
“Assalamu’alaikum. Selamat Pagi semua.”
Sosok laki-laki yang baru ku lihat tadi memasuki ruangan meeting dan menyapa kami.
“ Wa'alaikumsalam. Pagi Pak.” Kami menjawab secara bersamaan.
“Terima kasih sudah hadir di meeting ini Pak Anto dan rekan-rekan semua."
Mata pria yang ada di hadapan ku ini melihat ke arah kami semua sambil tersenyum.
Duk..duk…
Kaki ku terasa pelan membentur pinggir meja rapat. Ku melihat sekilas ke bawah meja, ternyata KiKi,
yang di sebelah kananku menendang pelan kakiku. Aku pun menoleh ke arah Kiki.
“Ssst!” Aku memperingatkan Kiki untuk berhenti menendang kaki ku.
“Perkenalkan saya Swarga Rayyan Pangestu, biasa di panggil Arga. Laki-laki tersebut mulai memperkenalkan diri nya.
Ganteng dan memiliki nama yang bagus, batinku dalam hati. Sadar Vinca, sadar, ku mencoba kembali fokus dalam meeting.
“Saya di percaya Direktur perusahaan ini untuk menampu jabatan sebagai Manajer Marketing. Semoga kita bisa saling bekerjasama, bahu membahu memajukan perusahaan ini. Saya sebelumnya kepala divisi penjualan cabang Yogyakarta. Baru sekarang saya kembali di tugaskan ke Jakarta. Mungkin ini saja dulu perkenalan pribadi dari saya. Pak Anto bisa melanjutkan ke agenda selanjutnya, sudah saya email ke bapak ya."
Pak Arga memastikan kepada Pak Anto.
“Sudah pak dan kami telah persiapkan semua." Jawab Pak Anto.
Pak Anto berdiri dari posisi duduk nya. Kemudian Pak Arga mengambil posisi duduk, tepat di seberang ku. Aroma wangi tercium oleh hidung ku ketika Pak Arga membuka kancing jas nya. Aduh, wangi nya laki banged, batin ku berkata.
Akhirnya meeting dengan Pak Arga selesai setelah 1,5 jam berlalu.
“Pak Anto, Fandi, July, Kiki dan Vinca,terima kasih untuk hari ini. Semoga kita terus semangat dalam bekerjasama.”
Pak Arga dengan mudah mengingat nama kami semua. Kami di perkenalkan oleh Pak Anto satu per satu di saat mengambil alih meeting tadi.
“Baik Pak.” Serempak kami berkata pada Pak Arga.
"Ok, saya pamit ke ruangan saya dulu, selamat siang semua.”
Pak Arga berpamitan di lanjutkan berjabat tangan dengan Pak Anto lalu Fandi. Ketika giliran July, Pak Arga hanya merapatkan kedua tangannya di dekat dada. July terlihat kaget, kemudian mengikuti salaman ala pak Arga. Kemudian di lanjut kepada Kiki.
Masyaa Allah, dia tidak berjabat tangan dengan menyentuh perempuan. Lagi-lagi batinku berkomentar tentang Pak Arga.
“Bu Vinca.” Pak Arga sudah ada di hadapanku membuyarkan lamunan ku.
“Iya Pak.” Aku pun memberikan salam seperti yang pak Arga lakukan. Dan dia tersenyum ramah padaku.
Jangan pingsan Vinca, itu Cuma senyuman biasa, sadar, sadar. Masih berlanjut batin ku ini berkata-kata
mengenai Pak Arga.
**********
“Aduh...kok ganteng ya.”
Kiki berucap pelan kepada aku,July dan Fandi ketika sudah kembali ke ruang kerja kami.
“Siapa? Gue?” Tanya Fandi di ikuti seringai lebar nya.
“Huek…bukan lo Fand.” Jawab Kiki.
“Pak Manajer maksud lo?” Tanya July pada Kiki.
”Iya, wangi lagi.” Seringai kiki terbuat di wajahnya.
”Ah tapi aneh ah.” Kembali July berkata.
“Kenapa?” Kiki bertanya sambil mengeryit kan dahi nya.
“Pak Arga salaman nya aneh, gua rasa temannya Vinca deh. Vinca kan kalau sama Fandi juga gitu salaman nya.” July melirik pada ku. Tak ketinggalan Fandi dan Kiki pun demikian. Aku yang hanya
diam memperhatikan mereka berbincang seketika terkesiap.
“Ha? Teman? Gua ngga kenal sama Pak Arga, July.” Kata ku pada July.
”Bukan soal teman kenal gitu Vinca sayang. Itu... cara dia bersalaman, sama kayak lo.” July mencoba menerangkan maksud perkataan nya.
“Oh…gini ya, dalam Islam di anjurkan cara bersalaman yang baik antara laki dan perempuan seperti yang pak Arga lakukan tadi, tidak bersentuhan satu dengan lain nya." Aku mencoba menjelaskan kepada July.
Oh, gitu ya Vinc. Tapi...tapi...itu Fandi masih salaman sentuhan tangan sama Kiki juga gue. Dan pakai cipika cipiki juga lho. " July berkata sambil melihat ke arah Fandi dan Kiki.
“Seperti nya Fandi dan Kiki belum mau ikut anjuran baiknya, begitu bukan Fand, Ki?”
Aku mencoba mengafrimasi pernyataan ku barusan kepada mereka berdua.
“Hehehe, iya Vinc.” Fandi dan Kiki menyahut bersamaan.
“Ok...ok.” July mencoba memahami kata-kata ku.
“Hahaha, kacau nih punya boss ganteng, cucok ciinnn” Kiki kembali berkata dengan gaya centil nya.
“Hahaha.” Serempak kami pun tertawa bersama.
“Maksi yuk! Keroncongan nih.” Fandi mengelus perut nya sebagai tanda mengajak makan siang.
“Yuk!” July dan Kiki bersamaan menyahut perkataan Fandi.
Yuk, let’s go!” Aku pun menyetujui ajakan makan siang Fandi.
Jam di kantor menunjukkan pukul 17.00 WIB. Kami pun bersiap untuk pulang. Ketika hendak turun ke lantai dasar,
terlihat Pak Anto dan Pak Arga berdiri di depan lift yang biasa kami gunakan.
“Sore Pak.” Fandi mendahului menyapa mereka berdua.
“Sore Pak.” lalu kami pun menyapa kedua atasan kami itu.
“Sore.” Pak Arga dan Pak Anto membalas sapaan kami tadi.
Tring…
Pintu lift terbuka, terlihat hanya berisi ada dua orang di dalam nya. Pak Arga menoleh ke arah aku,July dan Kiki. ”Ladies first!” Beliau mempersilahkan kami, para perempuan, untuk naik ke dalam lift terlebih dahulu.
“Ayo bu Vinca, bu Kiki dan bu July,” Pak Arga mencoba membuat kami untuk cepat masuk ke dalam lift karena melihat kami tidak bergerak. Kami pun segera melangkah masuk ke dalam lift diikuti Pak Anto,Pak Arga dan terakhir Fandi.
Tring...
Pintu lift terbuka ketika sudah di lantai dasar. Dan keluarlah kami semua dari lift kecuali Pak Arga dan
Pan Anto, mereka menuju basement.
“Bye Vinca,Kiki,Fendi.” July berpamitan pada kami bertiga. Dia sudah di tunggu oleh suami nya di parkiran luar kantor.
“Bye July,Sampai besok ya.” Kami bertiga pun kompak melambaikan tangan kepada July.
“Fand, lo ngga bawa mobil ya?” Tanya kiki pada Fandi.
“Ngga. Gue mau naik taksi online,mau ke rumah sakit Bidara.” Jawab Fandi sambil melihat ke layar ponselnya untuk memesan taksi online.
“Ada apa ke rumah sakit Fand?” Tanyaku.
“Siapa yang sakit Fand?” Tanya Kiki.
“Ngga ada yang sakit dan tidak ada apa-apa. Istri ku mau periksa ke poli kebidanan, sepertinya Juno akan punya adik.” Fandi menjawab pertanyaan kami sambil menyeringai lebar.
“Wah selamat ya Fandi.” Aku dan Kiki memberi ucapan selamat.
”Terus, istri lo bawa mobil gitu ke rumah sakit?” Kembali Kiki bertanya.
“Iya, kalau gua kerja bawa mobil kemudian pulang dulu untuk jemput mereka, keburu malam sampai di poli
kebidanan nya.” Jawab Fandi kepada Kiki.
“Fand, gua ikut sampe lampu merah dekat rumah sakit Bidara, itu dah dekat sama rumah gue.”
Kiki mengutara kan tujuan nya kepada Fandi.
“Boleh, kenapa tidak fulgoso.”
Fandi membuat candaan kepada Kiki yang akan ikut dengan taksi online nya.
“Reseh lo Fand.” Kiki menonjok pelan bahu Fandi.
Aku hanya bisa tertawa saja melihat tingkah teman-teman baik ku ini.
“Lo ngga ikutan bareng Vinc?" Fandi bertanya kepadaku.
“Fand, rumah sakit dimana, rumah ibu gua dimana.” Jawab ku sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Hahaha…iya ya…basa basi gua Vinc, biar lo ngomong. Dari tadi setelah rapat banyak diam lo. Kesambet penampakan Pak Manajer ya, kayak si Kiki nih.” Fandi memoyongkan bibirnya ke arah Kiki.
“Apaan sih lo Fand." Kiki berucap sambil kembali menonjok pelan bahu Fandi.
“Eh, tapi ngga apa-apa juga kan ya kesambet penampakan ganteng gitu. Kita kan masih jomblo ya Ki.”
Kata ku sambil meminta persetujuan Kiki.
“Iya, weekkk.” Kiki mencebik ke arah Fandi.
“Taksi gue sudah sampai, yuk Ki. Bye Vinca,sampai besok, Assalamu’alaikum."
Fandi berpamitan di ikuti Kiki.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah wabaraktuh,bye,bye, salam buat istri lo Fand.”
Fandi hanya menunjukkan jempol nya tanda mengerti atas permintaan salam ku untuk istrinya.
Tinggal aku sendiri di lobby. Aku sedang menimbang, pulang naik apa sore ini. Ojek online apa busway. Ketika ku sedang melihat ke layar ponsel untuk melihat tarif ojek online, nampak mobil sedan hitam berhenti di depan ku. Terbuka jendela mobil tersebut. Tampak wajah Pak Anto di balik nya.
“Vinca, kamu belum pulang?” Tanya pak Anto.
“Belum pak, ini lagi mau pesan ojek online.” Jawabku pada pak Anto.
”Kamu, masih tinggal di Kelapa Raya kan?” Pak Anto kembali bertanya.
“Masih Pak.” Jawabku pendek.
“Ya sudah kita pulang bersama pak Arga, kebetulan mau ke arah sana.” Pak Anto kembali pada ku.
“Ngga apa-apa Pak saya naik ojek online saja.” Aku mencoba menolak ajakan Pak Anto.
“Bu Vinca, tidak apa-apa, ayo naik, di belakang sudah ada mobil antri mau lewat." Tiba-tiba Pak Arga berkata pada ku.
“Baik Pak.” Secepat nya aku membuka pintu kursi belakang penumpang dan menaiki mobil sedan hitam itu.