
Wiwit menceritakan semua perjalanan rumah tangganya dari mulai awal pernikahan sampai sekarang. Arif, suami Wiwit memang baik tapi pekerjaannya yang sangat banyak membuat dya jarang ada di rumah.
Wiwit memang diberi banyak fasilitas mewah oleh Arif. Mobil, rumah mewah, perhiasan, kartu kredit, semua dya berikan. Tapi tidak dengan perhatian dan kasih sayang. Terkadang, Wiwit menghabiskan waktunya seharian di salon karena merasa kesepian.
Beberapa jam berlalu, Wiwit masih menggenggam erat tangan Fadly sambil menangis. Fadly hanya bisa menguatkan dan memberi sedikit motivasi supaya Wiwit lebih kuat, karena inilah kehidupan dya sekarang.
" Kamu beruntung Wit, punya suami seperti Arif. Dya baik, bukannya itu semua keinginan ayahmu.. Jadi jalani semua dengan ikhlas, semua udah punya jalan hidup masing-masing" Fadly mengusap punggung Wiwit sambil mengusap air mata di pipinya.
" Tapi dya dingin Fad, ga seperti kamu. Apa kamu mau menjalin hubungan lagi sama aku" Wiwit menatap mata Fadly seperti sedang memohon.
" Maaf Wit.. aku gabisa.. Aku sudah punya calon istri sekarang.." Fadly melepaskan tangan Wiwit.
" Tapi aku lebih mengerti kamu Fad.. Semua tentang kamu.. aku mohon, aku pengen sama kamu terus Fad" Wiwit memeluk Fadly.
Fadly mencoba melepas pelukan Wiwit, tapi Wiwit memaksa.
" Udah Wit, sekarang kamu pulang.. Tenangin fikiran kamu dan jangan pernah kesini lagi.. maaf" Fadly melepas pelukan Wiwit dan pergi meninggalkannya.
" Fadly.. Fad.." Wiwit berteriak dan menggebrak meja di depannya.
Sementara Aluna hanya diam melihat kejadian tadi, fikirannya penuh dengan pertanyaan tentang wanita yang dilihatnya memeluk Fadly.
"Mungkin nanti aku bisa minta penjelasan tentang semua yang aku lihat tadi.. " Aluna yang hendak menelpon Fadly mengurungkan niatnya.
-----------------------
Beni melajukan mobilnya ke tempat kos Tyas, Tyas sebelumnya menelpon Beni minta dijemput untuk menemaninya karena ada interview di perusahaan A.
Sampai di tempat kos Beni langsung memarkirkan mobilnya dan masuk ke dalam kamar.
tok tok tok
" Kamu udah nyampe aja Ben.. " Beni memeluk mesra dan mengecup bibir Tyas.
" Ih.. dasar main nyosor aja"
Tanpa menunggu jawaban Tyas, Beni langsung memeluk dan membaringkan badan Tyas ke kasur. Dya mulai mengusap rambut Tyas, mengusap lembut pipi dan mulai menciumi bibir Tyas. Mereka berdua larut dengan kemesraannya.
Sesekali Beni memegang dua g***** Tyas dan membuat Tyas mendesah di telinga Beni.
tok tok tok
" Siapa Yas?" Beni menghentikan ciumannya dan segera bangun dari badan Tyas.
" Gatau.. sebentar aku liat" Tyas bergegas membuka pintu.
" Cari siapa ibu.. " Tyas tersenyum.
" Kamu.. Wanita gatau diri berani-beraninya maen belakang sama suami orang".
Beni yang mendengar suara gaduh langsung keluar menghampiri Tyas.
" Mamah.. kenapa bisa ada disini" Beni hanya bisa menundukan kepalanya.
Mamah mertua Beni membuntuti mobilnya sampai tempat kos Tyas, sudah lama dya curiga karena Putri sering cerita kalo Beni sering tidak ada di toko tanpa memberitahu kemana dya pergi.
Beberapa kali Putri ke toko pegawainya bilang Beni kalo kesini sore Bu, padahal Putri tau suaminya berangkat pagi dari rumah. Dari situlah mereka penasaran dan ingin membuktikan semua kecurigaan selama ini.
" Ternyata benar kamu selingkuh Ben.. saya tidak menyangka kamu bisa punya kelakuan bejad. Putri itu sangat baik dan setia tapi kamu bales kaya gini".
Plak..
Mamah mertua Beni menampar keras Pipi Tyas.
" Dan kamu.. Jangan-jangan kamu yang menggoda Beni dan pengen duitnya doang.." Beliau pergi meninggalkan Tyas dan Beni.
Beni segera membawa masuk Tyas, dya hanya diam.