
" Itulah semua tentang Putri dan Riska.." .
Tyas masih terdiam setelah mendengar penjelasan Beni mengenai istri dan anaknya.
" Usia Riska sekarang 2 tahun, tapi Putri belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan" Beni menambahkan.
" Tapi itu bukan alasan kamu untuk selingkuh Ben.. Kamu juga udah cinta kan sama Putri, walaupun pada awalnya kamu bilang kamu ga punya hati sama dya" Tyas menahan marahnya.
" Terus alasan kamu buat terus sama aku apa Ben.. apa.." Tyas menundukan kepalanya, air matanya menetes setelah tertahan mendengar semua cerita Beni mengenai keluarganya.
Beni membiarkan Tyas menangis, Beni tau betapa kecewanya Tyas sekarang. Tapi Beni tidak bisa membohongi perasaannya sendiri, dya memang mencintai Putri, tapi dya juga ga mampu melepaskan Tyas sekarang.
" Aku juga cinta sama kamu Yas.. aku ga bisa jauh dari kamu walaupun ada Putri.." Beni mencoba menenangkan Putri, Beni memeluk Tyas.
" Tapi hubungan kita ini ga seharusnya ada Ben.. " Tyas menangis di pelukan Beni.
Tyas sudah mulai tenang, Beni membuatkan susu hangat untuk Tyas. Tidak berapa lama Beni pamit karena rasanya sudah terlalu malam. Tyas hanya diam tanpa mengatakan apa-apa saat Beni keluar dari kamarnya.
Tyas mengambil wudhu untuk menenangkan dirinya saat ini, dya gatau harus cerita sama siapa. Tyas ga mungkin cerita sama mamahnya masalah ini, Tyas merasa cuma Allah yang ada di fikirannya sekarang.
" Ya Allah.. aku tau semuanya salah, tapi izinkan aku untuk keluar dari semua masalah ini.. aku tau aku juga mencintai Beni tapi ini ga seharusnya.. dya punya istri dan anak yang sangat dya sayangi.. biarlah aku yang akan berkorban.. beri hamba jalan keluar ya Allah.. agar semuanya tidak semakin rumit.." Tyas kembali meneteskan air matanya, mungkin dengan menangis akan membuatnya lebih tenang.
-----------------
Pagi Hari
" Hei.. Lu dimana sekarang Yas.. Gue sekarang pengangguran nih butuh kerjaan, gue udh ga punya duit buat beli skincare.. hahaha.. " pesan masuk di hp Tyas.
Tyas langsung menelponnya, tut.. Tut.. Tut.. tidak berapa lama terdengar suara di seberang sana.
" Alunaaaaaa.. Lu kemana ajaaaa.. gue kangen..." Putri yang awalnya menelpon Aluna, tiba-tiba menggantinya ke mode video call.
Aluna, sahabat Putri dari waktu sekolah SD, dya tinggal tidak jauh dari rumah Putri. Mereka terpisah karena Aluna bekerja di Bandung. Setelah beberapa lama, dya baru memberi kabar.
" Apaan sih Yas.. pake teriak segala.. Lu mau kuping gue congean hah.. " Aluna melotot ke arah Hp nya.
" Lu dimana sekarang? sini ke Jakarta.. gue butuh temen cerita.. ".
" Gue d rumah.. kaga punya duit Yas.. kan gue bilang udah jadi pengangguran.. hahaha" Aluna memutar hpnya menunjukkan isi kamarnya ke Tyas.
" Lu naik taksi.. nanti gue share lokasinya.. ongkos gue bayar disini.. ga pake lama lu siap-siap sekarang.. " Tyas langsung menutup video callnya.
Aluna masih bingung dengan sikap Tyas yang ga biasanya, tapi dya buru-buru merapihkan beberapa baju dan barang bawaan lainnya untuk pergi ke Jakarta bertemu Tyas. Setelah pamit kepada ibu dan ayahnya, Aluna mencari taksi seperti yang Tyas suruh.
Setelah menunggu, akhirnya taksi biru datang juga. Aluna langsung masuk dan memberikan alamat yang akan mereka tuju sekarang. Sepanjang perjalanan, Tyas menelpon Aluna untuk sekedar bertanya dya sudah sampai mana.
" Yaudah gue keluar sekarang.. Tunggu di depan.." Tyas mendapat telpon dari Aluna, dya bilang taksinya beberapa menit lagi sampai ke tempat kos Tyas.