My Life My Adventure

My Life My Adventure
Kecelakaan



Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu Beni tiba yaitu hari wisudanya. Setelah sidang selesai, Beni dengan gembira menelpon orangtuanya di kampung untuk memberitahukan kelulusannya.


Namun, beberapa kali Beni menelpon tak pernah di angkat. Beni mulai cemas, bertanya-tanya ada apa dengan kedua orangtuanya. Tak biasanya telpon Beni dibiarkan begitu saja.


Beni segera menelpon no Wawan, tetangga rumahnya untuk memastikan apa yang telah terjadi di rumah.


Betapa kagetnya Beni saat Wawan memberitahu bahwa kedua orangtuanya Beni kecelakaan hendak menuju Jakarta menemui Beni. Namun, di tengah perjalanan bus yang dikendarai orangtua Beni mengalami rem blong dan beberapa orang di dalamnya mengalami luka parah termasuk orang tua Beni.


Beni terkulai lemas mendengarnya, lalu segera bangun dan merapihkan pakaiannya menuju kampung. Sepanjang perjalanan perasaan Beni tak menentu, membayangkan apa yang telah terjadi kepada kedua orangtuanya.


Ting tong suara hp Beni berdering.


" Ben, kamu dimana? ini sudah sore, kamu ga masuk kerja? tanya Fadly, teman kerja Beni di restoran.


" Aku lupa ngasih tau, orangtua aku kecelakaan minta tolong kasih tau mba Weni ya Fad, aku panik jadi langsung berangkat naik bus. Ini baru setengah perjalanan" ucap Beni.


" Ya Allah.. apa yang terjadi Ben? Gimana wisudamu besok kalo kamu pulang ke kampung" Fadly menutup telponnya.


Setelah meminta izin kepada mba Weni, perihal Beni tidak masuk kerja, Fadly melanjutkan pekerjaannya. Mba Weni adalah manager restoran, dya sangat baik kepada semua pegawai, tidak pernah membedakan pegawai lama dan yang baru.


-----------------


Rumah sakit


Beni berlari turun dari bus menuju Rumah sakit tempat orangtuanya dirawat. Langsung menuju UGD sesuai info dari Wawan karena kondisi orangtuanya masih belum sadar.


Setelah sampai di pintu UGD, Beni melihat ayah dan ibunya ada disana. Air mata Beni tanpa terasa menetes membayangkan apa yang terjadi kepada orangtuanya.


Wawan yang baru pulang dari kantin langsung mendekati Beni yang sedang melamun daritadi. Wawan menjelaskan bahwa orangtua Beni banyak sekali kehilangan darah, berdoa semoga Allah memberi keajaiban kepada mereka.


Beni bingung, darimana dya punya uang untuk biaya orangtuanya di Rumah sakit. Beni langsung menelpon Fadly, berharap dya bisa menolong.


" Fadly, aku butuh bantuan. Aku butuh pinjaman uang 5jt, uangku ga cukup buat bayar biaya Rumah sakit orangtuaku. Apa kamu bisa bantu? " tanya Beni cemas.


" Aku ga punya kalo segitu Ben, paling aku bisa bantu 1jt itupun uang tabungan aku selama kerja disini. Bagaimana kalo aku minta tolong mba Weni, siapa tau dya bisa bantu masalah kamu Ben" .


Setelah menemui mba Weni, Fadly memberi kabar Beni, dya dapet sumbangan dari mba Weni sebanyak 2jt. Fadly langsung mentransfer uangnya ke rekening Beni.


Beni berterima kasih kepada Fadly dan mba Weni karena mau menolongnya, namun Beni masih bingung dimana dya harus mencari uang sisanya. Beni melihat hp nya, terlintas untuk meminta tolong kepada Putri tapi Beni bingung harus bilang apa.


Walaupun gemetar, Beni mulai menelpon no Putri. Dengan penuh harap Putri bisa menolongnya.


" Put, lagi dimana? apa aku boleh minta tolong sama kamu" suara Beni membuka pembicaraan.


" Aku di rumah Ben, kamu kenapa? mau minta tolong apa? kalo Putri bisa pasti bantuin Beni" Putri nampak kebingungan.


" A.. a.. aku mau pinjem uang 2jt Put, orangtua aku kecelakaan aku bingung mau pinjem lagi ke siapa. Maaf aku udah lancang nelpon kamu" .


" Kamu sekarang di kampungmu Ben? di Rumah sakit mana? aku segera kesana" Putri menutup telponnya.


Putri langsung menuju mobil, sedikit panik mendengar kabar dari Beni. Tak lupa Putri menelpon mamahnya untuk memberitahu kalo Putri menuju kampungnya Beni agar sang mamah tidak khawatir.


Beruntung kampung Beni tidak begitu jauh dari Jakarta, setelah sampai Putri langsung mencari ruangan UGD. Sedikit berlari mencari dimana Beni. Putri melihat Beni yang sedang tertunduk di depan pintu UGD seperti sedang menangis.