
3 bulan berlalu,
Sudah seminggu ini Putri selalu cepat merasa lelah dan pusing di pagi hari. Tapi dya tidak pernah menceritakannya kepada siapapun.
Pagi ini setelah mengantarkan Beni ke depan tiba-tiba Putri pingsan. Bi Mun panik karena di rumah cuma ada dirinya dan Putri saja. Ayah Putri tadi subuh sudah pergi ke luar kota urusan kantor dan sang mamah menemaninya.
Beberapa kali ditelpon Beni tidak mengangkatnya, mungkin karena sedang menyetir juga. Setelah mencoba terus dan mencoba menelpon Beni, akhirnya Beni mengangkat telponnya setelah menepikan mobilnya di bahu jalan.
" Kenapa Put.. mas masih di jalan belum sampe kantor.."
" Mas.. mas Beni.. non Putri pingsan mas.. bi Mun bingung harus gimana.. di rumah ga ada siapa-siapa mas.." nafas bi Mun terengah-engah sambil memegangi badan Putri yang terkulai lemas.
" Tunggu bi, saya langsung pulang" Beni kaget, dya langsung berbalik arah dan melajukan mobilnya dengan cepat.
-----------------
Rumah
Sepanjang jalan Beni tidak bisa tenang mengingat Putri yang tiba-tiba pingsan di rumah. Setelah memarkirkan mobilnya, Beni berlari masuk ke dalam rumah. Disana nampak bi Mun yang sedang memijit-mijit tangan Putri.
Muka Putri pucat sekali, tapi dya sudah sadar dari pingsannya.
" Kamu kenapa? muka kamu pucat sekali Put" Beni berjalan mendekati Putri, dya memegang kening Putri memastikan Putri tidak demam.
" Gatau mas.. belakangan ini Putri suka cepet capek, Putri juga sering banget mual.. mungkin masuk angin" Putri berlari ke kamar mandi karena merasa perutnya tidak enak.
Bi Mun hanya diam saat Beni panik melihat Putri yang mual-mual di dalam.
" Selamat ya mas Beni, sebentar lagi mau jadi ayah.." Bi Mun tersenyum.
" ayah.. memangnya Putri hamil ya bi? Alhamdulillah.." Beni langsung mengetuk pintu kamar mandi, mamastikan Putri di dalam baik-baik saja.
Setelah mengganti pakaiannya, Beni mengajak Putri periksa ke dokter kandungan karena tadi bi Mun bilang itu tanda-tanda hamil muda. Beni izin kerja hari ini karena ingin menemani Putri ke Rumah sakit.
--------------
" Silahkan di tespeck dulu ya Bu.. untuk mastiin aja" dokter Resti memberikan tespeck pada Putri.
Beberapa menit kemudian,
" Ini dok.. " Putri memberikan tespecknya.
" Selamat ya pak.. istri anda sedang hamil.. Sudah masuk Minggu ke 5". Dokter memperlihatkan tanda garis dua biru kepada Beni dan Putri untuk memastikannya.
" Alhamdulillah..." Suara Putri dan Beni berbarengan.
" Makasih ya dok.. kami pamit" Beni dan Putri keluar dari ruangan dokter, Beni memegang tangan Putri sambil menciuminya. Beni senang sekali mendapat kado terindah dari Putri.
Di mobil, Putri teringat pada mamah dan ayahnya yang sedang berada di luar kota. Putri langsung menelpon no mamahnya.
" Assalamualaikum.. mamah dimana sekarang?".
" Waalaikum salam sayang.. Mamah sama ayah baru sampe hotel.. baru beberapa jam ga ketemu kamu udah kangen aja ya..".
" Putri mau kasih kabar gembira buat mamah.. ".
" Putri.. Putri hamil mah".
" Alhamdulillah.. akhirnya mamah mau jadi nenek.. Mamah jadi pengen cepet pulang Put".
" Cepet pulang mah.. jangan lama-lama nanti Putri ga ada temen ngobrol.. mamah lanjutin istirahat ya.. Putri lagi di jalan mau pulang ke rumah" Putri menutup telponnya.
Sepanjang perjalanan Putri hanya tersenyum sendiri sambil sesekali memegang perutnya yang masih rata walaupun sudah ada bayi di dalamnya. Beni yang melihat ikut mengelus-ngelus perut Putri dengan pelan.
" Makasih buat kado terindahnya sayang.. ".
" Selamat ya mas bentar lagi mau jadi ayah.. Nanti mau babynya cewe apa cowok mas.. " Putri menatap wajah Beni.
" Apa aja Put, yang penting babynya sehat.. "