
Beberapa tahun yang lalu..
Beni dan Putri kuliah di tempat yang sama, namun mereka beda jurusan. Putri jatuh hati pada Beni semenjak mereka bertemu waktu ospek, tapi Beni tidak merasakan hal yang sama.
Putri adalah anak satu-satunya dari keluarga Pramana, pengusaha kaya di daerahnya, sedangkan sang mamah adalah salah satu sosialita dengan segudang kegiatan di lingkungannya.
Putri jarang sekali berkumpul dengan mamah dan ayahnya, karena kesibukan masing-masing. Putri tumbuh dewasa bersama bi Mun pengasuh sekaligus pelayan di rumah mamah Putri. Hanya sesekali Putri bisa merasakan kumpul keluarga, itupun jika sang ayah dan mamahnya sedang tidak ada kegiatan sama sekali.
Bergelimang harta tidak menjadikan Putri anak yang sombong, Putri lebih memilih menghabiskan waktunya di panti asuhan bersama dengan anak yatim asuhannya. Tak jarang uang saku yang diberikan orangtuanya Putri sumbangkan ke panti.
Putri sudah akrab sekali dengan ibu panti, karena hampir tiap minggu Putri menyempatkan datang walaupun cuma sebentar.
Putri salah satu mahasiswa yang pandai di jurusan akuntansi, selain ramah, Putri tak pelit untuk berbagi ilmu dengan teman-temannya di kelas.
Sedangkan Beni adalah salah satu mahasiswa terbaik penerima beasiswa di kampus. Dulu, Beni sempat keluar masuk pabrik. Bekerja untuk menghidupi diri sendiri dan mengirimi uang untuk orangtuanya di kampung. Namun, Beni merasa pekerjaannya tak pernah bisa lebih dari operator mesin, keinginannya untuk bekerja menjadi orang kantoran tak pernah tercapai karena mengingat ijazahnya yang hanya sampai SMA.
Dengan tekad yang kuat, Beni mengikuti beberapa program beasiswa di beberapa kampus ternama. Dan akhirnya Beni diterima di kampus ini.
Untuk kebutuhan sehari-harinya Beni bekerja paruh waktu di sebuah restoran tidak jauh dari tempat kosnya. Walaupun sibuk bekerja, Beni tidak pernah lupa untuk belajar.
-------------
Restoran
Putri sedang asyik dengan laptopnya, tiba-tiba pelayan datang membawa menu. Putri kaget karena pelayan itu adalah orang yang sangat dya kenal yaitu Beni.
" Ben, kamu kerja disini? aku pengen jus alpukat aja. Aku ga lama ko disini, nunggu mamah jemput" Putri tersenyum pada Beni.
Setelah menyelesaikan billnya Putri pamit kepada Beni karena sang mamah sudah berada di depan restoran. Semenjak itu, Putri jadi sering mampir ke tempat kerja Beni, sekedar melihat Beni dari jauh karena Putri tak ingin mengganggu pekerjaan Beni.
Entah kenapa Beni tak pernah membalas senyum Putri, dya tidak mempunyai perasaan yang sama. Pernah Putri mengajak Beni ngobrol, Beni selalu beralasan sibuk dengan pekerjaan atau tugas kuliahnya. Beni merasa minder karena Putri adalah anak orang kaya, sedangkan dya, untuk makan saja harus bekerja dulu.
-------------------
Rumah
tok tok
" Tumben mamah udah pulang jam segini" Putri mempersilahkan mamahnya masuk.
" Mamah tadi cuma arisan sayang, udah beres ya langsung pulang. Mamah kangen pengen ngobrol sama kamu" jawab sang mamah.
" Putri lagi suka sama cowok mah, tapi kayanya dya ga suka sama Putri. Dya anaknya pinter, di kampus dapet beasiswa loh. Dya juga kerja paruh waktu di restoran yang biasa Putri datengin.. " Putri nampak senang bisa bercerita dengan mamahnya.
" Mungkin dya takut sayang, takut kalo ga diterima di keluarga kita.. Padahal mamah sama ayah juga dulu orang biasa, kita nikah karena dijodohin sama nenek kamu. Tapi mamah selalu kasih semangat ke ayah, sampe bisa kaya sekarang itu ga mudah sayang.. Bi Mun saksi hidup perjuangan mamah sama ayah bisa dapetin kehidupan sekarang" cerita mamah sambil menangis.
" Sepertinya begitu mah.. Tiap kali Putri ajak ngobrol Beni ga pernah mau, selalu ada aja alasannya" Putri lalu memeluk mamahnya.
" Yaudah.. jangan dulu mikirin Beni, kalo Putri berjodoh dya ga bakal kemana-mana. Fokus dulu sama kuliah Putri ya, mamah pengen Putri jadi kebanggaan mamah sama ayah. Walaupun kadang waktu mamah ga banyak buat Putri. Tapi, percayalah semua itu buat kebaikan kamu juga" mamah menghujani Putri dengan ciumannya.