My Life My Adventure

My Life My Adventure
Petaka 2



Pagi ini nampaknya Beni sudah datang menjemput Tyas untuk pindah ke tempat kos Baru.


Tyas membawa beberapa tas besar, dya nampak kesulitan membawanya menuju mobil Beni. Sementara Beni membawa tv dan pamit memberikan kunci kepada penjaga kos.


Beni dan Tyas berjalan menuju mobil yang tak jauh parkir di depan tempat kos.


" Gimana keadaan mamah kamu Ben? kayanya sekarang sering sakit sampe kamu suka pergi tiba-tiba dan ga balik lagi".


Tanya Tyas sambil melihat Beni yang sedang serius menyetir.


" Udah mendingan Yas, maklum udah tua jadi beliau harus dijaga extra. Aku cuma takut beliau kenapa-kenapa, kamu ngerti kan" jawab Beni sambil meraih tangan Tyas.


----------------


Tempat Kos


Tyas dan Beni sudah sampai di tempat kos yang baru, dengan muka lelah Tyas menuju lantai atas sambil membawa barang-barangnya disusul Beni yang sudah memegang kunci kamar.


Setelah selesai membereskan pakaiannya ke lemari dan menata semua perabot Tyas merebahkan badannya ke kasur. Berharap ini tidak akan terjadi lagi, karena pindah kos itu sangat menguras tenaga.


Beni terlihat serius menerima telpon di teras depan, Tyas yang penasaran sedikit mendengarkan obrolan Beni di balik pintu dengan hati-hati takut ketauan.


" Gimana keadaan Riska sekarang Put? apa demamnya sudah turun? Aku nganter temen pindah kos dulu sebentar, nanti langsung nyusul ke Rumah sakit".


Terdengar suara Beni yang sedikit cemas setelah menerima telpon, entah apa yang terjadi.


" Put? Riska? Siapa mereka? Siapa yang di rumah sakit? bukannya mamah Beni yang sakit? jadi selama ini aku cuma di anggap temen sama Beni" Tyas nampak kecewa mendengarnya.


Setelah selesai menelpon, Beni masuk ke dalam. Untung Beni tidak menyadari Tyas yang mendengarkan pembicaraannya di telpon tadi.


Beni langsung masuk ke kamar mandi, Tyas yang masih bingung dan menyimpan banyak pertanyaan di kepalanya seakan mendapat ide saat melihat dompet Beni di atas meja.


Dengan rasa penasaran yang tinggi, perlahan Tyas membuka dompet Beni. Betapa kagetnya saat Tyas melihat foto Beni bersama seorang perempuan cantik berkerudung dan anak kecil.


Tak terasa air mata Tyas menetes, Tyas merasa selama ini telah dibohongi Beni.


" Mereka siapa? istri dan anak Beni? kenapa selama ini Beni bilang masih sendiri? apa maksud semua ini" ucap Tyas dalam hati.


Setelah keluar dari kamar mandi, Beni kaget melihat Tyas yang sedang memegangi fotonya bersama sang istri. Beni tidak tau semuanya akan seperti ini.


Beni menghampiri Tyas yang sedang menangis sambil memeluknya, tapi Tyas melepaskannya dengan cepat.


" Aku minta semua penjelasan tentang ini Ben? Siapa mereka? Siapa sebenarnya yang sedang sakit? Apa maksud kamu ngelakuin ini semua?".


" Mereka itu anak sama istriku".


Tangis Tyas semakin menjadi mendengar perkataan Beni.


" Aku bisa jelasin semuanya Yas, berhenti dulu nangisnya.


Waktu aku liat foto kamu di Facebook entah kenapa aku langsung suka sama kamu. Makannya aku langsung kirim pesan, telpon sama ngajak kamu ketemuan. Ternyata perasaan itu tumbuh saat kita semakin dekat, perasaan pengen milikin kamu, pengen terus sama kamu" jawab Beni.


" Dimana hati kamu Ben? kamu udah nikah, udah punya anak sama istri tapi kenapa kamu lakuin semuanya sama aku. Aku udah serahin semuanya sama kamu. Waktu, perhatian sama yang paling penting aku serahin kesucian aku sama kamu" .


Tyas memukul-mukul badan Beni sekencangnya, Tyas sudah tak bisa lagi menahan semua amarahnya.


Badan Tyas perlahan lemas dan Tyas pingsan. Beni bingung, apa yang harus dya lakukan? Sementara Putri, istrinya sedang menunggu di Rumah sakit.