
2 bulan sudah Beni menjalankan usaha barunya di bisnis Hp. Dya sangat puas dengan hasil yang dya capai.
" Sepertinya harus cari orang buat bantu Yudi disini.. aku juga ga bisa terus disini seharian.. sepertinya cukup kalo nmbah 1 orang lagi".
Beni melanjutkan aktivitas m-bankingnya di hp, selama ini Beni telah dipercaya beberapa distributor hp dan agen pulsa untuk bekerja sama dengan mereka.
Setiap ada Hp baru atau sekedar berbagi info Beni selalu mendapat update tiap waktu, Beni tidak perlu capek mondar mandir belanja kebutuhan toko. Setelah menyelesaikan pembayaran, barang akan langsung dikirim melalui kurir.
Bahkan beberapa dari mereka sudah ada yang memberi tempo untuk pembayaran, jadi Beni bisa lebih leluasa menggunakan uangnya untuk keperluan lain.
Beni terbilang sukses untuk orang yang baru memulai usahanya di bidang ini, Beni sudah punya banyak pelanggan tetap, karena Beni tidak mengambil untung terlalu besar dibanding yang lain.
Ting tong
" Mas.. mas Beni.. non Putri mas.. non Putri pendarahan" suara bi Mun memecahkan lamunan Beni.
" Saya segera pulang bi" Beni langsung mengambil kunci mobil dan melajukan mobilnya cepat,
Sepanjang jalan Beni resah, mulutnya tidak berhenti berdoa karena takut sekali mendengar keadaan Putri tadi. Beni langsung berlari masuk ke dalam rumah.
" Kenapa bisa begini bi.. " Beni kaget melihat Putri yang tergeletak di kamar mandi sambil mengeluarkan darah.
" Sa.. saya juga gatau mas.. tiba-tiba saya denger non Putri teriak minta tolong".
" Waktu saya buka pintu non Putri sudah pingsan" bi Mun masih terisak, kedua tangannya memegangi badan Putri yang pingsan.
" Bibi temani saya bawa Putri ke Rumah sakit.. " Beni menggendong Putri masuk mobil dan menidurkannya di pundak bi Mun.
--------------
Rumah sakit
Beni masih tidak percaya apa yang dilihatnya, Putri terkulai lemas karena sudah di kuret. Dokter mengatakan Putri keguguran dan harus segera dilakukan tindakan untuk mengeluarkan janin yang ada di perutnya.
Ting tong
" Astagfirullah.. ko bisa Ben? sekarang kondisi Putri gimana? Beni ada di rumah sakit mana? mamah Putri tak bisa menyembunyikan kepanikannya mendengar sang anak keguguran.
Setelah menjemput ayah Putri di kantor, mereka berdua langsung ke Rumah sakit C. Mamah Putri menangis sepanjang perjalanan, mengingat kandungan Putri yang baru berusia 3 bulan kini harus keguguran.
Sampai di ruang operasi, mamah langsung masuk melihat keadaan Putri.
" Maafin mamah Put.. selalu ga ada di saat Putri butuh" Mamah memegang tangan Putri sambil menciuminya.
" Sudah mah.. jangan nangis.. ini semua sudah ketentuan Allah.. " Ayah menguatkan pundak mamah dan berusaha tetap tegar walaupun hatinya pun sedih melihat anak satu-satunya harus kehilangan calon bayinya.
Setelah menceritakan awal mula kejadiannya kepada orangtua Putri, mamah Putri memeluk Beni, seakan merasakan perih yang Beni rasakan karena kehilangan calon bayinya.
" Sabar ya Ben.. kalian masih muda.. masih bisa punya anak lagi.." mamah menepuk pundak Beni sambil tersenyum.
" Kita sebagai suami harus kuat Ben.. ini ujian untuk rumah tangga kalian.. kalian harus bisa melewatinya" ayah menambahkan.
" Terima kasih mah.. ayah.. maafin Beni gabisa jagain Putri dengan baik.. " Beni menundukkan kepalanya.
" Ga ada yang perlu disalahin Ben.. Mamah juga minta maaf gabisa jagain Putri".
Putri mulai sadar, dya mengedip-ngedipkan matanya dan bingung ada dimana. Dya melihat kedua orangtuanya dan Beni sedang mengobrol.
" Putri dimana ini".
" Sayang.. kamu udah sadar? Beni dan orangtua Putri langsung mendekati Putri yang masih terlihat pucat habis operasi.
" Kamu di Rumah sakit sayang.. kamu keguguran.. bi Mun bilang kamu jatuh di kamar mandi.." mamah menggenggam tangan Putri erat, mencoba menguatkan anaknya.
" apa.. keguguran.. " tangis Putri seketika pecah.
" maafin Putri mas.. mamah.. ayah.. Putri gabisa jaga amanat kalian.. tadi pas masuk kamar mandi Putri pusing, Putri langsung teriak tapi Putri gatau apalagi yang terjadi" Putri memeluk sang mamah sambil menangis. Sedih karena harus kehilangan calon bayinya.
" Putri yang sabar ya.. kalian masih bisa punya bayi lagi nanti.." mamah mengelus rambut Putri dan mencium keningnya.