My Life My Adventure

My Life My Adventure
Keseriusan Beni



" Ben, nanti sore ayah ngundang kamu makan di rumah. Kamu bisa ga?" terdengar suara Putri di telpon.


" Ada apa ya Put? ga biasanya".


" Nanti pulang kerja aku ganti baju dulu terus langsung ke rumah kamu ya" jawab Beni.


" Putri tunggu ya Ben" Putri menutup telponnya.


"Ada apa di rumah Putri? apa Putri ulang tahun hari ini?" Beni mengernyitkan dahinya.


--------------------


Rumah Putri


Semua sudah berkumpul di ruang makan, sambil menunggu mamah dan Putri menyelesaikan masakan dan menyiapkan makanan, ayah mengajak Beni ngobrol.


" Gimana kerjaan kamu Ben?".


" Alhamdulillah lancar om" jawab Beni pelan.


" Oiya Ben, sebelumnya om minta maaf. Tapi om pengen tanya keseriusan kamu sama Putri".


" Kalian kan sudah lama saling kenal, apa tidak sebaiknya kalian menikah saja" ayah menepuk pundak Beni sambil tersenyum.


" Ni.. nikah om? Apa Putri mau Beni ajak nikah?" Beni melirik ke arah Putri.


" Ayahnya Putri bener, kalian nunggu apa lagi Ben". Mamah Putri menambahkan.


Beni masih terdiam, dya bingung mau jawab apa sama orangtuanya Putri.


" Beni mau nikah sama Putri om, tante. Kasih Beni waktu 2 bulan buat nyiapin semuanya".


" Beni serius?" Putri nampak senang mendengar jawaban Beni.


" Kita makan dulu ya Ben, tante udah siapin makanan spesial buat kamu, nanti ngobrolnya kita lanjut lagi".


" Makasih om, tante, masakan tante bener-bener enak".


" Yang bener Ben? oiya.. kalo kalian udah nikah nanti tinggal disini aja ya biar mamah bisa masakin Beni terus" mamah terlihat senang mendapat pujian dari Beni.


" Jadi masaknya buat menantu aja? buat ayah ngga nih? hehe.." ayah mencubit tangan mamah Putri sambil tersenyum.


Tak terasa, sudah jam 10 malam. Beni pamit pulang karena besok harus kembali bekerja. Setelah bersalaman kepada Ayah dan mamah Putri, Putri mengantar Beni sampai depan rumah.


" Aku pulang ya Put, terima kasih untuk malam ini" Beni mencium kening Putri.


" Beni serius sama omongan tadi?".


" Beni yakin cuma butuh waktu 2 bulan?" tanya Putri sambil memegang tangan Beni.


" Doain ya.. semoga semuanya lancar" Jawab Beni.


Beni berlalu meninggalkan Putri yang masih terdiam di depan rumahnya. Putri berusaha meyakinkan dirinya kalo Beni adalah jawaban semua doa-doanya selama ini. Putri masih tidak percaya Beni akan menikahinya.


" Aku siap jadi istrimu Ben.. jangankan cuma 2bulan, 2 tahunpun aku rela menunggu" .


--------------------------


Kamar kos Beni


Beni masih tak percaya dengan perkataannya tadi di depan ayah dan mamahnya Putri. Darimana dya punya keyakinan seperti itu, padahal perasaannya pada Putri masih biasa saja.


" kenapa aku bisa-bisanya ngomong minta waktu 2bulan lagi, apa yang harus aku lakukan ya Allah.. apa aku jatuh cinta pada Putri? atau aku hanya ingin membalas budi baiknya selama ini" Beni menghela nafas panjang.


Putri begitu cantik, rambutnya yang panjang, tubuhnya yang ideal, kulitnya yang putih, pasti akan membuat semua mata laki-laki tidak berkedip melihatnya. Tapi entah kenapa Beni tidak sedikitpun merasakan jatuh cinta kepada Putri.


Selama 6 bulan berpacaran, Beni hanya merasa nyaman dekat dengan Putri. Nyaman seperti teman dekat, Beni tidak merasakan benih-benih cinta walaupun sering bersama dengan Putri.


" Mudah-mudahan keputusan aku bener menikahi Putri, 2bulan bukan waktu yang lama.. Aku akan berusaha menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dengan omongannya.. bismillah" .