My Lost Love

My Lost Love
Episode 16



(POV Arga)


Ah karena kebanyakan minum kopi sakit maag ku datang. Dari kemarin memang aku sudah banyak minum kopi. Alhamdulillah sudah tidak sakit lagi. Walaupun masih ada sisa nyeri tapi badan ku ini menjadi lemas karena


meregang sakit tadi. Ku menatap jalanan Bandung yang di lewati oleh mobil ini. Ku melihat Bu Vinca sangat sigap di balik kemudi. Ya, cukup nyaman dia membawa mobil ini. Aku telah merepotkan nya, Dari di resto ketika dia mencari obat, sampai tersengal-sengal nafasnya. Kemudian menyuapi ku. Sekarang menyetir mobil ku untuk


pulang. Ah…maaf kan ya bu Vinca saya merepotkan Anda. Batin ku banyak berkata-kata.


Tapi entah apa juga yang kurasa ini. Ada rasa hangat di perlakukan seperti ini oleh Bu Vinca. Seperti di perhatikan sekali oleh seseorang. Ah…mungkin hanya sebuah rasa sesaat. Ku pejamkan mataku untuk menetralisir rasa hangat di dada ini. Kembali ku melihat ke arah Bu Vinca yang sedang serius menyetir mobil. Ada rasa kagum melihat nya.


Terbersit di hati dan berkata dia orang baik. Apakah sebaiknya aku……Ah pemikiran apa ini. Ku hanya ingin memejamkan mataku lagi dan mengistirahat kan badan dan pikiran ku. Terasa letih sekali diri ini.


******


(POV Vinca)


Ku melihat jam di dashboard mobil menunjukkan pukul 23.00. Tiba-tiba ponsel ku berbunyi. Ku ambil ponsel ku yang berada di bangku samping. Ternyata Vanno menelepon ku. Aku  teringat belum mengabarkan Ibu atau pun


Vanno keberadaan juga kepulangan ku dari Bandung. Ku jawab telepon dari Vanno dan mengatur ke mode speaker. Lalu ponsel ku taruh di pangkuan.


“Assalamu’alaikum”


“Wa’alaikumsalam….Mba dimana? Masih di Bandung apa pulang? Ibu tadi nanyain Mba."


Suara Vanno terdengar di sana


“Vann, mba lagi perjalanan pulang. Kebetulan mba pulang bareng dengan Pak Arga. Pak Arga tiba-tiba kurang enak badan, jadi ini Mba lagi mengendarai mobil Pak Arga." JAwabku kepada Vanno


“Oh gitu…sakit apa mba Arga? Nothing serious kan? Vanno bertanya pada ku.


" Ngga serius kok Vann, sakit maag sepertinya" Jawab ku pada Vanno


"Oh ok mba, drive safely ya. Nanti Mba antar Arga kemana? Mba nanti pulang sama siapa? Vanno jemput aja ya." Vanno bertubi bertanya pada ku


“Mba belum tahu Vann. Nanti Mba kabari ya. Boleh banget Vann kamu jemput Mba ya. Pasti kami sampai sudah tengah malam di Jakarta. Kamu ngga apa-apa ya jemput Mba nanti?" Pinta ku kepada Vanno


“Iya Mba ngga apa-apa. Ya sudah hati-hati di jalan ya Mba. Kabari saja nanti mau di jemput dimana. Assalamu’alaikum”  Vanno menutup percakapan telepon nya dengan ku.


“Iya Vann, Wa’alaikumsalam “


Dan mobil pun terus melaju. Ku mulai merasakan pegal dan mengantuk. Dan sepertinya juga harus mengunjungi toilet. Dan tak jauh ku lihat tanda rest area. Segera ku mengambil arah perlahan menuju belokan rest area tol. Ku cari parkir yang tersedia di situ. Setelah dapat ku segera memarkirkan mobil.


Ketika hendak keluar dari mobil, aku mencoba melihat Pak Arga yang duduk di belakang. Ku lihat beliau tidur dengan tenang nya. Aku bingung dan kasihan bila harus membangunkan nya. Tapi tidak mungkin juga aku tinggalkan mobil dalam keadaan menyala tanpa di kunci. Atau kutinggalkan terkunci dalam keadaan mobil mati mesinnya. Nanti Pak Arga kepanasan. Akhirnya ku beranikan diri untuk membangunkan nya.


“Pak Arga….Pak…..” Ku coba memanggil nama nya berharap dia mendengar


Ku ulangi sampai beberapa kali baru lah Pak Arga terbangun dari tidurnya.


“Mmm…iiyaa…..” Pak Arga mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha sadar dan melihat sekitar nya


“Pak…maaf…saya mau ke toilet sebentar, bapak mau ke toilet juga kah?" Tanya ku pelan


“Mmm…seperti nya saya mau ke toilet juga bu”  jawab pak Arga lirih


“Ayo Pak kita sama-sama jalan ke toilet nya."  Ajak ku pada Pak Arga


Kami menuju ke toilet beriringan. Ku perhatikan Pak Arga masih goyah dalam langkah nya. Tak sadar ku pegang lengan nya agar Pak Arga stabil dalam berjalan. Sejenak Pak Arga terdiam dalam langkah nya. Dan aku pun


tersadar langsung melepas pegangan ku di lengannya. Dan kami pun mulai berjalan lagi dan menuju toilet masing-masing.


Ketika ku mencuci tangan setelah selesai dari toilet ku bilas muka ku sejenak. Ku tatap muka ku sendiri dan berkata aduh Vinca ngapain juga sih pegang lengan dia, segitu takutnya dia jatuh gitu. Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Ku hela nafas panjang dan segera keluar dari toilet. Di luar toilet Pak Arga sudah menunggu dengan menatap ke arah parkiran mobil.


“Mari Pak kita lanjut perjalanan. Oh, atau bapak ada mau beli sesuatu dulu mumpung kita berhenti di rest area ini?"  Bertanya ku pada Pak Arga.


“Tidak bu Vinca, kita lanjut saja. Kalau bu Vinca mau beli sesuatu dulu silahkan, saya tunggu”


Jawab Pak Arga masih dengan suara lirih nya.


“Saya beli kopi sebentar ya Pak. Mari kita ke mobil, biar bapak tunggu di mobil saja” aku berkata pada Pak Arga


“Ngga usah Pak, saya sendiri saja, bapak istirahat lagi saja."  Jawab ku


“Saya temani bu Vinca, mau di kafe itu?"  Pak Arga menunjuk ke suatu kafe yang ada di rest area ini


“Iii..yaa Pak."  Jawabku gugup


Pak Arga berjalan mendahului ku menuju ke kafe yang di tunjuk tadi. Ku ikuti beliau dari arah belakang. Ku perhatikan langkah nya sudah tidak goyah seperti tadi, tapi terlihat pelan menapaki jalan. Hahaha, aku seperti pengawas saja memperhatikan keadaan beliau. Tapi karena sebelum nya beliau terlihat sakit seperti itu, sungguh membuat ku khawatir.


“Bu Vinca…boleh saya di pesan kan teh hangat manis ya."  Pak Arga berkata padaku ketika kami sampai di dalam kafe.


“Baik Pak”   jawab ku dan langsung menuju ke counter pesanan


“Ini Pak teh hangat manis nya."  Aku memberikan pesanan Pak Arga ketika telah selesai di buat kan.


“Terima kasih bu."  Pak Arga mengambil teh hangat nya yang ku letak kan di meja.


Kami pun kembali ke mobil dengan memegang pesanan kami masing-masing. Beliau masih berjalan di depan ku. Ku masih saja memerhatikan langkah nya.


“Bu Vinca….masih kuat mengemudi sampai Jakarta?"


Tiba-tiba Pak Arga bertanya ketika kami sudah sampai di mobil nya.


“Insyaa Allooh Pak."   Jawabku sambil tersenyum.


“Saya boleh duduk di depan ya, temani ibu menyetir mobil malam ini”


Pak Arga kembali berkata yang membuat ku tiba-tiba deg-deg an


“Oh…tenttuu Pak, silahkan saja. Sebentar saya rapihkan dulu bangku nya. Tadi saya taruh tas saya di situ."


Jawab ku gugup sambil membuka mobil dan mulai merapihkan bangku samping.


Setelah semua sudah tertata rapi dan Pak Arga pun sudah duduk di bangku samping. Ku bersiap untuk melaju kan mobil. Ku seruput sejenak kopi yang tadi ku pesan. Karena rasa deg-deg an masih terasa aku meyeruput kopi


ku tanpa jeda. Setelah ku rasa nyaman , mobil pun ku laju kan. Melanjutkan kembali perjalanan menuju Jakarta.


“Bu Vinca, maaf ya jadi merepotkan seperti ini."  Pak Arga memulai perbincangan


“Tidak apa-apa Pak, kita kan harus tolong menolong kan”  Jawab ku sambil focus menyetir mobil


“Ini sudah hampir tengah malam, pasti sampai di Jakarta sudah hampir pagi ya."


Pak Arga berkata sambil menyeringai.


“Heeee..iiyaa Pak. Oh iya bapak mau di antar kemana ya?"  Tanyaku kepada Pak Arga.


“Saya pulang ke rumah bapak saja. Jadi bu Vinca bisa turun di depan rumah bu Vinca langsung."


JAwab Pak Arga


“Pak Arga bisa setir mobil dari rumah saya ke rumah bapak?"  Tanya ku hati-hati


“Itu sudah dekat bu Vinca, insyaa Allooh bisa."   JAwab Pak Arga lagi.


“Ngga apa-apa Pak saya antar ke rumah bapak saja. Saya sudah bilang sama Vanno untuk menjemput."


Aku menawarkan diri untuk mengantar Pak Arga sampai rumah bapak nya.


“Wah…jadi double repotin ini."  Pak Arga berkata sambil tertawa perlahan


“Ah ngga lah Pak. Vanno tahu kok bapak sedang sakit " Jawabku santai


“Kita sampai rumah ibu saja dulu, insyaa Allooh bisa saya lanjut ke rumah bapak." Kembali Pak Arga bersikukuh dengan tujuannya


+++++++++


Hai Readers, author mulai coba kasih signn POV ya. Di episode-episode sebelum nya belum ada, semoga ngga bingung yaaa. Jangan lupa kasih like atau komen boleh banged. terima kasih