My Lost Love

My Lost Love
Episode 14



Aku mengikuti langkah Pak Arga menuju restaurant daribelakang. Dan Pak Arga menuju meja makan yang kosong terdekat dan langsungduduk. Beliau menyeringai pelan karena sakitnya.


“Pak….maaf….mau saya belikan obat untuk sakit maag nya?"


Aku bertanya pada Pak Arga sambil menaruh belanjaan ku di kursi yang kosong.


“Mmmfff….duh…..boleh bu Vinca....aduh”


Pak Arga mengaduh dan memegang bagian perutnya yang sakit.


“Pak....obat apa pak biasanya yang diminum kalau sakit seperti ini? Tanyaku kembali


Pak Arga menyebutkan jenis obat yang biasa di minum dan akupun mencatat nya di note ponsel ku.


“Mau saya pesan kan makan atau minum dulu Pak sebelum saya cari obat nya?"


Kembali ku bertanya pada Pak Arga.


“Teh hangat manis aja dulu bu boleh…aduh….” Kembali pak Argamenjawab sambil mengaduh


Langsung ku cari pelayan, tapi tidak terlihat. Ku segera mendatangi meja kasir untuk memesan the hangat manis untuk Pak Arga. Setelah memesan aku sempat menitip kan kepada kasir untuk memantau Pak Arga dan ku


bilang padanya bahwa Boss saya sedang sakit sedangkan saya harus beli obat ke toko atau apotik terdekat. Sekaligus aku bertanya dimana apotik atau toko obat  terdekat. Alhamdulillah kasir nya baik, dia menyetujui untuk memantau Pak Arga selama kepergian ku mencari obat serta dia memberitahu apotik terdekat.


“Pak saya cari obat dulu ya, the hangat manis nanti di antar pelayan."


Ku hampiri meja Pak Arga berada sebelum mencari obat dan pamit padanya.


“Mmmmfff …iiyaa…” Pak Arga hanya menjawab pendek dengan ekspresi masih menahan sakitnya.


Segera ku berlalu dan keluar menuju apotik terdekat yang tadi di katakan mba KAsir. Secepat mungkin ku berjalan untuk segera sampai dan membeli obat untuk Pak Arga.


“Ya Allooh sembuhkan lah dia…..Ya Allooh jaga lah dia….”


Ku berkata dalam doa dengan lirih berulangkali dalam jalan ku menuju apotik.


Sampai lah aku di apotik dan langsung membeli obat-obat yangdi butuhkan Pak Arga. Setelah mendapatkan semua obat segera ku langkah kan kaki menuju restaurant dimana Pak Arga berada. Masih dengan kata-kata doa yang lirih tadi ku percepat jalan ku. Terdengar suara adzan Maghrib berkumandang. Makin kupercepat langkah ku sampai berlari kecil.


*******


“Hah….hah….”


Ku tersengal dalam langkah ku menaiki tangga menuju restaurant. Untungnya hanya 1 lantai. Ku arah kan mata ku menuju meja makan tadi Pak Argaduduk sambil mengatur nafas ku. Ku lihat Pak Arga sedang memejamkan mata dalam duduknya. Ku berjalan menuju meja itu.


“Pak Arga……” ku coba memanggil namanya pelan


“Mmm…….” Pak Arga membuka matanya perlahan .


“Ini obatnya pak….di minum dulu Pak” aku memberi kantongobat-obat yang di beli tadi


 “Iya bu Vinca….terima kasih” Pak Arga mengambil kantong tadi dan mulai membuka satu persatu bungkus obat dan meminumnya.


Ku tarik bangku yang kosong dan duduk. Ku coba mengatur nafas ku, karena aku masih merasa tersengal-sengal.


“Bu Vinca lari ya….sampai ngos-ngos an gitu, maaf ya bu…”


Pak Arga berkata dan masih sempat menyunggingkan senyum mendengar aku tersengal-sengal.


“Ah ngga lari pak, jalan cepat aja” jawabku sambil menyeringai dan masih dalam posisi mengatur nafas ku yang tersengal.


“Pelayan…” ku panggil seseorang berpakaian pelayan restaurant yang sedang lewat dekat meja kami.


“Pesan air mineral dingin ya” berkata ku pada pelayan tersebut.


“Pak Arga….mau pesan makan atau minum lagi kah?” tanyaku perlahan pada Pak Arga karena beliau terlihat memejamkan matanya kembali.


“Saya pesan makanan berkuah saja dengan nasi putih dan airmineral yang tidak dingin”


Pak Arga berkata pada pelayan sambil memicingkanmata nya masih menahan sakit sepertinya.


“Makanan berkuah? Pelayan resto melihat padaku untuk lebih memastikan pesanan dari Pak Arga


“Pak… sop iga mau ?" Aku bertanya kepada Pak Arga yangkembali memejamkan matanya.


“Boleh bu Vinca” Sambil mengangangguk lemah pak Arga menjawab ku


“Sop Iga ya Mba, ada kan? Tanya ku ke pelayan resto


“Ada bu” jawab pelayan tadi


“Ok saya tambah nasi ayam geprek ya” kembali ku berkata pada pelayan Resto


Pelayan resto mengulang pesanan kami dan ketika sudah ku setujui semua, dia berlalu menuju dapur resto. Aku melihat ke arah Pak Arga yang masih memejamkan matanya. Beliau terlihat sedang meredakan sakit maag yang di


rasakan. Aku tak tahu harus berkata dan berbuat apa, hanya diam sambil tetap memerhatikan Pak Arga sekira nya beliau membutuhkan sesuatu dari aku. Tak terasa adzan Isya berkumandang. Aku ingin izin kepada pak Arga untuk


melaksanakan Shalat maghrib dan jamak Isya sekaligus.


 “Pak Arga….bisa saya tinggal shalat dulu ya sebentar?Tanyaku hati-hati kepada Pak Arga.


“Iya bu Vinca silahkan shalat duluan ya, saya tunggu disini” Pak Arga menjawab masih dengan mata terpejam.


“Baik Pak."  JAwabku sambil beerjalan ke arah musholla


Sungguh sebetulnya aku khawatir melihat Pak Arga seperti itu.


“Ya Allooh sembuhkanlah dia, sembuhkan lah dia” kembali ku berkata lirih


Setelah selesai melakukan shalat segera ku kembali. Ku lihat pesanan makanan dan minuman kami sudah tersedia di meja makan. Pak Arga sudah duduk tegak tidak bersender ke bangku. Tapi ketika ku sampai di meja,  Pak Arga masih memejamkan mata nya sambil sedikit meringis.


“Pak Arga….bapak sudah bisa makan? Apa masih sakit sekali ya perut nya?" Tanya ku beruntun


“Sudah mendingan bu dari sebelum minum obat tadi. Jawab pak Arga sambil membuka matanya


“Bapak mau makan?  Tanya ku hati-hati kepada Pak Arga


“Aduh…” Pak Arga kembali mengaduh dan meringis pelan sambil memegang perutnya


“Sa sa ya suapi ya Pak" Ku tawarkan PAk Arga untuk ku suapi


Pak Arga mengangguk kan kepalanya pelan dan mulaimenyenderkan badan nya lagi ke sandaran bangku.


Ku mulai menyuapi Pak Arga pelan-pelan. Aku melakukan nya tanpa melihat sekeliling ku yang ternyata banyak


yang memperhatikan kami. Ketika menunggu Pak Arga mengunyah makanan nya dengan perlahan, mata ku melihat ke arah depan, dan ternyata kostumer yang ada di meja tersebut tersenyum melihat aku dan juga Pak Arga. Dan di situ lah aku baru menyadari bahwa kami menjadi perhatian kostumer lain yang ada di resto tersebut.


Aku mulai menundukkan pandangan ku ke arah makanan Pak Arga danmencoba focus dengan kegiatan menyuapi makanan kepada Pak Arga. Sedang kan Pak Arga masih dengan mata terpejam sambil memakan makanan yang ku suapi.


“Sudah Bu Vinca, cukup, terima kasih.


Pak Arga membuka mata nya perlahan dan meminta ku berhenti menyuapi nya.


Ku hentikan kegiatan ku menyuapi Pak Arga. Dan mulai memakan makan malam ku. Pak Arga masih dengan posisi bersandar ke bangku dan memejamkan mata nya.