My Life My Adventure

My Life My Adventure
Kebencian Tyas



Keesokan hari


Tyas berusaha mengingat kembali kejadian kemarin, saat dya membuka dompet Beni dan melihat foto Beni bersama istri dan anaknya. Airmata Tyas kembali mengalir.


------------------


Rumah sakit


" Hari ini kita pulang sayang, jangan sakit lagi ya. Ayah sedih kalo Riska sakit, mamah juga kasian begadang terus nunggu kamu" Beni menggendong Riska dari tempat tidurnya menuju mobil.


Setelah mengantar Putri dan Riska ke rumah, Beni meminta izin untuk pergi ke toko. Beni belum mengecek keadaan toko dari kemarin, sibuk dengan urusan Riska di Rumah sakit.


Selama di perjalanan, Beni mencoba menelpon Tyas. Tapi, Tyas tak pernah menjawab telpon Beni. Pesan, voice call, semua usaha Beni tidak membuahkan hasil. Tyas tetep tidak memberinya kabar.


Beni mencoba menemui Tyas di tempat kosnya, tapi Beni kecewa karena ibu kos memberitahu Beni bahwa kemarin Tyas telah pergi dan menitipkan kunci kamarnya.


" Kamu dimana Yas? kenapa ga ada kabar? Apa kamu pulang ke rumah?" Beni membanting setir mobilnya.


----------------


Beberapa hari ini Tyas tak pernah keluar kamarnya, sesekali hanya untuk makan, mandi dan sholat. Selebihnya dya mengurung diri di kamarnya.


" Aku ga boleh terus-terusan terpuruk seperti ini, aku harus bangkit. Waktu ga akan pernah bisa kembali, aku harus cari jalan keluar". Tyas bangkit dari tempat tidurnya.


Tyas membuka hp dan mulai menelpon Beni.


" Kamu kemana aja Yas? kenapa baru kasih kabar? aku khawatir dari kemarin" .


" Aku baik-baik aja, aku pulang ke rumah. Kamu bisa jemput aku sekarang?" jawab Tyas sambil menutup telponnya.


Beni segera berlari menuju mobilnya dan tanpa berfikir panjang langsung menuju rumah Tyas. Rasa khawatir yang selama ini ada seketika hilang saat mendengar suara telpon Tyas tadi.


Beni khawatir Tyas akan melakukan hal aneh setelah mengetahui dirinya telah menikah. Tapi Beni sangat senang karena sekarang Tyas akan kembali ke Jakarta.


" Kalian ada masalah apa Ben? beberapa hari ini Tyas lebih banyak menghabiskan waktu di kamar dan menangis, hubungan kalian baik-baik aja kan?" tanya sang mamah yang khawatir.


" Hanya sedikit salah faham mah, buktinya sekarang Beni kesini mau jemput Tyas balik lagi ke Jakarta" jawab Beni.


" Yasudah kita ngobrolnya di dalem aja ya" mamah mempersilahkan Beni masuk.


Tyas yang sudah mempersiapkan tasnya sudah menunggu Beni daritadi. Mata Tyas masih merah karena menangis dari kemarin, tapi Beni tak banyak bertanya karena dya tahu pasti Tyas masih marah padanya akibat kejadian kemarin.


Mamah membuatkan teh untuk Beni, setelah itu pamit ke toko karena ayah akan menjemput Romi pulang sekolah.


" Kamu baik-baik aja kan Yas? kenapa aku telpon ga pernah kamu angkat? aku takut kamu kenapa-kenapa" Beni mendekati Tyas yang sedang melamun.


" Aku cuma kaget, sebenarnya banyak yang ingin aku tanyakan sama kamu tapi ga disini. Aku ga mau mamah tau kalo kamu seorang pria beristri dan sudah punya anak" .


Tyas berdiri dan meninggalkan Beni, sambil membawa tasnya ke mobil.


Setelah pamit kepada mamah, Tyas dan Beni langsung menuju Jakarta. Sepanjang jalan tidak ada obrolan apapun, Tyas hanya melihat ke arah jendela tanpa mau melihat Beni. Benipun seakan mengerti kemarahan Tyas yang belum reda, Beni sesekali hanya melirik Tyas.


Tak terasa, mereka berdua sampai di tempat kos Tyas. Tyas membantu Beni membawa tasnya dan menuju rumah ibu kos untuk mengambil kunci kamar.


Setelah mereka berdua sampai, Tyas langsung merebahkan dirinya di kasur karena merasa lelah sekali. Beberapa hari di rumah, Tyas hanya menangis dan memikirkan Beni, entah bagaimana sebaliknya dengan Beni.


Melihat Tyas, Beni berniat untuk minta izin kembali ke toko. Tapi Tyas menarik tangan Beni dengan cepat.


" Duduk dulu sebentar, banyak yang mau aku tanyakan" tangan Tyas menunjuk ke kursi depan.


" Aku tau kamu minta penjelasan soal fotoku bersama istri dan anakku Riska. Ceritanya panjang Yas sampe aku bisa berbuat kaya gini sama kamu. Bukan karena aku jahat, tapi karena aku baru kali ini merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama sama kamu" jawab Beni sambil mencoba meraih tangan Tyas.


Tyas semakin bingung dengan penjelasan Beni, bagaimana seandainya istrinya tau kalo suaminya berselingkuh.