
Siang ini rencananya Putri dan Beni akan menjemput Riska di panti asuhan. Pagi tadi ibu panti sudah memberi kabar kalau surat-surat mengenai Riska sudah selesai.
Putri terlihat senang sekali, sebenarnya Beni penasaran dengan yang namanya Riska. Kenapa bisa bikin Putri begitu ingin mengurusnya.
Beni sudah menelpon Yudi sebelumnya karena mungkin hari ini dya ke toko aga siang.
-------------
Panti asuhan
Putri menggenggam tangan Beni masuk ke dalam, terlihat ibu panti sudah menunggu sambil menggendong baby Riska. Ibu panti langsung menyerahkan Riska kepada Putri dan Beni.
Sementara Putri menggendong Riska, Beni menyelesaikan masalah surat adopsi Riska, ada beberapa lembar yang harus Beni tanda tangani sebagai orangtua asuhnya.
Putri terlihat senang sekali bisa bertemu lagi dengan Riska, air matanya menetes saat melihat dalam ke arah mata Riska. Ada rasa sedih karena tau Riska adalah anak yang dititipkan di panti karena orangtuanya tidak mampu membiayai Riska, ada juga perasaan senang karena sekarang Putri yang akan mengurusnya.
Setelah selesai, Putri dan Beni pamit. Putri sudah tidak sabar membawa Riska pulang ke rumah. Sebelum pulang, Riska meminta Beni untuk berhenti di supermarket untuk membeli beberapa kebutuhan Riska. Baju, celana, sepatu, popok, dll.
Beni yang diminta Putri menggendong Riska merasa bersyukur, keberadaannya akan menghapus luka Putri kemarin karena kehilangan bayi mereka.
--------------
Rumah
Mamah menyambut Putri, Beni dan Riska dari kejauhan. Bi Mun tidak kalah gembira menyambut kedatangan penghuni baru yang akan menambah ramai suasana rumah sekarang.
Mamah langsung menggendong baby Riska dan masuk ke dalam.
" Put.. apa ga sebaiknya kita bikinin kamar khusus buat Riska?".
" Sepertinya belum perlu mah.. Nanti biar Riska tidur di kamar Putri. Putri udh beli box buat nanti Riska tidur". Putri masih sibuk bolak balik ke kamar dengan belanjaannya yang banyak.
" eaaaaa... eaaaaaa...." suara tangisan baby Riska membuat panik sang mamah.
" Putri bikinin susu ya.. mungkin dya haus mah..". Putri langsung mengambil kotak susu di kamarnya, tapi Putri terlihat bingung.
" Sini non.. biar bi Mun bikinin susunya.." bi Mun meraih kotak susu di tangan Putri.
Selesai diberi susu Riska tidur di pangkuan Putri, Putri duduk tapi pandangannya tidak pernah lepas dari baby Riska. Putri masih tak percaya sudah diberi kepercayaan untuk mengurusnya.
" Sayang.. semuanya udah mas masukin ke dalam.. Mas langsung ke toko ya soalnya, udah mau jam makan siang anak-anak harus gantian istirahat.. " Beni mengecup kening Putri, dya menggendong baby Riska sebentar dan berlalu meninggalkan rumah.
Setelah menidurkan baby Riska Putri keluar untuk makan siang bersama mamah. bi Mun sudah menyiapkan semuanya di meja, ada sayur lodeh, ikan kembung bakar sama sambel goreng kesukaan Putri.
" Mamah ga kemana-mana hari ini? Putri seneng sekarang mamah lebih banyak di rumah" Putri mulai menyendokan nasi ke piring mamahnya.
" Mamah pengen liat Riska tumbuh besar sama kamu, biar nanti kalo kamu hamil lagi ga repot sendiri ngurus dya".
" Makasih ya mah.. " Putri tersenyum.
Setelah membereskan piring di meja, seperti biasa Putri menemani bi Mun cuci piring. Walaupun sering dilarang Putri dengan senang membantu setiap pekerjaan bi Mun.
gubrak...
Putri terjatuh di lantai.
" Non.. non Putri kenapa.." bi Mun berusaha membangunkan Putri.
" Nyonya.. tolong.. non Putri pingsan.." bi Mun berteriak sebisanya supaya mamah Putri menolongnya.
" Masya Allah.. Putri kenapa bi.. " mamah menolong bi Mun menopang badan Putri supaya bisa dibaringkan di sofa.
" bi Mun juga gatau nyonya.. tiba-tiba non Putri pingsan.. mungkin dya kecapean.. " bi Mun menggosok gosokan minyak kayu putih ke hidung Putri.
Tidak berapa lama, Putri terbangun. Mukanya pucat sekali, mamah akan menelpon dokter keluarga untuk memeriksa keadaan Putri. Namun, Putri menolaknya, dya hanya merasa terlalu capek beberapa hari ini apalagi setelah pulang dari Bandung kemarin.