My Lost Love

My Lost Love
Episode 5



Ku melihat jam tangan ku, di situ terlihat 07.30. Hari ini ku berangkat kantor dengan busway. Ku melangkah kan kaki ku menuju kantor yang tidak jauh dari halte. Ketika masuk ke pelataran kantor tiba-tiba seperti ada orang yang berjalan di belakang samping ku.


“Assalamu’alaikum…Pagi bu Vinca” Orang tersebut menyapaku.


Aku mencobamenengok ke arah suara itu untuk memastikan siapa orang itu. Dan ternyata Pak Arga dengan pakaian olah raga ala atlet lari.


“Wa’alaikumsalam….Pa..pagi…Pak” Jawabku terbata.


"Saya duluan ya Bu”


Tak banyak beliau berkata lalu mendahului ku dan langsung masuk ke dalam area kantor.


Rajin sepertinya pak Arga ber olahraga. Kembali ku membatin dan berdecak pelan. Dan kemudian melanjutkan


langkah ku masuk ke dalam gedung kantor.


********


Tring…


Pintu lift terbuka di lantai tempat kantor ku. Ku langsung menuju kubikel ku. Dan kulihat disana sudah ada Fendi dan Kiki.


“Pagi Doonaa…Assalamu’alaikum semua….” Sapa ku ke mereka sambil menaruh tas di kursi.


“Pagi Doonaa…Wa’alaikumsalam….” Sahut mereka sambil tertawa lebar.


Memang terkadang aku suka menyapa teman-teman ku di kantor dengan sapaan itu. Hal ini


di karena kan aku pernah lihat di youtube salah satu iklan jadul tentang produk kopi dimana beberapa orang lelaki menyapa seorang wanita bernama Dona. Kemudian Dona menyeringai kepada mereka dengan gigi penuh kopi hitam. Hahaha, sapaan guyon ala Vinca teman-teman ku menyebutnya.


 “Vinca…elo tahu ngga?" Kiki mulai berkata padaku.


 “Apaan Ki “ aku berkata kepada Kiki tanpa melihat ke arah nya


“Pak Arga dong….dia kayaknya abis olah raga gitu, masuk ke kantor penuh keringat terus


dong…baju olah raga nya….alamak…tak tahan lihat nyaa….ampun dah tuh boss, seksi


bener siihhh."


Kiki menjelaskan dengan pelan sambil memasang raut gemas. Sepertinya Kiki melihat pak Arga setelah berolah raga tadi.


“Hush…awas Ki, ngga bisa tidur lho ntar malam." Kata ku menggoda kepada Kiki.


“Ngga apa-apa, di ganduli orang ganteng, ngga apa-apa deh”


Muka Kiki tersenyum nakal sambil mengedip ke arah ku.


“Ki..ki…hati-hati luh…jangan-jangan dia sudah menikah, masak iya mau luh di ganduli laki orang.”


Fendi menimpali sambil melihat ke layar ponselnya.


“Eh iya ya….tapi sih nih ya, kemarin sekilas, gua ngga lihat dia pake cincin kawin sih”


Kiki menimpali.


Aku pun kemudian mencoba mengingat apakah iya pak Arga ada memakai cincin kawin.


“Tapi kan ada juga Ki, laki kaga pakai cincin kawin, nih gua kaga.”


Fendi menunjukkan kedua tangannya kepada Kiki setelah menaruh dahulu ponsel nya di meja.


“Lha bukannya elo pake Fend?" Tanyaku kepada Fendi karena seingat ku dia memakai cincin kawin.


“Iya, tapi kapan hari hilang. Habis itu gua di marahin istri, hahaha. Dan sampai sekarang gua males pake lagi.


Fendi mencoba menjelaskan sambil tertawa.


“Ah elo mah biar terus disangka single ya Fend….gatel luh…hihihi”


Kata Kiki kepada Fendi sambil tertawa terkekeh.


“Garuk kalau gatel ciinnn…hahahaa” kata Fendi sambil tertawa terbahak.


Tak berapa lama July datang dan tetap dengan rambut masih sedikit basah, dan membuat kami


berkomentar canda kepada July.


“Lagi Jul? Ampun ngga capek apa tiap hari?” Fendi menggoda July.


“Ah elo Fend,kayak ngga pernah alamin aja deh” Sambil July membenarkan rambutnya lalu duduk


di kursi kantor nya.


Kiki menuju mejanya. Fendi memutar kursinya menghadap meja. July sudah dari tadi siap untuk memulai kerja.


Ku duduk menghadap meja ku ,ku raih berkas-berkaskemarin dari rapat untuk di rapihkan. Iya juga ya kata Kiki, seksi si pak manajer, keringatan gitu ….ku mengingat tadi pagi ketika melihat Pak Arga. Uh ..uh, batin ku menyadarkan diri dari pikiran yang jauh melayang. Dah dah kerja kerja.


*********


Srek….


Ku letakkan berkas-berkas yang sedang ku baca ke atas meja secara perlahan.Aku harus ke Toilet.


Sedikit tergesa-gesa ku  menuju toilet. Ketika hampir sampai ke toilet ku merasakan gatal di kuping kiri.


Gatal nya bukan main, dengan sedikit menunduk ku coba menggaruk kasar kuping yang gatal itu. Tak terasa ku percepat langkah ku.


Bruk….


Aku sepertinya menabrak sesuatu. Dan betapa kaget nya aku dan secara reflek langsung melepas tangan yang sedang menggaruk kuping dan mencoba menahan apa yang ku tabrak. Ketika sadar dan melihat apa


yang telah ku tabrak dan apa telah di tahan oleh tangan ku ternyata bahu bu Vinca. Aku sungguh tidak melihat nya ada di depan langkah ku.


“Maaf….aduh…maaf….saya tak sengaja” Ku meminta maaf kepada  bu Vinca


“Iiiyaa …tidak apa-apa….” bu Vinca terbata-bata menjawab sembari membuka matanya.


“Maaf kecerobohan saya ya …aduh Bu Vinca maaf ya. Ada yang sakit ngga bu?"


Kembali ku meminta maaf dan bertanya kepada nya.


“Ngga ada pak, kaget aja saya heeee” Jawab bu Vinca sambil menyeringai


“Ya sudah Pak silahkan lanjut lagi, saya balik ke ruang saya dulu ya” bu Vinca mempersilahkan


ku untuk melanjutkan tujuan ku.


“Sekali lagi, maaf ya bu..” Ku memasang wajah menyesal karena memang itu yang di rasa


“Iya pak..mari pak” bu Vinca mulai melanjutkan langkah nya kembali dan meninggalkan ku.


“Duh…” Segera ku melanjutkan tujuan untuk ke toilet karena seperti nyasudah tidak bisa di tahan


lagi.


*******


“Aduh…” Ku mengaduh sambil mengelus bahu kanan.


“Kenapa Vinc?" Tanya July yang melihat ku baru kembali dari toilet dan mengelus- ngelus bahu.


“Tadi tabrakan di depan toilet wanita sama Pak Arga..Aduh…”


Berkata ku sambil terus mengelus bahuku.


 “Apa?? Lo di tabrak orang ganteng. Gimana cerita bisa ketabrak di toilet?"  Kiki mencoba menginterogasi.


“Iya tadi beliau sepertinya lagi ngga lihat jalan di depannya dan terburu-buru, terus gua baru


aja keluar dari toilet perempuan, dan jeder, ke tabrak lah gua. Untung gua ngga jatuh, kepegang tangan dia bahu gue."


July dan Kiki yang mendengar penjelasan ku mengangakan mulut mereka.


“Cieee….di pegang nih yee…salaman kaga kena, pegang bahu iiyaaa” Tetiba Fendi menyahut dengan nada menggoda dari kubikel nya yang ternyata dia mendengar penjelasan ku sedari tadi.


“Cieeee….” July dan Kiki ikut menggoda ku.


“Kalian yah..temannya lagi sakit malah di cieee in…obatin dong."


Berkata ku sok manja kepada mereka.


“Ogah, males Vinc, sana minta obatin sama Pangeran yang nabrak tadi, pasti langsung sembuh."


Jawab Fendi sambil terkekeh-kekeh.


“Reseh luh Fend, itu kan tidak sengaja, namanya juga kecelakaan” Jawabku dengan cemberut.


Kemudian ku melempar kertas yang sudah aku remas-remas jadi kecil ke arah Fendi


dan mengenai tengkuknya.


 “Hahahaa…” dan mereka bertiga kompak tertawa terbahak melihat tingkah ku itu.