
Putri menghampiri Beni di depan pintu UGD, tanpa sadar Beni langsung memeluk Putri. Putri yang kaget hanya bisa terdiam, Putri merasakan kesedihan Beni karena orang tuanya yang belum sadar.
" Orangtua aku Put.. mereka kecelakaan.. mereka mau ngasih kejutan di wisuda aku besok, tapi apa yang terjadi" Tangis Beni pecah di depan Putri.
" Kamu yang tenang Ben.. kita doain orang tua kamu cepet siuman dan bisa kembali sehat ya Ben. Jangan mikir macem-macem, semuanya udah jadi ketentuan Allah" Putri menenangkan Beni.
Setelah sedikit tenang, Putri pamit ke kantin untuk membeli makan dan minum khawatir Beni belum makan dari tadi. Semua biaya perawatan orang tua Beni, sudah Putri selesaikan.
" Kamu makan dulu, jaga kesehatan jangan sampe sakit Ben. Besok kan kita wisuda, kamu pulang dulu kan ke Jakarta" Putri mendekati Beni sambil memberikan makanan yang dya beli di kantin.
" Gatau Put, mana mungkin aku ninggalin orang tua aku dengan keadaan kaya gini" jawab Beni.
Tak terasa waktu sudah mulai sore, Putri pamit pulang kepada Beni, Putri juga takut mamahnya khawatir.
" Ben, aku pamit dulu ya. Takut kemaleman sampe Jakarta. Kalo ada apa-apa cepat kabarin Putri ya, jangan sungkan. Putri juga temen Beni kan" Putri tersenyum.
" Makasih ya Put, maaf udah ngerepotin. Kamu hati-hati di jalan, salam juga buat orang tua kamu" .
Beni melangkahkan kakinya mengantar Putri menuju parkiran mobil, setelah memastikan mobil Putri meninggalkan Rumah sakit, Beni kembali menuju ruang UGD tempat orangtuanya dirawat.
Beni hanya bolak balik di depan pintu pintu, dya tidak bisa tidur. Sementara kedua orangtuanya belum menunjukkan reaksi apapun daritadi, mereka masih koma.
-----------------
Wisuda
Semua mahasiswa gembira merayakan hari ini, hari yang sudah ditunggu-tunggu setelah beberapa tahun menuntut ilmu di Universitas ini. Putri tampak cantik memakai kebaya berwarna pink, ditemani kedua orangtuanya di sampingnya. Putri gelisah karena tidak melihat keberadaan Beni. Namun, dya sadar Beni tak mungkin meninggalkan orangtuanya yang belum sadar di Rumah sakit.
Setelah selesai acara, Putri langsung menelpon Beni. Beberapa kali dya menelpon tak ada jawaban, akhirnya setelah kembali mencoba Beni menjawab panggilan Putri.
" Innalilahi..." tanpa sadar hp Putri terjatuh, Putri menangis memeluk mamahnya.
Setelah pulang dan mengganti pakaiannya, Putri ditemani mamah dan ayahnya segera ke rumah Beni melihat pemakaman orangtuanya. Putri menceritakan apa yang terjadi pada orangtua Beni kemarin, mamah Putri ikut menangis mendengar Putri bercerita.
Sepanjang perjalanan Putri hanya terdiam, sesekali menangis mengingat apa yang telah dialami Beni.
" Seandainya semua ini terjadi pada Putri, apa Putri akan kuat? Ditinggal pergi selamanya sama orang tua tersayang di saat Putri akan diwisuda" Putri kembali menangis dan menutup matanya.
Mamah mencoba memeluk Putri dan menenangkannya. Ayah hanya mencoba fokus menyetir, memastikan mereka selamat sampai rumah Beni. Mencoba tetap tenang, walaupun ayah melihat istri dan anak kesayangannya menangis mengingat apa yang di alami Beni.
-----------------
Rumah Beni
Putri dan kedua orangtuanya masuk dan mendekati Beni yang sedang mengaji. Ayah Putri langsung memeluk Beni, seakan beliau merasakan kesedihan Beni. Putri dan mamahnya hanya melihat ke arah Beni.
Setelah selesai pemakaman, Beni mengajak Putri dan orangtuanya mengobrol.
" Ben, kapan mau balik lagi ke Jakarta. Gimana sama kerjaan kamu disana? tanya Putri.
" Mungkin aku 3 hari lagi disini, aku sudah meminta izin pada Fadly dan mba Weni untuk istirahat sementara sambil memulihkan badan" suara Beni masih terdengar lemah.
" Putri, mamah sama ayah pamit ya kalo gitu.. Beni jangan lupa telpon Putri kasih kabar, Beni jangan ngerasa idup sendirian. Masih banyak orang-orang di sekitar Beni yang merhatiin Beni. Tetep semangat ya Ben".
Merekapun berpamitan kepada Beni, Beni merasa semuanya begitu cepat. Baru kemarin Beni minta izin orang tuanya kuliah, sekarang Beni ditinggal untuk selama-lamanya.