My Life My Adventure

My Life My Adventure
Masa Lalu Fadly



Selama menjalani hubungan 2 tahun dengan Wiwit, Fadly tak pernah di anggap oleh keluarganya Wiwit. Hanya ibunya Wiwit saja yang menyambut ramah saat Fadly berkunjung.


Ayah dan kak Astri tidak pernah sedikitpun tersenyum saat Fadly ada, sebenarnya Fadly Sudah ingin menyudahi hubungannya. Tapi, Wiwit selalu meyakinkan bahwa semuanya pasti berubah.


Hingga pada akhirnya, ayah Wiwit menjodohkannya dengan anak sahabatnya sendiri. Wiwit sudah menolak, tapi dengan alasan perkembangan bisnis perusahaan, ayahnya tak ingin mendengar alasan Wiwit.


Wiwit sudah pernah meminta Fadly membawanya kawin lari, tapi Fadly tidak setuju karena orangtuanya Wiwit tidak akan pernah merestui hubungannya. Walaupun berat, Fadly tegar saat mendengar kabar pernikahan Wiwit.


Fadly ikhlas menjalani hari-harinya tanpa Wiwit, dya berjuang lebih keras agar tak dipandang sebelah mata lagi. Hingga akhirnya sekarang dya bisa menggantikan ibu Vina menjadi manajer di Restoran tempatnya bekerja dan bisa melupakan Wiwit.


------------------


" Fadly beli minuman ke luar negeri ya? lama amat sih.. " Tyas mengambil minumannya yang masih ada di tangan Fadly.


" Maaf lama, tadi keliling cari toilet dulu baru beli minumannya.. " Fadly memberikan minuman Beny dan juga Aluna.


" Tapi ko muka kamu pucet Fad.. kamu sakit?" Aluna menempelkan tangannya ke dahi Fadly, memastikan.


" Ng.. ngga ko Lun.. mungkin aku cuma kecapean.. " Fadly hanya tersenyum ke arah Aluna.


Setelah puas bermain di Dufan, mereka berempat bersiap untuk pulang. Kali ini Beni yang menyetir, Tyas duduk di sampingnya. Sementara Fadly dan Aluna duduk di kursi belakang.


Fadly yang mengingat pertemuannya dengan Wiwit tadi tiba-tiba meraih tangan Aluna dan menggenggamnya kuat. Fadly menempelkan kepalanya ke bahu Aluna, Aluna hanya diam dya bingung dengan sikap Fadly yang tiba-tiba berubah.


Beni memarkirkan mobilnya di depan pintu masuk Mall B,


" Kamu pulang di anterin Fadly ya sayang.. aku harus beresin dulu kerjaan di toko.."


" Lun.. Fad.. jagain kesayangan gue, jangan pacaran depan dya hahaha..." Beni turun dari mobil.


Fadly melepaskan genggaman tangannya, Aluna yang masih keheranan belum berani bertanya karena masih ada Tyas di dalam mobil. Mereka berjalan pindah ke depan.


Sampai di depan gerbang tempat kos..


" Ayo Lun.. capek banget pengen mandi nih.. " Tyas turun dari mobil.


" Lu duluan ya.. ada yang mau gue omongin sama Fadly.."


" Oh.. oke " Tyas berlalu meninggalkan Aluna dan Fadly yang masih berada di mobil.


" Kamu kenapa Fad? tadi tiba-tiba pegang tangan aku, terus kamu nyender.. kayanya kamu capek banget ya.." Aluna menatap mata Fadly.


" Lun.. " Fadly kembali menggenggam tangan Aluna.


" Sebenernya aku sayang banget sama kamu.. aku takut kehilangan kamu.." Fadly mencium tangan Aluna.


deg..


" Aku.. aku juga sayang sama kamu Fad.. sebenernya aku udah lama nunggu kamu bilang kaya gini".


Fadly memeluk tubuh Aluna, mereka terdiam sesaat. Tiba-tiba Fadly menjauhkan badannya, dya mulai mencium lembut bibir Aluna. Aluna yang hanya diam membuat Fadly kembali lagi mencium dan melumat bibir pink Aluna yang tanpa lipstik. Aluna mulai membalas ciuman Fadly, mereka berdua hanyut untuk beberapa saat.


Aluna yang mulai kehabisan nafas menghentikan ciumannya, Fadly yang masih menutup mata tersenyum dan memegang kedua pipi Aluna.


" Terima kasih untuk hari ini.. Aku sayang kamu Lun.. ".


" Aku juga sayang kamu Fad.. aku masuk dulu ya, takut Tyas nyariin.. Kamu hati-hati pulangnya" Aluna turun dari mobil dan melambaikan tangannya melepas kepergian Fadly.