My Lost Love

My Lost Love
Episode 29



Part 29


POV Arga / Flash Back On


Ting


Pintu lift terbuka di lantai tujuan kami. Aku keluar dari dalam lift begitu pun Bu Vinca. Kami berdiri di depan pintu masuk kantor menuju meja resepsionis.


“Pak Arga, maaf ya candaan saya tadi”


Bu Vinca berkata meminta maaf pada ku


“Santai bu…saya senang kita bisa ngobrol santai”


Kata ku sambil tersenyum pada nya


“Heeee….ya deh pak, saya ke ruangan saya dulu”


Bu Vinca berpamitan hendak menuju ke ruangan nya.


Ruangan ku dan bu Vinca berbeda arah. Bila dari meja resepsionis ruangan ku ke arah kanan dan dia ke kiri.


“Baik bu, selamat bekerja ya”


Kata ku padanya


Dan Kami pun berpisah menuju ruangan masing-masing. Saat ku berjalan menuju ruangan, ku tersenyum dengan segala yang terjadi tadi. Suatu perbincangan yang sungguh membuat ku bahagia pagi ini. Seperti anak belia saja


kurasa bila merasa seperti ini. Ku hela nafas sejenak dalam langkah ku menuju ruangan kerja. Sesampai nya di dalam ruangan kupersiap alat mandi ku dan baju ganti. Karena hanya ada toilet bersama di kantor, aku biasa nya setelah berolah raga pagi seperti sekarang ini, aku akan mandi di salah satu toilet. Aku sudah mengadakan perjanjian dengan salah satu petugas kebersihan, Kang Topik nama nya, bahwa bila ku sudah selesai memakai salah satu toilet untuk mandi, yang jadi nya pasti basah banget dalam toilet itu, maka dia bertugas untuk


membereskan nya ke keadaan standar toilet kantor. Tentu saja aku memberikan sedikit upah atas apa yang dia lakukan untuk ku itu.


Selesai berganti rapih dengan baju kantor dan kembali ke ruangan, ku masih teringat akan kejadian tadi. Hmm, sepertinya aku harus memastikan semua ini. Apa yang harus ku lakukan selanjutnya. Ku berkata pada diri ku sendiri. Mengenai pribadi nya sudah dapat sebagian info dari Vanno. Apa lagi yang harus ku tahu. Aku terduduk dan bersandar di kursi kerja sambil memijit pelan kening ku. Kemudian terpikir oleh ku untuk berkunjung ke rumah


nya. Ah iya, sekalian saja aku berkenalan ibu nya. Jadi dengan begitu mungkin bisa membantu ku untuk memastikan langkah selanjutnya mengenai perasaan ini. Ku ambil ponsel ku dan mencari nama Vanno di daftar kontak.


Tuut….tuut…..


“Hallo…Assalamu’alaikum….bro Arga, apa kabar?”


Nada sambung ponsel yang kudengar berubah menjadi sapaan dari Vanno


“Wa’alaikumsalam Vann. Baik. Elo bagaimana Vann?”


Ku membalas sapaan Vanno dan balik bertanya kabar nya.


“Baik, alhamdulillah Ga. Sehat ya lo? “


Vanno masih menanyakan mengenai kesehatan ku


“Alhamdulillah Vann. Gua masih ngga minum kopi, jadi masih aman lah”


Aku kembali menjawab pertanyaan Vanno tadi.


“I see, skip the caffeine right. Eh, ada apa nih Ga telepon gue?”


Vanno menanyakan mengapa aku menghubungi nya


“Mmm ….sorry Van kalau ganggu ya. Eh, bentar, lo lagi tugas luar kota ngga?”


Dan aku menjawab pertanyaan Vanno dengan pertanyaan dari ku


“Gua lagi di Jakarta Ga, belum ada tugas luar kota. Kenapa nih nanya gitu. Mau ajak gua makan lagi ya? Hahaha.”


Vanno menjawab pertanyaan kemudian berseloroh pada ku.


“Hahaha…mmm….gua boleh berkunjung ke rumah lo ngga?”


Aku hanya bisa tertawa akan perkataan Vanno dan mengutarakan keinginan ku untuk berkunjung ke rumah nya.


“Wah....boleh dong. Silahkan aja. Tunggu….kenapa nih tiba-tiba main ke rumah gua? Apa masih lanjutan kisah


kasih di kantor nih?”


Vanno bertanya heran serta menggoda ku dengan pertanyaan nya yang terakhir.


“Heeee…..iya Vann. Mau kenalan sama Ibu boleh ya Vann.”


Aku tersipu malu menjawab pertanyaan Vanno tadi


Kembali Vanno menggoda tujuan yang ku sampai kan tadi.


“Ah elo Vann, tahu aja”


Jawab ku pendek dalam malu yang kurasa.


“Hahaha….siap….siap. Elo, mau ke rumah kapan?”


Vanno bertanya kapan aku akan berkunjung ke rumah nya.


“Malam ini, setelah Isya bisa Vann? Gua shalat maghrib dulu di rumah bapak sekalian bertemu beliau sebentar.”


Jawab ku pada Vanno.


“Ok Ga, gua tunggu. Mau gua kasih tahu Mba Vinca ngga lo mau datang ke rumah?”


Aku tahu Vanno menahan tawa nya ketika bertanya hal ini pada ku.


“Ngga usah Vann, jadi surprise aja”


Jawab ku kembali pada Vanno.


“Baik Ga. Insyaa Alloh sampai nanti ya.”


Vanno kembali berkata pada ku.


Iya Vann, insyaa Allooh sampai nanti di rumah lo. Ok Vann, selamat kembali bekerja deh, maaf mengganggu waktu lo, terima kasih ya”


Jawab ku menyerupai perkataan Vanno dan sekaligus mengakhiri perbincangan di telepon.


“Ngga Ga, ngga ganggu kok. Sama-sama ya Ga.”


Jawab Vanno padaku.


“Ok Vann, Assalamu’alaikum”


Ku sudahi perbincangan ku dengan salam.


“Wa’alaikumsalam”


(Flash back off)


*************************************************************************************


 POV Vinca


Jalanan tidak terlalu macet. Padat tapi masih berjalan pelan mobil-mobil di jalanan tadi. Dan kami pun sudah memasuki area jalan perumahan. Saat di perjalanan tadi Pak Arga berkata pada ku bahwa esok hari beliau akan


mendapatkan kunjungan seorang manajer dari cabang yang lain. AKu menanyakan apakah ada yang perlu aku dan kawan-kawan kerja lakukan untuk pertemuan itu.


Beliau mengatakan tidak perlu, karena itu kunjungan untuk keperluan antar manajer saja. Aku sempat berpikir, mengapa  beliau cerita akan ada kunjungan untuk nya pada ku, yang ternyata tidak ada hubungan nya dengan kerjaan ku. Aku tidak ambil pusing soal itu. Yang masih terus mengusik ku adalah alasan apa Pak Arga tiba-tiba mau berkunjung ke rumah Ibu.


Rumah Ibu sudah terlihat di depan. Pak Arga mulai memperlambat laju jalan mobil nya. Aku sudah bersiap akan turun di pinggir jalan seberang rumah Ibu seperti waktu itu. Tapi Pak Arga memberikan lampu sen mengarah ke depan rumah Ibu. Aku pun teringat bahwa beliau akan berkunjung ke rumah. Karena aku terlalu sibuk memikirkan alasan Pak Arga akan berkunjung ke rumah sampai aku tak menyadari kenapa beliau hendak memberhentikan mobil nya tepat di depan rumah. Aku menepuk-nepuk pelan kepalaku sambil berkata dalam hati, aduh Vinca lo kenapa sih. Dan akhirnya mobil sudah menepi di depan rumah Ibu.


“Pak, terima kasih nya untuk tumpangan pulang nya”


Aku berterima kasih pada Pak Arga sambil menyeringai.


“Sama-sama bu. Oh iya, saya akan dating nanti setelah Isya. Saya ke rumah Bapak dulu. Sekira Vanno sudah ada di rumah, tolong sampaikan saja sama dia ya bu.”


Ternyata Pak Arga akan berkunjung setelah Isya nanti bukan saat ini.


“Ba-baik Pak. Nanti saya sampaikan ke Vanno.”


Sedikit terbata ku berkata pada Pak Arga.


“Baik bu, saya permisi dulu, Assalamu’alaikum.”


Pak Arga berpamitan dan bersiap melajukan kendaraan.


“wa’alaikumsalam. Salam sama bapak ya Pak”


Aku membalas Pak Arga dan menitip salam untuk bapak nya.


“Baik bu, insyaa Allooh”


Setelah berkata tadi Pak Arga pun berlalu dari depan rumah Ibu.