
Tak terasa waktu sudah mendekati sore hari. Ketika ku sedang merapihkan file kerja yang baru di selesaikan, teringat ku belum mengabari Pak Arga tentang berkas yang beliau titip kan. Duh, pakai lupa segala batin ku berkata. Reflek tangan ku menepuk-nepuk jidat perlahan. Ku raih ponsel untuk mengirim pesan pada Pak Arga.
Assalamu’alaikum. Pak Arga, maaf saya baru mengabari. Berkas-berkas bapak sudah saya sampaikan ke Pak
Anto tadi pagi.
Ku taruh kembali ponsel ku ke meja kerja. Meneruskan kembali merapihkan file kerja ku.
Drrttt…..drrrtttt
Ponsel ku bergetar karena nada suara nya sedang dalam mode diam selama aku sedang menyelesaikan pekerjaan tadi. Ku lihat ada notifikasi. ada satu pesan masuk. Kulihat ternyata balasan dari Pak Arga
Wa’alaikumsalam. Pak Anto sudah mengabari tadi ketika telah menerima dari bu Vinca. Tak apa bu, terima kasih.
Alhamdulillah dalam hati ku berkata lagi. Aku tersenyum dan ketika hendak melanjutkan kegiatan kembali, Kiki sudah berada di samping meja ku dengan mulut menguyah.
“Aduh Kiki, tiba-tiba muncul, kaget tahu.”
Kataku padanya sambil mencolek tangan nya.
“Serius amat pake senyum-senyum, kenapa lo Vinc?”
Tanya Kiki sambil memasukkan gigitan kue terkahir yang di pegang oleh tangan nya
“Lo tuh ya makan sambil diri ,tarik bangku kenapa.”
Aku tak menjawab pertanyaan Kiki, malah melakukan protes karena dia makan sambil berdiri
“Mmm..mmm…tanggung Vinc, dah nih aaaa dah habis.”
Kiki segera menyelesaikan kunyahan kue nya dan memperlihatkan mulut nya yang sudah kosong.
“Jorok! Kenapa lo kemari neng, ada perlu apa?”
Tanyaku kepada Kiki sambil melanjutkan kegiatan ku kembali
“Bentar…kenapa lo senyum tadi? Dapat pesan dari penggemar yaaa”
Kiki bertanya lagi mengenai kenapa aku tersenyum.
“Kepo!” jawabku menggoda Kiki
“Ngga ada apa-apa Kiii. Urusan gue lancar jadi kalau tersenyum boleh kaaannn”
Aku menjelaskan pada Kiki tanpa berterus terang tentang sebenarnya.
“Huh lo tuh ya, gitu ama gue, huh.”
Kiki mencebik kan bibir dan memalingkan muka nya dari melihat ku. Kemudian dia menyedekap kan kedua tangan nya. Namun Kiki masih tetap berdiri di samping meja ku.
“Ada apa neng Kiki sayang? Ada yang saya bisa bantukah?”
Aku mencoba merayu Kiki yang sedang memalingkan muka dari ku dengan suara yang lembut.
“Heeeee….kena kan lo sama gue, makanya jangan buat i marah, you tidak suka kalau i marah.”
Kiki berkata sebuah slogan dari karakter Hulk tapi dalam versi dia yang mencampur Bahasa Indonesia dan Inggris.
“Iya madam Kiki. Dah ada apaan lo ke meja gua?”
Aku berkata sambil berseloroh pada Kiki dan bertanya kembali tujuan nya ke meja ku.
“Pulang yuk dah sore”
Kiki mengajak ku pulang
“Lo cuma mau bilang itu ama gua? Ngga lihat apa itu jam masih di angka berapa?”
Tanya ku sambil menganga kan mulut ku
“Hehehe….capek Vinc gua kan duduk aja dari tadi kita pulang makan siang, makanya gua jalan sedikit ke meja lo. Tumben amat ya kerjaan lagi banyak bener sih”
Kiki menjelaskan sambil bersungut-sungut manja seperti anak kecil.
“Iya ya, sampai gua kelupaan kirim pesan sama ……..”
Aku menyudahi kata-kata ku setelah menyetujui perkataan Kiki dan hampir mengakui bahwa aku lupa mengirim pesan pada Pak Arga.
“Naaahhh lupa apa haayooo?”
Kiki mendekatkan muka nya pada ku sambil berkata.
“Eh..mm…ngga Ki, lupa kirim pesan sama teman gua yang punya toko online. Gu…gua ada beli baju sama dia.”
Jawab ku terbata-bata pada Kiki
“Mencurigakan!”
Kata Kiki masih dengan muka yangdekat dengan wajah ku dan memicingkan matanya pada ku. Ku jauh kan muka ku dari muka Kiki.
“Apaan sih lo kayak inspektur gadget deh”
Kataku pada Kiki sekena nya
“Awas ya nanti kalau lo ketahuan ada apa-apa. Gua minta traktir Abuba”
“Duh Ki makanan mulu lo”
Sahut ku padanya sambil melihat Kiki sedang mengambil posisi duduk di kursi kerjanya
********
POV Arga
Hmm jam segini dia baru laporan soal berkas tadi. Apa sesibuk itu dia di kantor? Ya mungkin saja. Terjadi perbincangan dalam hati ku ini. Ku lihat jam di dinding klinik menunjukkan jam 16.30. Aku sedang menunggu
antrian masuk untuk di periksa. Ternyata hari ini dokter langganan ku berobat baru praktek sore. Aku menghela nafas kasar. Ku melihat layar ponsel ku lagi dan mulai membuka pesan-pesan yang masuk di grup-grup yang aku ikuti. Mataku mulai membaca pesana-pesan yang ada. tapi tidak menyimak dengan seksama isi
pesan-pesan itu. Pikiran ku memikirkan sesuatu. Hah. Kembali aku menghela nafas kasar.
Ku matikan layar ponsel ku dan ku simpan dalam saku celana ku. Kenapa aku terus memikir kan nya. Apa yang terjadi padaku. Hati ini bertanya-tanya.
Apa aku cari tahu saja dulu pada Vanno soal kakak nya itu. Aku belum mengenal benar dia siapa. Mungkin kalau aku bertanya pada Vanno bisa menjadi bahan pertimbangan ku selanjutnya. Aku menatap pada bangku antrian yang kosong di depan ku. Baiklah setelah ini aku akan menghubungi Vanno untuk bisa bertemu. Aku membulat kan tekad ku.
"Bapak Swarga Arrayyan….Bapak Swarga Arrayyan….."
Aku menoleh ke arah sumber suara. Seorang perempuan dengan pakaian seragam suster klinik memanggil nama ku tadi. Sudah giliran ku untuk di periksa. Dan aku pun melangkahkan kaki ku menuju ruang praktek dokter.
********
“Ini obat nya Pak. Aturan minum obat nya tertera di bungkus nya ya.”
Seorang apoteker memberikan obat yang di resepkan untuk ku.
“Baik Mba, terima kasih”
Jawabku padanya kemudian berlalu menuju ke luar gedung klinik.
Ku menuju parkiran mobil dan ketika sudah sampai di dalam mobil, ku coba menghubungi Vanno dari ponsel ku.
Tut….tut……
Nada sambung ke Vanno terdengar. Ku tunggu beberapa saat tapi tidak ada jawaban dari Vanno. Ku matikan sambungan ku kepada Vanno lalu mengulang nya lagi. Kembali terdengar nada sambung. Tak berapa lama kemudian nada sambung itu berubah menjadi suara orang yang mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum, Halo”
Terdengar suara Vanno di ujung sambungan
“Wa’alaikumsalam. Halo Vann, Ini gua Arga”
Aku menjawab salam Vanno dalam sambungan telepon itu
“Hai Ga, gimana kabar lo? Sudah lebih sehat kah?”
Vanno menanyakan kabar dan kesehatan ku
“Alhamdulillah Vann, ini gua habis minta obat sama dokter langganan gue”
Jawabku pada Vanno
“Alhamdulillah. Senang deh kalau lo sudah sehat lagi. Kemarin kelihatan lo lemes banget gitu.”
Vanno kembali berkata padaku
“Hehe..iya Vann. Kalau maag gua kambuh parah ya gitu deh, habis sudah tenaga gua nahan sakit nya”
Aku menjelaskan pada Vanno sedikit tentang sakit ku kemarin
“Lo terlambat makan apa bagaimana sih sampe kumat itu sakit?”
Vanno kembali bertanya padaku
“Hehehe....gua lagi minum kopi banyak banget. Kerjaan lagi banyak, jadi deh gua lupa jatahin kopi per hari berapa. Bablas aja ngga ada batasan.”
Ku jawab pertanyaan Vanno kembali
“Eh Vann…elo sibuk ngga mala mini?”
Aku berbalik bertanya pada Vanno
“Ngga sih Ga, kenapa?”
Vanno bertanya atas ajakan ku itu
“Makan pecel ayam yang di ruko depan jalan kelapa kuning raya yuk. Yang katanya enak dan rame itu?”
Aku mengajak Vanno makan malam
“Boleh Ga. Ini gua masih on the way home, paling jam tujuh kurang gua baru sampai. Jam berapa Ga kira-kira ketemuan disana?”
Vanno menanyakan perkiraan waktu untuk bertemu
“Mmm….gua jemput lo aja deh biar ngga banyak kendaraan kesana. Nanti berkabar lagi kalau gue sudah sampai di rumah lo.”
Jawabku pada Vanno
“Ok sip Ga. Sampai nanti. Gua mau setir mobil jalan pulang nih. Thanks ya Ga.”
“Ok Vann, gue makasih juga ama elo”