tiket atau kwitansi pengeluaran kamu disana, nanti kamu berikan beserta surat perjalan tadi ke bagian keuangan, mereka akan ganti semua."
Pesan Pak Anto padaku.
OK Vinca, terima kasih, saya tunggu di ruangan saya jam 4." Dan Pak Anto berlalu dari hadapan ku.
“Kiiiii….” Aku memanggil Kiki.
Ketika ku membalikkan badan ke arah Kiki berada, dia sudah ada tepat di depan muka ku.
“Ini….” Kiki menyoodorkan berkas-berkas nya sambil memamerkan deretan gigi nya.
“Makasih yaa sayang” Ku ambil berkas dari Kiki dengan tangan kanan dan tangan kiriku menyubit pipi Kiki sambil tersenyum padanya.
“Sama-sama cinta” Jawab Kiki balik menggodaku
“Rangga ngga ada Kiii” jawabku sekenanya sambil kembali duduk ke bangku kerja untuk memulai lagi memeriksa berkas-berkas yang akan diserahkan kepada para boss.