My Lost Love

My Lost Love
Episode 18



“Selamat Pagi Pak “ sapa ku kembali pada beliau


“Pagi Nak, mau ketemu siapa? Arga?” tanya beliau dengan suara yang perlahan


“Iya Pak “ jawab ku


“Tadi sudah ketemu Ujo kan? Tanya Bapak itu


“Mmm…sudah pak”. Jawab ku ragu hanya bisa menerka bahwa yan tadi membuka kan pintu pagar bernama Ujo


“Di tunggu ya, Ujo lagi panggil Arga ke dalam “ Kembali Bapak itu berkata sambil menatap ke dalam rumah


“Baik Pak “ Jawab ku pendek


“Assalamu’alaikum bu Vinca” tiba-tiba terdengar ucapan salam dari Pak Arga


“Wa’alaikumsalam Pak” Jawab ku sambil melihat kepada Pak Arga


Pagi ini Pak Arga terlihat memakai celana training hitam dan kaos oblong abu-abu. Rambut tidak se rapih biasa nya kalau aku melihat nya di kantor. Dan memang wajah nya masih sedikit pucat. Mungkin benar adanya bahwa


beliau belum pulih dari sakitnya kemarin. Tetapi, dia tetap menarik untuk di lihat.


“Bu…” Pak Arga memanggil ku. Sepertinya beliau melihat aku yang sibuk dengan pikiran ku sendiri sambil menatap nya.


“Eh …iya Pak” aku tersadar dan merasakan merah muka ku karena malu


“Silahkan duduk bu” Pak Arga mempersilahkan ku duduk di kursi teras. Dan beliau pun menempat kan diri nya di salah satu kursi yang ada di situ.


“Ini berkas untuk Pak Anto. Saya minta tolong sampaikan ke beliau. Saya belum sempat merapihkan di laptop saya. Tapi nanti untuk detailnya saya akan hubungi Pak Anto.” Pak Arga berkata memberikan penjelasan pada ku


“Baik Pak “ Jawab ku dan mengambil berkas yang di berikan Pak Arga


 “Titipan nya ini sajakah Pak?” Aku bertanya pada beliau


“Sudah bu sementara itu saja” Jawab Pak Arga


Aku pun menyimpan berkas tadi dalam tas file ku. Dan ku bersiap merapihkan semua bawaan ku hari itu yang cukup banyak. Di karena oleh-oleh untuk teman-teman kantor harus ku berikan pada mereka hari ini juga.  Dan aku meraih ponsel ku untuk memulai mencari taksi online.


“Pak, karena sudah selesai, saya permisi berangkat ke kantor dulu” aku berkata kepada Pak Arga tanpa melihat padanya di karena kan mencari taksi online.


“Bu Vinca, saya pesan kan taksi online ya,sebentar saya ambil ponsel saya” Jawab Pak Arga dan kemudian beliau berdiri dari duduk nya hendak menuju ke dalam rumah.


“Pak..pak…ini saya lagi cari taksi online, tinggal klik terus di cariin aplikasi deh “ Jawab ku menahan langkah Pak Arga.


“Matikan aplikasi nya bu, saya carikan untuk ibu” ada nada perintah dari suara Pak Arga kepada ku


“Tapi pak…ini tinggal….” Jawabku sambil menatap ke arah Pak Arga dengan raut muka polos


“Sebentar ya bu, saya pesan kan” Pak Arga berkata dan meninggal kan ku di teras rumah.


Sedikit kesal aku dengan Pak Arga. Kenapa sih harus beliau yang pesan taksi online. Kan sama aja kalau aku yang pesan. Tak terasa aku memanyun kan bibir ku. Ku melihat ke arah Bapak yang ada di halaman rumah.


Beliau masih terlihat menikmati duduk nya di halaman itu. Kemudian aku pun mulai melihat ke kiri dan dan kanan halaman rumah. Di kiri ada carport rumah dan terparkir mobil pak Arga disitu. Di kanan rumah, tepat nya halaman, ada beberapa tanaman hijau rapih dalam pot. Ada juga pohon buah jambu yang tidak terlalu tinggi dalam tong besar. Rumput gajah yang hijau dan rapih terlihat terawat. Pak Arga yang merawat tanaman? Terlintas dalam pikiran ku. Ah, masa iya, mungkin Ujo tadi yang merawatnya. Apa Bapak itu? Karena dia sangat menikmati keberadaan nya di halaman tersebut.


Ku berdiri dari duduk ku dan mencoba mendekati Bapak yang berada di kursi roda itu


“Halaman nya bagus Pak, banyak tanaman nya” aku memulai berbicara kepada Bapak itu.


Bapak itu melihat pada ku dan tersenyum.


“Iya, Ujo merawat halaman ini dengan baik.” Bapak  itu menjelaskan padaku sambil melihat sekeliling halaman.


“Udara juga terasa segar ya Pak” Kata ku kembali pada beliau sambil menghirup udara pelan


“Iya, makanya tiap pagi saya duduk di halaman ini. Sekalian berjemur matahari pagi. Dan menghirup udara yang masih segar. Berkata beliau kembali padaku


“Iya Pak, hangat matahari pagi di tambah sejuk udara membuat nyaman ya” kata ku kepada beliau tentang apa yang kurasa mengenai matahari pagi.


“Sehat Nak. Matahari pagi baik untuk kesehatan Nak.” Kata beliau padaku


“Eh iya pak, jadi sehat” kata ku kembali sambil membuka mataku dan tersenyum malu


Berselang kemudian Pak Arga keluar dari dalam rumah. Sepertinya beliau baru saja berbicara dengan seseorang di ponsel.


“Bu Vinca” Beliau memanggilku


“Eh ….mmm…iya Pak” jawabku terbata dan berjalan mendekati Pak Arga di teras


“Taksi online nya sudah hampir sampai di depan.” Pak Arga memberitahukan posisi taksi online yang di pesan padaku


“Baik Pak” Aku bersiap dengan segala bawaan ku hari ini


“Pak Arga” ku memanggil Pak Arga


“Ya bu Vinca” jawab Pak Arga


“Beliau Bapak nya Pak Arga? Tanyaku pada pak Arga sambil menoleh ke arah Bapak yang ada di halaman


“Iya betul bu. Bapak suka duduk di halaman pagi-pagi gini. Sambil berjemur matahari pagi”


jawab Pak Arga sambil tersenyum dan melihat ke arah Bapak nya


Aku menoleh ke arah Bapak nya Pak Arga untuk berpamitan.


“Pak…saya permisi dulu ya. Terima kasih ya Pak” pamit ku ke Bapak itu


“Iya Nak. Sering-sering berjemur, biar sehat” Bapak nya Pak Arga berpesan padaku


“Baik Pak, Assalamu’alaikum” salam ku sebagai kata akhir pamit pada beliau


“Wa’alaikumsalam” Bapaknya Pak Arga menjawab salam ku


Ku langkah kan kakiku mengarah keluar dari area rumah itu. Pak Arga mengikuti dari belakang.


Ketika ku membuka pintu pagar terlihat sebuah mobil mengarah parkir tepat depan rumah Pak Arga


“Bu Vinca, taksi online nya sudah sampai” Pak Arga berkata padaku dan berdiri sejajar dengan ku


“Iya Pak” jawabku dan bersiap melangkah untuk masuk ke dalam mobil


Pak Arga mendahului langkah ku ke arah mobil itu dan kemudian membuka pintu bagian penumpang


“Silahkan bu Vinca, hati –hati di jalan” Pak Arga  berkata dan mempersilahkan aku masuk ke dalam


mobil


“Ma…ma…kasih Pak” jawabku terbata


“Assalamu’alaikum” pamit dan salam ku pada Pak Arga kemudian masuk ke dalam mobil


“Wa’alaikumsalam, oh iya bu, biaya taksi nya sudah di bayar ya” berkata pak Arga seraya memberi salam padaku ketika hendak menutup pintu mobil.


“Baik Pak, terima kasih” jawabku di iringi dengan pintu mobil yang di tutup


Terlihat dari luar jendela mobil Pak Arga melambaikan tangan pada ku dan aku pun hanya membalas dengan anggukan dan senyum, walaupun entah terlihat atau tidak oleh pak Arga


“Jalan Pak” kataku pada pak supir taksi online