
Part 34
POV Arga
“Itu mobil kamu kan Disk? “
Aku memastikan kepada Diska rekan kerja ku dari cabang
kantor lain yang sedang berkunjung.
“Iya Ga, itu mobil saya”
Diska menjawab pertanyaan ku
Mobil Diska mendekat dan berhenti tepat di depan tempat kami
berdiri. Ku buka kan pintu mobil penumpang untuk nya dan kemudian dia masuk ke
dalam mobil. Lalu aku mengitari mobil menuju pintu satu nya untuk duduk di
bangku penumpang sebelah Diska. Dan kemudian mobil yang kami tumpangi melaju
perlahan.
Tujuan kami adalah ke tempat makan terdekat untuk makan
siang bersama, karena tamu tentu harus di jamu. Dalam perjalanan kami berbincang
mengenai tour office tadi dan juga membahas sedikit soal pekerjaan.
“Ga, elo masih ingat kan waktu pertemuan terakhir kita sebelum
ini?”
Tiba-tiba Diska bertanya padaku.
“Ehm..ergh…ya….”
Jawabku tak jelas, tidak menyangka Diska akan bertanya hal
itu
“Aku belum berubah lho Ga. Masih Ohsuka sama kamu.”
Diska berkata dengan jelasnya padaku tanpa ragu.
“Oh ya? Hah…….”
Sungguh , Diska membuat ku tidak bisa berkata apa-apa.
“Kenapa kamu Ga? Dari tadi Cuma ehh..ergh…oh….Kaget atau
kagum Ga?”
Diska bertanya kemudian menyeringai lebar menatapku.
“Kaget Disk…itu kan sudah lama. Aku mengira kamu sudah
selesai dengan rasa pada ku.”
Jawabku tanpa menatap Diska malah memalingkan wajah ke arah luar
mobil.
Ternyata mobil yang kami tumpangi sudah sampai di tempat
makan yang di tuju. Pembicaraan kami tadi pun terhenti. Kami segera masuk, mencari
dan menduduki tempat duduk dan segera memesan makanan dan minuman yang ada
dalam menu. Kami pun menunggu makanan dan minuman yang di pesan datang.
“Ga, aku sudah menyelesaikan semua dengan mantan ku. Aku
sudah tidak dengan dia. Ya, walaupun harus bersusah payah untuk lepas dari dia,
tapi akhirnya dia melepas kan ku juga. Dia juga sudah mau nikah sekarang.”
Sedikit panjang lebar Diska menjelaskan keadaan nya
sekarang.
“Oh gitu ya Disk. Kamu ngga apa-apa kan?”
Terlihat oleh ku saat Diska menjelaskan padaku tadi, tatapan
matanya menerawang ke arah meja makan.
“Ngga apa-apa gimana Ga? Ya aku ngga apa-apa lah sudah pisah
sama dia. Ngeri juga sama sifat posesif nya.”
Diska berkata sambil terlihat santai, tapi aku melihat dia
masih menerawang seperti memikirkan sesuatu.
“Oh ok, alhamdulillah kalau kamu ngga apa-apa.”
Pendek saja aku menanggapi perkataan Diska barusan.
“Ga…kamu masih belum bisa
membuka hati mu untuk aku? Kasih aku kesempatan Ga untuk tunjukin ke seriusan
rasa suka sama kamu ini. Kamu bilang mau nikah aja kan, ya sudah, yuk kita
nikah.”
Kembali perkataan Diska
membuat aku ternganga dan bingung untuk berkata kembali padanya.
“Duh Disk…se serius ini kah
pembicaraan kita, ngga bisa bicara yang lain aja ya..he..he…”
Aku mencoba berkata santai
dan mengalihkan perkataan Diska tadi.
“Ngga Ga….jawab aku Ga….selama
ini aku menahan rasa untuk tidak merasa suka sama kamu. Tapi hari ini, bertemu
dengan kamu, aku ngga bisa tahan lagi.”
Diska berkata-kata sambil
menundukan wajah nya, terlihat dia sangat sedih .
“Hah….Disk….dekat-dekat ini
aku akan melamar seorang perempuan untuk menjadi istri ku.”
Dengan berhati-hati aku
berkata pada Diska.
“Apa?”
Terperanjat Diska mendengar
perkataan ku. Aku mengangguk memastikan perkataan ku tadi benar.
“Tap-taapii belum melamar
kan, baru akan kan? Berarti masih ada kesempatan aku dong Ga. Ga…kamu kan dulu
juga mau melamar ku kan. So..do it Ga…I’m already free…please reconsider me Ga.”
Diska berkata-kata kembali
dengan tatapan dan nada pengharapan pada ku.
“Maaf Diska….aku ngga bisa
menerima rasa suka kamu. Maaf ya Disk, insyaa Allooh kamu bisa dapat yang
lebih..lebih..baik dari aku.”
Ku meminta maaf atas apa
yang terjadi saat ini.
“Kamu sudah yakin sama perempuan
yang akan kamu lamar ini? Memang nya kamu yakin akan di terima oleh dia? Bisa
Diska kembali
memberondong aku dengan pertanyaan-pertanyaan nya.
“Ya… aku yakin sama dia…aku
berharap dia yang terbaik untuk ku. Betul, belum tentu lamaran ku akan di
terima nya, tapi aku akan melamar nya dulu.”
Begitu jawabku atas
pertanyaan Diska.
“Lalu…misalkan dia menolak
mu, apakah aku punya kesempatan untuk di lamar oleh mu?”
Lagi Diska memberi
pertanyaan yang sejujur nya membuat hati ku ciut.
“Diska…kemungkinan di
terima pun pasti ada kan? Yah…kalau di tolak, aku akan memperbaiki diri lagi
dan mencari kembali calon istri yang terbaik untuk ku.”
Mencoba santai dengan semua
jawaban agar terlihat tidak ada keraguan dalam diri ku di mata Diska.
“Aku harus menjadi jahat
atau baik? Mendoakan mu di terima atau ngga di terima? Harus bagaimana aku Ga?”
Diska masih terus bertanya
padaku tapi kali ini dia memberikan seringai seperti meledek ku. Aku merasa
bahwa Diska sudah sedikit santai dengan semua penjelasan-penjelasan ku tadi.
“Kamu orang baik kok Diska.
Kamu tahu betul apa yang harus kamu lakukan.”
Singkat ku berkata pada
Diska.
“Hah….sedih sebetulnya
dengar kata-kata kamu Ga. Tapi betul Ga…aku orang baik, ku doa kan yang terbaik
untuk kamu Ga. Ngga pernah lepas aku doain yang terbaik buat kamu.”
Diska menatap ku sendu
sambil berkata-kata.
“Ku doakan yang terbaik
juga untuk kamu Disk, aamiin.”
Demikian ku berkata kembali
pada Diska.
Dan pesanan makanan dan
minuman kami pun dating. Kami memulai menikmati nya. Sesekali kami masih
berbincang tentang kerjaan. Perbincangan mengenai rasa suka dan lain-lain sudah
tidak di bahas lagi. Diska terlihat mencoba santai dengan keadaan kami berdua.
Tapi sesekali ku tangkap pandangan nya menunjukkan rasa sedih. Hah….menjalar
rasa bersalah di diri ku, tapi ku sudah menetapkan apa yang telah ku jelaskan
tadi kepada Diska. Bahwa perempuan yang akan ku lamar ini adalah yang terbaik
untuk ku.
Makan siang kami pun
selesai. Kami pun kembali menuju kantor ku. Dalam perjalan kembali ke kantor
kami banyak terdiam. Diska sibuk dengan ponsel nya, begitu pun aku. Ketika
perjalanan sudah mendekati kantor ku, Diska membuka bicara.
“Ga…boleh tahu kenapa kamu
yakin memilih dia?”
Diska masih bertanya
tentang calon yang akan ku lamar.
“Mmm..apa ya…dia seperti
nya orang yang sangat perhatian. Baru kenal saja, ketika aku sakit, dia mau susah
payah mencarikan ku obat.”
Jawabku sambil mengingat
kembali apa yang membuat aku yakin melamar calon ku itu.
“Yah Ga…semua juga gitu
kali, masak iya kalau sakit ngga di cariin obat sih.”
Diska berkata sambil
tertawa kecil.
“Hahaha..iya ya….mmm apa ya…karena
dia mau menyetir mobil ku dari Bandung sampai Jakarta mungkin, makanya aku
kagum sama dia. Hahaha”
Semakin ngga jelas alasan
ku mengapa yakin akan untuk melamar calon ku itu.
“Gaaa….aduh absurd banged
sih alasan kamu mau meminang dia jadi istri kamu. Ah ya ya deh kamu yang tahu
persis alasan memilih dia. Semoga kamu bahagia Ga, aamiin.”
Diska semakin terkekeh dan
menggelengkan kepala nya mendengar jawaban ku baru saja.
“Hahaha…iya Disk….yang aku
rasa, dia bisa menjadi istri yang baik untuk ku, ngga tahu juga feels nya gitu,
aamiin , semoga aku bahagia, demikian kamu juga ya Disk.”
Aku berkata pada Diska
sambil melihat ke arah nya dan terlihat dia menyapu pipi nya karena basah.
“Hiks…iya Ga…aamiin….yang
terbaik buat kamu ya Ga.”
Diska terlihat menitikkan
air mata nya. Aku hanya bisa terdiam. Menghela nafas sejenak untuk menghilang
kan canggung keadaan ini.
Akhirnya kami pun sampai di
kantor ku kembali. Ku berpamitan dengan Diska. Lalu Diska pun melanjutkan
perjalanan nya kembali ke kantornya. Dan aku pun memasuki gedung kantor menuju
ruang kerja.